Kamis, 10 Desember 2015

Al Qur'an Boleh ...

Ketika jaman sudah mau tamat
Ketika manusia tak lagi ingat harus taat

Al-Qur'an boleh dibacakan pada yang mati
Tetapi bagi yang hidup tidak boleh jadi solusi

Al-Qur'an boleh dibaca saat sholat
Tetapi tidak ketika bicara migas milik rakyat

Al-Qur'an boleh dibaca di masjid, surau, dan musholla
Tapi tidak untuk negeri yang salah kelola

Al-Qur'an boleh ditaruh di tempat tinggi
Tetapi luput saat ummat bicara solusi

Al-Qur'an boleh..., Ah...

Entah apa jawabnya ketika Muhammad tanya
Tentang nasib ummat sepeninggalnya
Ummat terbaik Al-Qur'an menyebutnya
Yang kini terlunta terluka nasibnya

Demokrasi membuat ummat memilah
Agama dan kehidupan pun dipisah
Pada wakil rakyat mereka berserah
Benar lah kehidupan mereka jadi susah

Padahal dulu Nabi SAW pernah berwasiat
Hanya pada Qur'an dan sunnah kami wajib taat
Entah apa jawabnya ketika Muhammad tanya
Tentang nasib ummat sepeninggalnya
Ya, itu kita semua

Jumat, 20 November 2015

Pelajaran dari Bumi Syam



Revolusi Suriah sudah menginjak tahun kelima. Belum ada tanda-tanda gerakan revolusioner itu akan berakhir, entah berakhir dengan kemenangan ataupun ditutup dengan kekalahan, sebagaimana terjadi di sejumlah negeri Arab sejak Arab Spring muncuk ke permukaan. Di Tunisia, Libya, Mesir, dan Yaman revolusi boleh dikatakan gagal. Pasalnya, pasca revolusi, rezim boleh berganti, tetapi sistem pemerintahan tetap sekuler. Di Mesir, rezim sekuler sekarang bahkan lebih lalim dan kejam dibandingkan dengan rezim sebelumnya. Kegagalan Arab Spring justru menunjukkan sebaliknya, kemenangan intervensi Barat kafir penjajah dalam membajak revolusi.

Adapun di Suriah, meski pilar-pilarnya sudah mulai melemah, rezim Assad tetap masih bisa bertahan hingga kini. Tidak lain karena kuatnya dukungan kafir penjajah Barat, khususnya AS dan Rusia terhadap rezim ini. namun, Barat kafir penjajah, khususnya AS, belum dikatakan berhasil mewujudkan skenarionya di Suriah, yakni membajak revolusi sesuai dengan kepentingan mereka, sebagaimana kesusksesan mereka membajak revolusi di neger-negeri Arab yang lain.

Konflik di Suriah sudah memasuki tahun kelima. Lebih dari 250 ribu orang tewas, termasuk setidaknya 10 ribu anak-anak. Hingga kini konflik Suriah kian memanas. Situasi paling mutakhir dan plaing menonjol disoroti media adalah serangan Rusia terhadap kelompok oposisi. Kemeterian Pertahanan Rusia mengonfirmasi, bahwa lebih dari 50 pesawat jet tempur dan helikopter militer dikerahkan ke Suriah, sejak Rabu 30 September 2015.

Pelajaran Untuk Umat Islam
  • Persekongkolan Kaum Kafir Harbi
Dalam ketegangan yang terjadi belakangan ini, peranan Rusia tampak lebih mendominasi, bahkan sebelum serangan udara yang Rusia lancarkan. Pada 18 Juni 2015, Vladimir Putin bertemu dengan Amir Muhammad bin Salman, Waliy Waliyul ‘Ahdi KSA. Dalam pertemuan tersebut, Rusia memprakrasai pembentukan koalisi Turki – Saudi – Suriah – Yordan dalam menghadapi ancaman organisasi teroris.

Setelah pertemuan ini, terjadilah pertemuan Amir Muhammad bin Salman dengan Ali Mamluk (Kepala Biro Keamanan Suriah). Pertemuan ini kemudian diikuti dengan pertemuan 3 menteri luar negeri: John Kerry (AS), Sergey Lavrov (Rusia), dan ‘Adil Jubair (KSA) di Doha. Dalam konferensi persnya, Kerry menyatakan bahwa ketiganya sepakat akan pentingnya solusi politik dan peranan kelompok oposisi hingga tercapainya solusi itu.

Dari fakta yang beredar nampak dengan jelas adanya keterkaitan antara AS dan Rusia dalam konflik di Suriah. Dua negara yang lebih dikenal memiliki hubungan permusuhan yang kental semenjak masa Perang Dunia. Namun, berbeda dalam hal konflik Suriah, kedua negara ini menjadi sangat akur dan bahkan Rusia mau tunduk pada skenario rancangan AS. AS disini memiliki kepentingan untuk tetap menjaga keberlangsungan pengaruhnya di Timur Tengah dengan terus menjaga agar revolusi Suriah tetap berpihak pada mereka. Sehingga mereka harus memastikan kesiapan sang pengganti Assad agar tetap berada pada pengaruh AS. 

Sementara Rusia bukan berarti ikut dalam konflik Suriah tanpa mengharapkan apapun. Rusia sendiri punya banyak kepentingan di Suriah, yaitu menjaga pangkalan militernya di Tartus – Suriah, sebagai satu-satunya pangkalan militer Rusia di Laut Tengah.

Maka dapat kita lihat betapa 2 negara yang berseteru dapat menjadi bersatu karena kepentingan dan karena yang dilawan ialah kelompok perlawanan yang mencirikan diri mereka pembawa revolusi Islam.

Rusia aslinya adalah sekutu dekat Assad yang partainya memang bercorak sosialis. Sehingga Rusia berkeinginan agar Assad tetap dipertahankan di tampuk kepresidenan. Namun, karena AS menganggap bahwa Assad sudah tidak dapat dijadikan agen yang moderat bagi AS, maka skenario yang diterapkan AS ialah menggantinya atau paling tidak membentuk pemerintahan transisi hingga AS menemukan pengganti yang siap menjadi agen mereka.

Dan keberpihakan kdeuanya yang pasti bertolak belakang dengan keinginan revolusi Islam yang diusung oleh mujahidin. Sehingga serangkaian kesepakatan dirancang untuk meredam gejolak perlawanan dari mujahidin. Mulai dari Perjanjian Jenewa 1 hingga yang terakhir Proposal De Mistura. Kesemuanya bertujuan untuk mendesak mujahidin agar mengakhiri perlawanannya dan menerima opsi yang ditawarkan oleh negara-negara barat yang dimotori AS.

Keterlibatan negara-negara kafir harbi tersebut tidak lain untuk meredam tumbuhnya benih-benih kebangkitan Islam yang diusung oleh mujahidin. Dengan senjata diplomasi dan bermanis muka bahkan hingga tekanan fisik seperti yang dilakukan AS, Rusia, dan yang terbaru Perancis. Hal ini mengingatkan kita pada persitiwa perang Khandaq, dimana Negara Islam Madinah yang kala itu dipimpin oleh Rasulullah Muhammad SAW dikepung oleh tentara sekutu di bawah koordinasi Kafir Quraisy Mekah. Sekalipun pada kenyataannya pasukan sekutu tersebut adalah rival, namun dalam perkara memerangi kaum Muslimin mereka bersatu dalam satu pasukan. Ini yang patut kita ambil pelajarannya bahwa kaum kafir sampai kapan pun tidak akan membiarkan Islam bangkit dengan mudahnya, sampai-sampai mereka harus bersekutu dengan musuhnya yang sehari-hari.
  • Topeng Pemimpin Negeri Islam
Penguasa Arab setuju dengan labgkah Barat dalam menyelesaikan konflik Suriah, yakni melalui jalan politik. Tak ada hal baru dalam beberapa pertemuan yang melibatkan para petinggi Saudi, Rusia, dan AS, selain mempercepat proses terbentuknya pengganti pasca Assad yang loyal terhadap Barat.

Hal yang sama juga dilakukan Turki. Perannya tidak kalah membahayakan bagi tujuan revolusi Suriah. Turki mengklaim mendukung kelompok perlawanan, namun nyatanya itu dilakukan untuk mengontrol arah perjuangan mereka, hingga akhirnya berubah menjadi kelompok moderat. Mereka senghaja dikumpulkan dalam camp-camp khusus, bahkan diberi tempat untuk membuka kantornya di Turki. Beberapa kelompok perlawanan itu kemudia disatukan di dalam sebuah koalisi di bawah pengawasan Robert Ford (delegasi AS).

Maha Besar Allah yang telah membuka topeng-topeng dari para pemimpin negeri-negeri Islam, yang dalam pidatonya seringkali menarik simpati umat Islam dengan mengecam Israel dan musuh-musuh Islam. Namun dalam konflik Suriah terlihat dengan jelas mereka berada di pihak mana. Alih-alih bersikeras mendesak Assad agar menghentikan aksi militernya dan menyerahkan tampuk kepresidenan, mereka malah memihak kepada AS untuk meloloskan agenda besar AS dalam mencengkeram Suriah melalui agen yang loyal pada AS. Tidakkah para pemimpin itu mengetahui berapa ribu rakyat sipil Suriah yang terbunuh oleh aksi militer di bawah komanda Assad? Tidakkah mereka sadar bahwa revolusi Islam yang sesungguhnya diinginkan oleh rakyat Suriah? Namun mereka justru ingin mengaborsi revolusi tersebut dengan mengalihkan dukungan pada AS yang menginginkan presiden boneka pengganti Assad. Maka cukuplah bagi kita umat Islam untuk berharap pada para pemimpin yang bertindak seakan antek dari kafir penjajah.
  • Ketidaksamaan Visi Mujahidin Suriah
Dengan medan konflik yang meluas, tak hanya persoalan Suriah, namun juga beririsan dengan kepentingan-kepentingan lainnya, maka inilah yang menjadikan kelompok-kelompok di Suriah termasuk faksi-faksi bersenjatanya, sulit untuk bersatu.

Keberadaan berbagai kelompok bersenjata ini, apalagi belum kuatnya persatuan di antara mereka, menjadikan secara internal rawan konflik. Sebagai contoh saat ISIS mendeklarasikan negara Islam pada 29 Juni 2014, perselisihan ISIS dengan beberapa faksi bersenjata di Suriah terlihat makin menajam dari sebelumnya. Konflik baru pun bermunculan.

Kelompok-kelompok revolusioner di Suriah ternyata juga mendapat sokongan dari pihak luar yang berbeda-beda. Hal ini memungkinkan adanya ketergantungan mereka pada pihak luar yang bisa jadi memiliki agenda dan kepentingan tersendiri di Suriah.

AS, Turki, Qatar, dan Arab Saudi adalah kekuatan negara asing yang mendukung perlawanan terhadap Assad. Sebaliknya Iran dan Rusia serta Hizbullah dari Libanon adalah kekuatan yang mendukung pemerintahan rezim Assad. Dukungan mereka dapat berupa logistik, diplomatik, atau personel di lapangan.

Untuk menjadikan revolusi Suriah menjadi sebagai revolusi Islam maka mutlak untuk menolak segala campur tangan negara-negara Barat dalam revolusi rakyat ini. negara-negara Barat tidak akan datang begitu saja tanpa agenda dan kepentingan di Suriah. Mereka mengerahkan segenap cara untuk dapat mewujudkan agenda dan kepentingan mereka.

Kelompok-kelompok revolusioner Suriah harus menyadari bahwa keterpecahbelahan mereka merupakan makanan empuk bagi negara-negara barat untuk melakukan politik devide et impera. Karena itu persatuan di antara mereka adalah hal mutlak. Fokus dan berkerjasama dalam satu visi yang sama, kembali pada alasan awal Revolusi Suriah yang digulirkan, yakni bagaimana rezim yang sewenang-wenang ini dapat ditumbangkan, dan sesegera mungkin membangun pemerintahan Islam di Suriah.
  • Black Campaign di Tengah Masyarakat Dunia
Sudah menjadi hal umum bahwa perjuangan kelompok revolusioner di Suriah menjadi bahan perbincangan media massa internasional semenjak dimulakan pada Maret 2011. Ada pemberitaan yang mendukung perjuangan mereka, namun tidak sedikit yang mencitrakan perjuangan kelompok revolusioner bersenjata sebagai gerakan terorisme. Apalagi sejak ISIS mendeklarasikan Negara Islam pada Juni 2014, ditambah dengan pengopinian media pro barat yang menunjukkan tindakan kekejaman dari kelompok ISIS. Terlepas dari kebenaran pemberitaan terkait ISIS tersebut, dapat dengan mudah terlihat bahwa arahnya ialah untuk mencabut rasa simpati masyarakat dunia terhadap perjuangan menggulingkan rezim lalim Bashar Assad. Ditambah lagi dengan kejadian Jumat lalu di Paris, maka opini umum melawan perjuangan revolusioner di Suriah semakin menggejolak, sekalipun yang dikecam adalah ISIS, namun media cenderung untuk mengaburkan batas antara ISIS dan kelompok bersenjata lain yang masih ikhlas dan sungguh-sungguh untuk menyelesaikan perjuangan ini hingga rezim berganti.
  • Masa Depan Pasti Milik Islam
Sekalipun beragam cara dan upaya yang direncanakan oleh kaum kafir penjajah terhadap peluang terjadinya revolusi Islam di Suriah, itu semua tidak membuat janji Allah terhadap kebangkitan Islam menjadi berubah. Kebangkitan Islam merupakan janji Allah, saat ini atau nanti, di Suriah ataupun di tempat lain. Hal yang harus tetap dipegang teguh oleh umat Islam adalah tetap berjuang dengan ikhlas dan sungguh sembari meletakkan harapan hanya kepada Allah semata, bukan kepada pemimpin Barat ataupun pemimpin negeri Islam yang bertopeng, agar kebangkitan Islam dengan Khilafah Islamiyah sesegera mungkin diberikan. Pihak Barat-pun sangat yakin akan hal ini. Bahkan akibat ketakutan mereka akan kebangkitan Islam inilah yang menyebabkan mereka mau dengan senang hati bersekutu dengan negara seteru mereka. Francois Hollande, Presiden Perancis pun mengatakan, “Suriah dibagi menjadi 2 bagian. Sebagian dikendalikan oleh rezim Assad. Sebagian besar lain dikuasai oelh kekacauan dan oposisi, yang tujuan akhirnya adalah Khilafah, dan ini akan menjadi kasus terburuk. Untuk itu, kami tidak akan pernah menerima kejadian tersebut dan hal-hal yang mengarah kesana.” Maka pertanyaan selajutnya, jika orang kafir sebegitu percayanya dengan kebangkitan Islam, maka apakah kita tidak? Cukuplah kita menengok peristiwa perang Khandaq. Selicik-liciknya kaum kafir bersiasat untuk meredupkan cahaya Islam, tidak akan pernah sampai selama umat Islam berpegang teguh pada Islam dan bertawakal pada Allah atas segala sesuatunya. Hasbunallah wa ni’mal wakiil. Ni’mal maula wa ni’mannashir.

(dari berbagai sumber)

Jumat, 11 September 2015

SDA INDONESIA TERANCAM

Indonesia, sekalipun bukan negara yang kaya dalam sumber daya minyak bumi, namun untuk sumber daya alam yang lain bisa dikatakan memiliki potensi yang sangat besar, apalagi untuk sekadar memenuhi kebutuhan dalam negeri. Mulai dari hutan, sumber daya energi, dan mineral. Belum lagi ditambah dengan sumber daya yang berkaitan dengan agrikultur, kelautan dan perikanan, dan sebagainya, yang membuat Indonesia layak disebut sebagai “sepotong surga di khatulistiwa”. Kondisi iklim yang tropis membuat Indonesia sangat cocok untuk pengembangan sumber daya pertanian dan peternakan. Namun apa mau dikata. Dengan potensi sebesar itu, rakyat Indonesia ternyata hidup tidak sebagaimana indahnya gambaran di atas. Dilihat dari pertumbuhan ekonomi, utang luar negeri, dan terlebih lagi dari sisi Indeks Pengembangan Manusia (HDI) yang menempatkan Indonesia pada posisi nyaris buncit. Apa yang salah dengan negeri ini?

Jika kita menilik fakta di tengah-tengah negeri maka akan dengan mudah kita dapat menemukan penyebab segala kegagalan tersebut. Yaitu rakyat Indonesia tidak merasakan manfaat dari kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia secara maksimal. Yang justru menikmati kekayaan tersebut justru pihak-pihak yang seharusnya tidak berhak untuk memanfaatkannya secara besar-besaran. Yang menikmati dan bahkan mendominasi dalam pemanfaatan sumber daya alam di Indonesia justru pihak asing yang diwakili oleh perusahaan-perusahaan yang bercokol di Indonesia atas nama investasi.

Keberadaan pihak asing dalam perihal ekploitasi sumber daya alam di Indonesia tentu bukan suatu kejadian yang berdiri sendiri. Ada penyebab yang membuat mereka dapat melakukan hal tersebut. Yang tidak lain adalah restu dari rakyat Indonesia sendiri yang diwakili oleh para pemimpin Indonesia, pemerintah, dan wakil rakyat di parlemen yang melegislasi regulasi untuk mempersilahkan orang lain mengeruk kekayaan Indonesia. Mereka dengan mudahnya dan secara berkelanjutan memberikan restu atas nama investasi di negeri ini untuk mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari sumber daya Indonesia dan menyisakan kecuali sedikit dari kekayaan tersebut kepada rakyat Indonesia.

Suatu hal yang dalam Islam merupakan suatu tindak pelanggaran. Karena kekayaan alam yang jumlahnya besar merupakan milik umum dan harus dikuasai secara bersama-sama dan sama sekali tidak boleh dikuasai atas nama individu ataupus swasta. Selain itu Islam pun melarang adanya tindakan yang membuat orang lain – yang berstatus pemilik juga – menjadi terhalang aksesnya kepada fasilitas milik umum tersebut. Dengan melihat fakta di Indonesia saat ini, dapat dengan mudah kita simpulkan dalam hal pengelolaan SDA Indonesia sudah menyimpang sangat jauh dari syariah Islam. Indonesia sudah megizinkan orang lain yang tidak berhak untuk memanfaatkan bahkan menguasai SDA yang seharusnya dikuasai secara bersama-sama oleh rakyat Indonesia.

Islam sebagai ideologi yang utuh, Islam sebagai way of life sudah memberikan batasan dan panduan yang sangat jelas dan sistematis dalam pengelolaan SDA, yaitu: (1) Islam menetapkan bahwa SDA yang memiliki potensi yang besar maka status kepemilikannya adalah milik umat, milik rakyat secara umum. (2) SDA milik umum tersebut harus dikuasai secara bersama-sama. Bahkan negara sekalipun tidak memiliki hak untuk mengelola SDA milik umum, kecuali atas restu dari umat. Sehingga pada posisi ini negara – sebagai perwakilan umat – hanya sekadar operator untuk mengelola SDA millik umum dan dikembalikan kemanfaatannya kepada rakyat tanpa terkecuali. (3) Islam juga sudah menetapkan bahwa SDA milik umum – termasuk juga infrastruktur milik umum – harus dapat diakses dengan mudah oleh seluruh umat. Tidak boleh ada tindakan baik secara legal maupun ilegal yang membuat seseorang terhalangi aksesnya untuk memanfaatkan barang milik umum.

Kesemua panduan Islam dalam pengelolaan SDA milik umum di atas hukumnya wajib untuk dilakukan oleh umat Islam. Tanpa kompromi dan tidak boleh tidak, panduan tersebut menjadi metode wajib dalam mengelola SDA. Sekalipun dapat berbeda-beda dalam teknis turunannya. Inilah ketentuan syariah yang telah diajarkan oleh baginda Rasulullah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dalam mengurus umat. Ketentuan inilah yang apabila diterapkan dan diamalkan secara konsisten oleh umat Islam maka bukan saja kesejahteraan duniawi namun juga keberkahan dunia akhirat akan menghampiri umat ini. namun, ketentuan ini tidak akan pernah bisa diterapkan dalam negara yang menganut sistem demokrasi. Sebab demokrasi tidak mewajibkan ketaatan pada syariah Islam. Maka satu-satunya institusi yang dpat menerapkan syariah Islam secara sempurna dan konsisten adalah khilafah Islamiyah.

Adapun sebagai mahasiswa, sebagai salah satu kelompok di dalam masyrakat yang memiliki akses kepada informasi dan data-data yang akurat terkait SDA, maka yang harus kita lakukan adalah:

1. Menyadari bahwa kondisi saat ini sangat tidak ideal. Kondisi saat ini menempatkan kita pada posisi yang terjajah. Bukan hanya karena keserakahan pihak asing, tapi karena kesalahan pengurusan, salah kelola dari para pemimpin negeri ini. Akibat meninggalkan syariah Islam, meninggalkan aturan Islam dalam pengelolaan SDA.

2. Melakukan kritik kepada para pengambil kebijakan, penguasa, dan pemerintah untuk segera meninggalkan praktek-praktek yang salah dalam pengelolaan SDA dan kembali kepada syariah Islam agar tercapai kehidupan yang sejahtera dan berkah di dunia dan akhirat.

3. Merekonstruksi sistem pengelolaan SDA dalam bingkai syariah Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah, mulai dari falsafah dasar yang disandarkan pada al-Qur’an dan Sunnah, hingga pada tataran teknis – praktis sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Inilah sumbangsih yang dapat kita torehkan di kehidupan kita sebagai kaum intelektual untuk mendukung tegaknya Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah. Institusi penegak syariah yang akan menerapkan syariah Islam secara kaafah di tengah-tengah masyarakat dan mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia, insyaAllah. Wallahu a’lam.

Minggu, 26 Juli 2015

Nanjak

Hey Kamu, Bagaimana kabarmu?

Maaf ya, saya kurang bisa berbasa basi. Tapi saya tetap pengen ngobrol. InsyaAllah bukan obrolan sampah. mudah-mudahan kamu juga bisa mengambil manfaat dari obrolan ini. Ini terkait masa depan, bukan masa lalu. Ini tentang semangat yang tidak pernah mati. Ini tentang perjuangan.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya ketika H-2 Idul Fitri. Bertempat di jok pesawat produk pabrikan Boeing, teman yang sudah saya kenal baik sejak SMA itu berkata, "Hidupnya anak muda itu harus menanjak.." saya tidak begitu ingat redaksi selanjutnya. Tapi intinya, bahwa jangan pernah takut menghadapi tantangan baru, apalagi meninggalkannya.

Sebuah analogi yang sederhana namun sangat pas. Kalau kamu pernah hiking atau naik gunung, pasti sangat paham bahwa jalan menanjak akan mengubah segalanya dengan cepat. Kondisi tubuh yang segar akan menjadi seketika lemas hanya dalam beberapa langkah dalam tanjakan.

Ketika menghadapi sebuah tanjakan, maka pikiran yang terlintas biasanya ada 2: berhenti dan minum sebanyak-banyaknya untuk menghilangkan dahaga atau bahkan pulang dan membatalkan rute yang sudah direncanakan. Begitu pula ketika menghadapi tantangan dalam hidup. Ketika rasa lelah dan kesabaran makin menipis, maka godaan yang datang adalah, istirahat lebih lama ditambah refreshing yang lebih banyak, atau selesaikan dengan cara pengecut, tinggalkan tantangan tersebut, dan cari tantangan lain yang lebih mudah.

Tidak ada yang salah di antara 3 pilihan tersebut, terus menanjak, berleha-leha dan memperbanyak istirahat, atau pulang ke basecamp sambil merencanakan hal lain yang lebih mudah. Namun tentu konsekuensi yang kita terima pastilah berbeda. Bagi si tukang leha-leha, dia akan tetap sampai ke puncak tapi kondisi yang sudah malam. Dia akan melalui tanjakan dengan mudah dan berenergi, namun dia tidak mendapat apa-apa di atas sana. Bagi yang pulang meninggalkan tanjakan ia akan menikmati kenyamanan di basecamp. Aman nyaman tanpa tantangan dan tentu tanpa capaian hari itu. Dan bagi si penanjak, maka ia akan mendapatkan pemandangan yang indah dari elevasi yang tinggi, udara yang lebih sejuk, dan yang terpenting ia mendapatkan rasa percaya diri untuk melalui jalan yang lebih curam terlebih lagi jalan yang lebih landai.

Itulah 3 jenis karakter yang mungkin tercipta ketika aku, kamu, dan kita menghadapi sebuah tanjakan. Mari berdoa dan saling menguatkan agar kita tetap menjadi seorang penanjak sejati, yang tidak gentar menghadapi tanjakan. Yang tidak tenang jika menjadi tukang berleha-leha, apalagi menjadi orang-orang yang pulang.

Inilah yang ingin kusampaikan padamu, seperti yang kubilang, aku tak bisa berbasa basi dan berpanjang lebar. Tapi yakinlah ini dari hatiku, untukmu. Semoga Allah meridhai kita. Semoga cinta Allah selalu bersama kita.

Jumat, 26 Juni 2015

Masalah buat lu?

Anda pernah merasa lapar? Apa yang Anda lakukan untuk menyelesaikan masalah lapar? Apakah Anda makan? Setelah makan apakah masalah selesai? Pernah merasa mules setelah makan? Apakah Anda ke kamar kecil ketika mules? Apakah masalah Anda selesai? Anda masih punya masalah? Anda harus istinja.. dst.

Saya cuma ingin memastikan bahwa kita pasti akan menghadapi masalah, kapanpun itu. Begitu selesai masalah satu, akan siap menanti masalah yang lain. Dan begitu juga dengan orang lain. Mulai dari masalah yang kecil-kecil, sampai masalah yang kayaknya nggak bakal selesai diurusin tujuh turunan. Mulai dari masalah atap bocor, ban bocor, ember bocor, sampai dompet bocor. Mulai dari masalah yang sifatnya materi sampai yang sifat imaterial.
Tapi jangan khawatir, seperti yang saya bilang tadi, semua orang punya masalah. Jadi kalau lagi pusing mikirin masalah pribadi, maka yakinlah orang lain pun sama. Dan normalnya memang begitu. Jadi, dibawa asik aja bro.

Masalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sejak zaman Nabi Adam diturunkan di bumi, manusia selalu diliputi oleh masalah. Dan masalah inilah menjadi penyebab primer kegalauan. Kalian tau tidak apa yang menjadi masalah pertama Nabi Adam ketika diturunkan di Bumi? Masalah pertama Nabi Adam waktu itu ialah bagaimana agar Allah menerima taubatnya. Terus masalah keduanya apa? Bagaimana agar ia berkumpul kembali dengan istrinya Siti Hawa. Jadi buat kalian yang belum menemukan tambatan hati, percayalah kalian sebenarnya sama sekali belum menyelesaikan lebih dari 2 masalah dasar hidup manusia. hehe.

Selama manusia masih bekerja akal pikirannya, maka dia pasti akan menemukan masalah-masalah dan yang pasti membutuhkan solusi agar masalah-masalah itu lepas dari pikirannya. Misalkan saja mahasiswa. Dulu sewaktu ia masih SMA, dia menemukan dirinya punya banyak masalah. Masalah pelajaran lah, harus masuk pagi tiap hari, harus ngerjain tugas, harus ikut ulangan harian, nyiapin ujian nasional, dan tetek bengeknya. Dia kemudian berpikir kalau dia kuliah, mungkin masalahnya akan berkurang. Dan ternyata yang didapatinya bukan sebaliknya. Masalahnya ternyata tambah banyak. Ternyata kuliah jauh lebih susah. Tugas makin menumpuk, ketemu dosen yang killer, belum lagi ujian gak lulus-lulus. Pokoknya hari-harinya tidak lebih baik dibanding sewaktu dia SMA. Ternyata dia menemukan masalah-masalah baru. Enak kan, tiap hari ditemenin sama masalah.

Don’t worry, seperti saya bilang tadi, ente gak sendiri. Semua orang punya masalah. Dan bahkan masih banyak yang punya masalah yang jauh lebih parah daripada kita-kita yang mahasiswa ini. Gak percaya? Saya sarankan cobalah sesekali pergi ke pasar, dan lihatlah bagaimana orang-orang disana berkumpul, saling tawar menawar, ada yg dikerumuni pembeli, ada yg tidak terlalu ramai, tapi pembeli yang datang konstan, dan ada juga yg dalam tempo 1 jam syukur-syukur kalau ada yang datang menanyakan harga.

Begitulah, masalah tiap orang berbeda-beda, begitu pula level kesulitannya. Maka patutlah kita bersyukur atas segala kelebihan dan juga kekurangan yang kita miliki, sambil tidak lupa untuk terus berusaha membantu menyelesaikan permasalahan orang-orang di sekitar kita, semampu diri kita, sesuai dengan kelebihan kita. Jika kita sebagai mahasiswa yang kere namun mempunyai kelebihan dalam bidang intelejensi, maka gunakanlah itu untuk menyelesaikan masalah mereka. “tapi kan, masalah saya sendiri juga belum beres..?”
Islam yang teramat indah mengajarkan kepada seluruh umatnya untuk saling membantu menyelesaikan kesulitan saudaranya sesama muslim.

Dari Abu Hurairah Radhiallahuanhu, dari Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wasallam bersabda: Siapa yang membantu menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari sebuah kesulitan di antara berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan salah satu kesulitan di antara berbagai kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hambaNya selama hambaNya itu menolong saudaranya. Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah (maksudnya masjid, pen) dalam rangka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi para malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk yang ada di sisiNya. Dan siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” (HR. Muslim No. 2699, At Tirmidzi No. 1425, Abu Daud No. 1455, 4946, Ibnu Majah No. 225, Ahmad No. 7427, Al Baihaqi No. 1695, 11250, Ibnu ‘Asakir No. 696, Al Baghawi No. 130, Ibnu Hibban No. 84)

Dan bahkan dalam sebuah perkataan yang sebagian orang menganggapnya hadits, namun menurut para ahli hadits termasuk ke dalam derajat dhaif hingga palsu, dinyatakan:
Barang siapa yang pada pagi harinya hasrat dunianya lebih besar maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak takut kepada Allah maka itu tidak ada apa-apanya di sisi Allah, dan barang siapa yang tidak perhatian dengan urusan kaum muslimin semuanya maka dia bukan golongan mereka.”

Terus, bagaimana dengan pertanyaan si kawan yang katanya masalah diri sendirinya saja belum beres? Ya, maka disinilah perlunya prioritas masalah. Lagi-lagi, Islam yang teramat agung telah memberikan tips n trik yang yahud buat masalah ini. Kita diberikan 5 skala prioritas yang dapat memudahkan kita mana yang harus terlebih dahulu kita urusi dan beresi. Skala yang tertinggi itu berlabel wajib, kemudian sunnah, diikuti mubah, kemudian makruh, dan yang paling tidak perlu diurusi adalah masalah yang berlabel haram.

Nah, jadi kalo kalian nemuin masalah, sesuatu yang dianggap masalah, maka hal pertama yang harus kalian lakukan adalah menempatkan masalah tersebut dalam tabel skala prioritas yang lima itu. Kalo termasuk ke dalam hal yang wajib, maka harus segera dilakukan. Jika masuk di skala mubah, maka mungkin bisa ditunda dulu.

Dengan begini tentu tidak ada lagi kebingungan ketika harus memutuskan apakah harus gelisah dengan kaus kaki bolong atau mencari solusi untuk anggaran Negara yang selalu bolong. Atau ketika akan memutuskan apakah harus galau dengan jerawat yang seakan-akan segede gajah di pucuk hidung, atau galau dengan tubuh umat Islam yang segede gajah tapi tidak bisa apa-apa.
 
Terakhir, ketepatan kalian menempatkan setiap masalah dalam skala prioritas ini menunjukkan seberapa tinggi intelejensia kalian. Dan jika kalian sudah mampu menempatkan sendiri setiap masalah pada tempatnya, maka kalian setara dengan para mujtahid, kalian selevel dengan Imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam Malik, dan mujtahid-mujtahid yang lain. Wallahu a’lam bishshawab.