Senin, 29 Juli 2013

Wyataguna

Kemarin sore saya dan teman-teman seangkatan jurusan mnegadakan buka puasa bersama kawan-kawan tunanetra di Panti Sosial Bina Netra Wyataguna Bandung. Sebenarnya saya tidak ikut serta dalam persiapan penyelenggaraan acaranya, saya hanya datang menghadiri saja. Yang hebat adalah kawan-kawan saya yang berinisiatif untuk ngadain acara ini, yang sangat bagus untuk menumbuhkan rasa insaniyah saling menyayangi sesama manusia. Dan memang disana saya menemui hal-hal yang luar biasa, yang mungkin tidak ada di tempat lain. Sebelumnya saya mau menjelaskan dahulu tentang Panti Wyataguna ini. Jadi, panti ini adalah panti tempat pembinaan keterampilan bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik penglihatan alias tunanetra. Dan hebatnya panti ini merupakan panti rehabilitasi tunanetra terbesar se-Asia Tenggara.

Saya datang lebih awal, tidak bersama rombongan kawan-kawan yang lain. Ternyata setiba disana masih belum ada siapa-siapa. Jadilah saya menunggu sekitar setengah jam sambil duduk-duduk di halte bis depan panti. Pemadangan pertama yang saya lihat, ketika sedang duduk saya melihat ada 2 orang yang berjalan keluar dari halaman panti. Yang satu perempuan berkerudung, yang satu lagi pria menggunakan tongkat. Mereka berjalan sambil berpegangan tangan. Saya yakin yang memegang tongkat mesti seorang tunanetra, dan wanita yang disampingnya adalah orang yang menuntunnya. Namun begitu mereka keluar dari halaman panti dan berjalan di depan saya yang masih dudul di halte, saya baru sadar, ternyata kedua-duanya adalah tunanetra. Dan yang menjadi penuntun adalah sang pria yang menggunakan tongkat. Luar biasa terkejutnya saya melihat hal itu. Saya jadi teringat, apabila listrik di rumah padam maka yang saya lakukan adalah diam di tempat saya, menunggu hingga listrik kembali mengalir. Berjalan pun terasa sangat berat.


http://rinaldimunir.files.wordpress.com/2011/09/100920111698.jpg

Pemandangan kedua. Setelah lama menunggu di halte dan kawan-kawan saya tidak datang-datang juga, saya memutuskan untuk menunggu di masjid, tempat akan dilangsungkan acara buka puasa bersama tersebut. Ketika masuk masjid, hal yang aneh yang saya temui ialah masjid disana sangat berbeda dengan masjid-masjid biasanya. Umumnya masjid dihiasi dengan interior yang menarik, banyak kaligrafi terukir di dinding masjid. Namun, di mesjid Wyataguna, saya tidak menemui satupun kaligrafi yang terukir. Mungkin hanya tulisan Allah dan Muhammad yang terbingkai yang jadi hiasan disana. Kemudian lampu-lampu di masjid tersebut pun tidak banyak, secukupnya saja. Hanya ada di bagian tengah dan pojok-pojok dekat dengan pintu masuk. Dan selanjutnya tidak ada pula rak-rak buku yang biasanya di masjd-masjid lain yang terisi oleh mushaf al Qur'an dan buku-buku agama.

Pemandangan selanjutnya. Acara buka puasa bersama dihadiri oleh siswa-siswa pendidikan formal yang berkisar dari seumuran SD hingga level setelah SMA. Ketika acara berlangsung yang saya amati anak-anak seumuran SD dan SMP berkumpul bersama teman-temannya, dan biasanya mereka berpasangan dua orang, dan seperti anak-anak biasanya mereka saling bercanda, tapi tidak dengan perkataan, melainkan dengan tangan mereka. Mereka saling menjahili satu dengan yang lain, dan tidak terdengar suara. Mungkin itu kebiasaan mereka. Mereka merasa orang lain tidak terganggu dengan gerakan-gerakan mereka, asalkan tidak menimbulkan suara-suara yang berisik. Namun saya yakin, pendengaran mereka jauh lebih fokus dibanding orang biasa yang penglihatannya masih normal.

Pemandangan selanjutnya yang saya ceritakan disini, (sebenarnya masih banyak pemandangan unik, namun tidak semua bisa saya ceritakan) yaitu ketika saya melihat ada seorang tunanetra yang membawa buku berukuran A4 yang di sampulnya bertuliskan "AL QUR'AN BRAILLE JUZ 1". Saya yang penasaran meminjam buku tersebut, kemudian melihat bagian dalamnya. Demi Allah, tidak ada yang bisa saya baca, semuanya berwarna putih, yang ada hanya tonjolan-tonjolan berlubang yang menyusun pola-pola tertentu. Ketika saya tanya bagaimana cara membacanya. Kemudian dipraktekkan oleh si bapak tunanetra tersebut, dengan menempelkan jarinya di bagian-bagian tonjolan tersebut, kemudian baru dia menyampaikan apa yang ia baca. Saya membayangkan apabila saya harus membaca dengan cara itu, tentu sangat sulit. Untuk membaca satu baris mereka membutuhkan waktu sekitar 3 kali lebih lama dibanding orang normal. Namun, begitulah usaha yang harus mereka lakukan. Dan yang dinilai oleh Allah adalah usaha manusia. Bisa jadi mereka khatam 1 juz itu sebanding dengan kita yang mengkhatamkan 30 juz. Hikmah selanjutnya, yaitu perintah Allah untuk membaca "Iqra'" itu ternyata tidak hanya untuk orang yang berpenglihatan normal saja, tapi kepada seluruh manusia. Karena masing-masing orang memiliki cara membaca yang berbeda-beda. Tunanetra membaca dengan meraba, dan orang normal tidak bisa memahaminya dengan mudah. Penglihatan yang kita miliki tidak lebih dari sekadar modal dan ujian bagi kita apakah kita mampu untuk berusaha sebaik mungkin untuk bertakwa sesuai dengan anugerah yang diberikan oleh Allah, dan tentu harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Dan berbeda dengan tunanetra yang lepas satu kewajibannya untuk mempertanggungjawabkan penglihatannya.


http://img.antaranews.com/new/2012/07/ori/20120727festival-alquran-braile.jpg

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imran: 102)
 
 Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Ibrahim: 7)

Minggu, 28 Juli 2013

"yang dipilih, dipilih, dipilih ..."

Jika kita mengamati kehidupan manusia, dan kemudian bertanya, "apakah kehidupan manusia sulit?". Cara menjawabnya, amati kembali kehidupan manusia. Lebih mudah berkacalah dari diri Anda sendiri. Pada waktu masih SD, hari Senin adalah hari yang sangat tidak menyenangkan.

Sebab ia ibarat pemutus kenikmatan, yang sebelumnya kita nikmati di hari Ahad dengan bersantai, nonton film kartun, tidur-tiduran. Pada hari senin, kita harus kembali berdingin-dingin mandi di pagi hari, kemudian sarapan, berangkat ke sekolah, dan duduk di kelas hingga tengah hari.

Sehingga, impian bagi anak SD ialah lulus SD secepatnya, karena mereka menganggap masa SD adalah siksaan, dan masa SMP mereka akan lebih bahagia. Tapi apakah benar mereka bahagia ketika masuk SMP? Ternyata malah tambah berat. Pelajarannya makin tinggi, guru-gurunya makin serius, mata pelajarannya makin banyak.

Kemudian anak SMP kembali bermimpi, masa SMA tentu akan lebih bahagia, karena masa SMA merupakan masa yang paling indah, seperti di film-film remaja. Ternyata setelah masuk SMA, masa SMA jauh lebih menderita lagi. Bahkan tidak satupun prestasi yang bisa diraih ketika SMA, karena saking beratnya.

Begitu seterusnya, ketika memasuki perguruan tinggi. Dengan harapan bisa lebih bebas, ternyata memang benar, waktu untuk kuliah hanya sedikit saja, namun kebanyakan waktu luang tersita untuk mengerjakan tugas kuliah.

http://www.scientificamerican.com/media/inline/D281F570-E7F2-99DF-375B63CA15AA452E_1.jpg

Begitulah kehidupan, selalu saja menjadi terasa sulit. Dari satu jenjang ke jenjang yang lain. Itulah yang diajarkan oleh seorang kuli jika kita mengamatinya. Ia rela mengangkut berton-ton beban dalam sehari, untuk mendapatkan sekadar 40-50 ribu perhari yang mungkin tidak pernah cukup untuk kehidupannya sehari-hari dengan keluarganya.

Begitu pula yang diajarkan oleh anak-anak ojek payung, yang setia menunggu hujan turun dan kemudian menyewakan payungnya dengan harga 3000-5000. Dia rela berhujan-hujan, demi memperoleh sekitar 30.000 perhari, meski dengan resiko terkena demam yang mungkin biaya berobatnya mencapai 50.000.

Di dekat tempat tinggal saya, sedang dibangun apartemen 20 lantai. Pekerjaan ini membutuhkan banyak tenaga kerja, khususnya di bagian pekerjaan kasar, mengecor, menyambungkan kabel-kabel, dan bahkan sampai di ketinggian beberapa puluh meter mereka harus bekerja.

Dengan resiko terjatuh, yang akibatnya adalah cacat seumur hidup atau meninggal. Namun, semua itu dilakukan oleh para pekerja tersebut, bahkan banyak yang datang dari pelosok-pelosok daerah, demi memperoleh upah uang. Bahkan yang lebih kacau lagi ialah yang sering terlihat pada saat shalat Jumat, kita akan masih banyak melihat angkot-angkot yang berkeliaran di jalan raya, meskipun sopirnya adalah seorang muslim, demi memperoleh uang.

Sekarang coba kita pikirkan, untuk apa uang yang dikumpulkan oleh manusia tersebut? Jawabnya simpel, untuk hidup, untuk kebahagiaan hidup. Digunakan untuk makan, beli rumah, beli kendaraan, menyekolahkan anak, dan lain sebagainya. Tapi, coba kita pikir lagi. Berapa lama kita akan hidup?


http://spectrum.ieee.org/img/0831_gold_630x420-1358881868486.jpg

Menurut satu riwayat umur umat Nabi Muhammad tidak akan jauh dari umur Nabi Muhammad. Yaitu 63 tahun. Apakah setelah kehidupan semua urusan selesai? Tidak. Karena ada alam kubur yang harus kita berdiam disana, hingga tiba hari kiamat. Menurut Imam al-Ghazali alam kubur ini lamanya hingga 7000 tahun, yang jauh lebih lama daripada waktu hidup kita di dunia.

Belum selesai sampai disini. Setelah alam kubur, seluruh manusia dikumpulkan di padang mahsyar, suatu daerah yang datar berwarna putih, tidak ada lembah dan bukit disana. Semua manusia dikumpulkan dalam keadaan telanjang.

Dari Aisyah r.a. Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: "Dikumpulkanlah semua manusia di padang mahsyar pada hari kiamat dengan telanjang kaki, telanjang tubuh dan tidak berkhitan kemaluannya." Saya bertanya: "Ya Rasulullah, kalau begitu kaum wanita dan kaum lelaki semuanya dapat melihat antara yang sebahagian dengan sebahagian yang lainnya." Beliau s.a.w. menjawab: "Hai Aisyah, peristiwa pada hari itu lebih sangat
(dahsyat) untuk menjadi perhatian mereka daripada memerhatikan orang lain."
Dalam riwayat lain disebutkan: "Peristiwa pada hari itu lebih penting untuk diperhatikan oleh setiap orang-daripada yang sebahagian melihat kepada sebahagian yang lain."
(Muttafaq 'alaih)


Setelah padang mahsyar apakah selesai urusan manusia? Ternyata belum selesai. Tiap-tiap orang menunggu dengan harap-harap cemas apakah mereka menerima catatan amalnya dari sebelah kanan atau sebelah kirinya. Apabila menerima catatan amalnya dari sebelah kanan, ia masuk surga. Apabila menerima catatan amalnya dari sebelah kirinya, ia masuk neraka. Berapa lama manusia di surga atau neraka? Mereka kekal di dalamnya. Sampai sinilah kehidupan manusia.



http://www.yadain.net/wp-content//2012/07/Maut-Ne-Chupkay-Se-Na-Janay-Kya-Kaha-650x465.jpg

Sehingga, tatkala kita memahami dengan baik hal ini, hal hari akhir ini, maka tidak mungkin kita mengorbankan seluruh hidup kita hanya untuk memperoleh uang, uang, dan uang. Tidak mungkin sopir angkot tadi rela menukarkan masa akhiratnya dengan hanya sekitar 50.000 karena tidak menghadiri shalat Jumat.

Tidak mungkin pula ada koruptor-koruptor yang rela memperoleh uang dengan cara yang haram. Karena yang ditanyakan di padang mahsyar bukan berapa banyak uang yang Anda kumpulkan. Tapi yang pertama ditanyakan kelak, "shalat atau tidak?", Jika tidak shalat maka langsung ke neraka.

Terus kalau begitu apakah kita tidak perlu mencari kebahagiaan dunia? Apakah bisa kita memperoleh kebahagian dari dunia, alam kubur, padang mahsyar, dan surga? Tentu saja bisa. Untuk itulah Islam diturunkan kepada umat manusia sebagai solusi atas permasalahan kehidupan mereka dan setelah kehidupan mereka.

Kita pun telah diajarkan doanya, "Rabbana aatinaa fiddunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wakinaa azabannar." Itu adalah doanya. Lantas bagaimana caranya, apa amal yang harus kita lakukan?

Kuncinya ada di tiga hal. Yang pertama pahami bahwa "hidup adalah pilihan". Pilihan ibarat ketika kita sendirian di suatu tanah lapang, tak ada yang mampu mengendalikan arah berjalan kita kecuali diri kita sendiri. Kita mau berbelok ke kanan atau ke kiri, itu terserah pada kita. Karena itu urusan kita. Sehingga orang lain tidak akan pernah bertanggung jawab terhadap apa yang kita pilih. Hidup kita adalah pilihan kita. Karena itu, hidup kita yang sekarang adalah hasil pilihan kita kemarin.



http://ablebrains.typepad.com/.a/6a00d8341ca86d53ef01348250eaa2970c-800wi

Contoh, kalau ada orang yang mampu membaca al Qur'an dengan baik, tentu kita dapat menyimpulkan bahwa dulunya ia pernah memilih belajar membaca al Qur'an. Jika kita melihat ada orang yang mampu naik sepeda, maka kita bisa tahu bahwa dulunya ia pernah memilih untuk belajar naik sepeda. Sebab tidak mungkin ia bisa naik sepeda tanpa pernah memilih untuk belajar naik sepeda.

Sehingga, kita dapat simpulkan bahwa diri kita pada saat ini merupakan hasil dari pilihan-pilihan yang kita buat di masa kemarin. Dan diri kita di masa depan ditentukan oleh diri kita di masa kini. Sederhana sekali.

Bisa kita umpamakan, jika subuh tadi kita tidak sempat sahur, tentu sekarang kita akan merasa sangat lemas. Namun, karena subuh tadi kita menyempatkan untuk sahur meski dengan terkantuk-kantuk, maka sekarang kita tidak lemas. Sehingga, jika kita ingin berpuasa pada esok hari namun tidak merasa lemas, maka bersahurlah.

Jika kita ingin selamat di alam kubur, maka perbaikilah amal sholeh. Jika kita ingin masuk surga abadi di dalamnya, maka pelajarilah al Qur'an dan sunnah, dan amalkan sebaik mungkin, karena begitu yang diajarkan oleh Rasulullah, orang yang pasti masuk surga.

Yang kedua, pahami dan yakini bahwa "setiap pilihan pasti mempunyai resiko". Memilih untuk menjadi orang jahat, maka resikonya adalah dibenci oleh orang yang baik. Memilih untuk menjadi orang baik, resikonya ialah dibenci oleh orang jahat. Memilih untuk menjadi muslim, maka resikonya adalah harus shalat 5 waktu sehari semalam, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menjalankan seluruh syariat Islam yang ditetapkan Allah melalui Rasulnya. Menjadi orang non-muslim maka resikonya ialah masuk neraka. Sesimpel itu.


http://www.jkpod.com/wp-content/uploads/2013/06/risk-and-reward.jpg

Yang ketiga ialah, "jangan menunda, just do it". Ketika Anda telah menentukan satu pilihan, maka lakukanlah sesegera mungkin yang Anda bisa. Mengapa? Karena waktu Anda tidak banyak. Anda dibatasi oleh yang namanya ajal. Dan repotnya lagi, ajal ini jika akan datang tidak memberi kabar terlebih dahulu. Dia datang pada saat kapanpun. Tidak perduli umur kita berapa.

Bayangkan jika kita telat untuk mengambil pilihan, sementara ajal sudah di depan mata kita. Apakah kita mau wafat dalam kondisi dikenal sebagai seorang yang malas? Apakah mau kita wafat dalam kondisi orang lain sedang membenci kita? Apakah mau kita wafat dalam kondisi shalat kita masih bolong-bolong? Apakah mau kita wafat sementara kita belum menutup aurat dengan sempurna?

Maka ketika muncul keinginan untuk berubah, ingatlah selalu bahwa kita akan bertemu ajal, ingatlah selalu pertanyaan-pertanyaan tadi. Bagi orang yang beriman, mengingat mati itu sudah cukup untuk membuat dia khusyu'. Apakah yang dimaksud dengan orang khusyu'? "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (al Baqarah: 45-46). Itulah khusyu', dan orang yang khusyu' tidak akan mengalami masalah dalam kehidupannya, insyaAllah.

Sabtu, 27 Juli 2013

Just Do It

Berat sekali rasanya untuk menulis malam ini. Tapi tetap harus saya paksakan. Karena memang sudah menjadi komitmen saya untuk menghidupkan lagi blog ini setelah sekian lama tak diisi oleh tulisan-tulisan baru.

Malam ini saya hendak menceritakan satu hal yang sebenarnya sudah sama-sama kita tahu, bahwa hal ini yang menentukan segala sesuatu yang kita kerjakan. Hal ini pula yang menentukan seberapa serius niat di dalam hati kita. Hal itu kita sebut "Proses" (jeng jeng jeng ...)

http://inovision.net/wp-content/uploads/2013/03/process.jpg

Bagi kita yang sudah belajar sedemikan lamanya di atas bangku dan kursi sekolah, tentu sudah tidak asing dengan peran suatu "proses". Apalagi yang bergelut dalam dunia sains dan teknologi, proses merupakan perantara untuk merubah kondisi dari input (masukan) menjadi output (keluaran). Bahkan dalam hal memasak di dapur pun, proses harus tetap terjadi, sekalipun itu hanya memasak air, biar mateng. Ada proses disitu, yakni proses mentransfer kalor dari kompor kepada air yang ada di dalam panci atau ketel. Sehingga merubah input air yang tidak matang bertemperatur ruang mungkin, menjadi air matang bertemperatur 100 derajat celcius.

Sehingga yakinlah kita bahwa proses tidak dapat dilepaskan dari seluruh aspek kehidupan kita di dunia. Dalam menjelaskan seluruh fenomena alam pun, ada aktor kunci, yaitu proses itu sendiri. Menjelaskan bagaimana terbentuknya pegunungan, menjelaskan bagaimana terbentuknya hujan, menjelaskan bagaimana terbentuknya hempasan ombak di pantai, hingga menjelaskan bagaimana dunia dari awalnya suatu yang padu menjadi terekspansi sedemikian rupa seperti sekarang. Semua itu butuh proses.

Dengan memahami bahwa proses itu adalah suatu keniscayaan untuk menghasilkan output, maka seharusnya kita menjadi orang yang selalu bergairah untuk menempuh proses yang mengantarkan kita dari modal input yang kita punyai, menuju output yang kita cita-citakan. Tentunya, dengan menempuh resep proses yang tepat. Karena tidak mungkin sepanci air akan mendidih apabila kita meletakkannya di dalam freezer.

Saya mau menceritakan sedikit pengalaman saya mengenai 'proses'. Begini ceritanya. Beberapa tahun lalu saya menjabat sebagai kepala di salah satu divisi di unit kegiatan mahasiswa di kampus saya, yang fokus pada kegiatan kajian dan penelitian. Divisi tersebut bertanggung jawab terhadap tersampaikannya hasil kajian dan penelitian kepada pihak luar, dalam bentuk tulisan dan multimedia, cetak dan elektronik.

Namun ternyata, akibat dari manajemen waktu dan sumber daya manusia yang kurang tepat, muncullah berbagai kendala yang berpotensi menggagalkan seluruh rencana kegiatan di dalam divisi tersebut. Mulai dari terlambatnya tulisan artikel masuk untuk dipublikasikan, hingga tidak siapnya tulisan artikel untuk dipublikasikan.

Kondisi seperti ini membuat saya berinisiatif mengambil tindakan dengan maksud untuk menstabilkan penerbitan publikasi, yaitu dengan mengambil tulisan dari berbagai sumber, untuk kemudian dipublikasikan, sekalipun itu belum pernah dibahas dalam kajian dan penelitian di unit tersebut.

Harapannya kejadian ini hanya terjadi sekali, dan kemudian ada perbaikan. Namun, karena penanganan manajemen yang belum memadai, maka kondisi seperti ini terus berlanjut. Padahal, cita-cita awal dari dibentuknya unit dan divisi ini, ialah untuk menghasilkan tulisan-tulisan hasil kajian dan penelitian yang berkualitas, untuk dapat dipublikasikan, dengan modal berupa data dan pemahaman teori yang memadai dari tim pengkaji di unit tersebut.

Maka menjadi wajar, input yang ada (data dan teori) yang tidak bertemu dengan proses yang tepat (manajemen, pengkajian, dan penulisan), tentu saja tidak akan menghasilkan suatu publikasi yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan secara langsung oleh publishernya.

Satu cerita lagi, tentang kegagalan proses. Ini juga pengalaman pribadi. Yang berkaitan dengan blog ini. Pada awalnya blog ini dibuat untuk menyalurkan minat dan cita-cita saya untuk menjadi penulis yang berkualitas. Jadi, blog ini ibarat tempat berlatih menulis sebelum memfokuskan diri menulis hal-hal yang lebih spesifik.


Sederhananya, saya punya modal. Yaitu minat dan fasilitas komputer dan internet untuk menyusun dan memposting tulisan, tulisan apapun yang tujuannya untuk melatih keterampilan menulis. Namun, sayangnya lagi, kesalahan yang terbesar ialah: tidak menjalani proses.

Sekian lama blog ini terdiam dalam mati surinya, tidak memperoleh asupan tulisan. Alasan yang selalu muncul di kepala saya ialah "tidak punya ide mau tulis apa", "tidak sempat", "bingung memilih susunan kata". Padahal, satu metode, dan satu-satunya mungkin, untuk belajar menulis ialah: tuliskan! Tidak perduli ide apa ataupun pilihan kata apa.

Karena itu adalah proses latihan, dari tidak bisa menjadi bisa. Dari bisa tapi kurang rapi, menjadi lebih rapi, dan makin rapi. Itulah proses dalam latihan dan membangun keahlian. Maka, bagi Anda yang juga memiliki minat dan cita-cita yang sama, perlu Anda pahami bahwa seorang ahli tidak dilahirkan secara instan, semuanya butuh proses.

Tidak mungkin Andrea Hirata menuliskan novel Laskar Pelangi pada pengalaman pertamanya menulis. Begitupun Ronaldinho tidak mungkin membuat Nesta dan Gatusso pontang-panting jika ia tidak pernah latihan. Sudah menjadi pemahaman umum, bahkan bisa jadi suatu aksioma yang tidak perlu dibahas lagi kebenarannya, terkecuali jika berhadapan dengan contoh mukjizat yang terjadi pada para Rasul yang diutus-Nya.

Jalanilah proses yang tepat dan pada proses tersebutlah Anda beramal. Pada proses tersebut Anda dinilai oleh Allah azza wa jalla. Mengenai output, apakah tulisan Anda menjadi bestseller atau tidak, silakan serahkan sepenuhnya pada Allah, selama kita telah bersungguh-sungguh menempuh proses yang tepat. Sebagaimana seorang mujtahid yang berusaha bersungguh-sungguh menggali hukum syara' dari hukum-hukum dasar. Dan tentu saja berbeda amalnya dengan orang yang mencukupkan dirinya dengan hanya bertaklid.

Akhirnya saya simpulkan, dalam menjalani proses ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Pahami input (potensi dan modal yang Anda miliki);
2. Cari tahu proses apa yang tepat untuk input yang ada dan output yang diharapkan;
3. Just do it! Lakukan sesuai dengan cara yang tepat dari nomor 2, dan selebihnya bertawakkallah.

Dengan mengadopsi teori habits dari Ust. Felix Siauw, menurut beliau, habits adalah hasil daripada pengulangan suatu aktivitas dalam jangka waktu tertentu. Sehingga, semakin banyak satu aktivitas diulang dalam jangka waktu yang lama, maka habits akan semakin kuat. Selama ada 2 faktor, yaitu practice (latihan) dan repetition (pengulangan). Practice makes right, repetition makes perfect. And just do it.


Beramallah sesuai dengan sunnah & berlaku imbanglah, & ketahuilah bahwa salah seorang tak akan masuk surga karena amalannya, sesungguhnya amalan yang dicintai oleh Allah adalah yang terus menerus walaupun sedikit. [HR. Bukhari No.5983]
http://shefoni.com/wp-content/uploads/2013/05/Nike-Just-Do-it-HD-Wallpaper.jpg

Senin, 01 Juli 2013

Mind-Scanning

Anda pernah mendengar tentang teknologi pemindaian otak? Itu adalah teknologi temuan manusia yang berfungsi untuk mengetahui kondisi kesehatan otak. Dengan mengirimkan sinyal berupa gelombang dan kemudian membaca respon otak terhadap gelombang tersebut. Dengan teknologi ini kita bisa melihat gambaran otak kita sendiri. Ini adalah salah satu usaha manusia dalam menjaga dan merawat organ tubuh terpenting yang dimiliki manusia.

Namun ada hal yang jauh lebih penting yang dimiliki manusia, yang mana hal tersebut yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan. Yaitu akal.
Akal merupakan khasiat atas otak manusia. Sebagaimana khasiat tajam terkandung di dalam pisau sehingga dapat digunakan untuk membelah benda-benda yang memungkinkan. Khasiat tajam pada pisau memungkinkannya mempunyai fungsi membelah benda-benda yang memungkinkan. Khasiat akal pada otak memungkinkan manusia berpikir atas apa-apa yang memungkinkan. Hasil berfungsinya khasiat pisau adalah terbelahnya benda-benda, sedangkan hasil berfungsinya khasiat otak adalah pemikiran.


Manusia yang sejati ialah manusia memiliki akal yang sehat. Dan akal yang sehat akan tercermin pada pemikiran yang sehat pula. Apabila kita ingin mengetahui apakah fungsi biologis otak kita baik atau tidak, kita dapat menggunakan metode pemindaian otak. Lantas bagaimana cara kita untuk mendiagnosa pemikiran kita, apakah sehat atau tidak? Maka tentunya harus ada pula metode pemindaian pemikiran (ini istilah yang saya buat-buat sendiri).

Salah satu cara praktis yang sudah saya buktikan mengenai metode mendiagnosa pemikiran ialah dengan menulis, menuliskan pemikiran yang ada di benak kita. Dalam proses membuat tulisan, kita dituntut untuk menyampaikan pemikiran kita dalam bentuk tulisan dan harus dapat dipahami oleh orang yang membacanya. Pada proses itulah seringkali akan muncul kebingungan dalam pikiran kita sendiri mengenai kevalidan logika dan
kebenaran data, yang akan kita sampaikan. Nah, pada titik inilah kita akan memperoleh hasil diagnosis dari Mind-scanning ini. Seakan-akan ada suatu dialog yang terbangun di dalam pikiran kita, "ah, argumen ini salah, bagaimana kalau sebaiknya pakai argumen ini". Dialog tersebut seakan memberikan feedback terhadap pemikiran yang dulu telah kita pikirkan dan tersimpan lebih dulu. Sehingga kita bisa mengevaluasi kembali pemikiran yang kita simpan.

Dalam proses pemindaian pemikiran lewat tulisan setidaknya ada 2 hal yang dapat kita diagnosa. Yang pertama ialah detail dari pemikiran. Dalam proses menuliskan pemikiran, kita dituntut untuk detail dalam penjelasan. Misalnya dengan mengadopsi prinsip jurnalistik 5W 1H, atau dengan detail tiap kronologis kejadian.

Yang kedua, ialah sistematis. Alur pikiran yang sistematis membuat orang yang membaca tulisan tersebut lebih mudah untuk paham. Sistematis dari tulisan pemikiran dapat dibangun misalnya dengan menyampaikan argumen-argumen yang umum terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan argumen-argumen khusus, atau bisa sebaliknya, dari khusus ke umum.