Senin, 15 Februari 2016

Teori Evolusi sebagai Jawaban

Saya berpikir, bahwa adanya fenomena pengklasifikasian manusia ke dalam golongan/kingdom yang sama dengan hewan itu karena ketidaktahuan. Ketidak tahuan manusia akan asal diri mereka dari mana. Mungkin sekilas dulu saya jelaskan bahwa ada tiga pertanyaan dasar manusia, yang pasti akan muncul dalam benak manusia yang sudah mampu berpikir, cepat atau lambat pertanyaan ini akan menghampiri pikirannya. Yaitu:


  1. Dari mana aku berasal?
  2. Untuk apa aku ada?
  3. Akan kemana setelah kehidupan ini?

Inilah pertanyaan mendasar yang akan menentukan arah langkah kehidupan manusia di dunia. Bagi seorang muslim tentu sudah mendapati jawaban pertanyaan tersebut semenjak kecil bahkan sejak masih baru belajar mengaji al qur’an. Kita diciptakan oleh Allah, kita dicipatakan untuk beribadah kepada Allah dan setelah mati akan masuk neraka atau surga, tergantung pada amal kita lebih banyak yang mana. Bagi kita jawaban-jawaban itu terasa sangat ringan dan sangat sederhana. Namun berbeda bagi para ilmuwan yang memang tidak dibekali oleh dasar aqidah sebagaimana yang kita imani, mereka merasa perlu untuk mencari tahu jawaban-jawaban atas 3 pertanyaan tadi dengan fakta-fakta di alam dan teori-teori yang dibangun dari fakta-fakta yang ditemukan tersebut.

Dan salah satu cara untuk menjawab pertanyaan pertama tersebut ialah dengan meneliti asal mula spesies-spesies. Kenapa sih ada banyak spesies-spesies makhluk hidup di Bumi? Termasuk Homo sapiens? Ini kemudian dipelajari secara cermat dan teliti.
 
Mencari fosil untuk mengungkap masa lampau.
Dengan mencari fosil-fosil sisa kehidupan organisme di masa lampau, yang mencarinya pun tidak bisa dianggap mudah. Jika Anda pernah melihat bagaimana paleontologist mencari fosil, mereka menggalinya bukan dengan cangkul, linggis, apalagi alat berat. Tapi alat yang mereka pake itu kuas.

Dikuas pelan-pelan, sampai tanahnya hilang dan fosilnya tersingkap. Hingga akhirnya bisa diangkat dan dibawa ke laboratorium. Dan selama perjalanan, fosil ini tidak boleh mengalami goncangan yang berlebihan karena khawatir akan rusak dan patah. Setelah itu fosil tersebut dianalisis untuk mengetahui umurnya.

Saat ini sudah umum digunakan metode perhitungan umur fosil dengan menggunakan isotop karbon. Dengan sifat umur paruh bisa diketahui umur dari fosil yang sudah membatu tersebut, dan diketahui kapan organisme itu hidup. Begitu seterusnya, fosil lain dicari dan dipetakan umurnya sehingga terlihat persebaran organisme mana yang hidup 500 juta tahun yang lalu, mana yang hidup 1 juta tahun yang lalu, mana yang hidup 10000 tahun yang lalu, dan mana yang masih ada keturunannya sampai sekarang.

Semuanya diplot dan memang terlihat bahwa ada yang namanya perubahan anatomi dan fisiologi. Sebagai contoh adalah perubahan spesies foraminifera. Pada gambar terlihat bagaimana pada masa sekian juta tahun yang lalu pernah hidup satu spesies sampai punahnya beberapa juta tahun kemudian.
 
Diagram evolusi spesies formanifera pada kala Kapur Akhir (Upper Cretaceous) pada 99,6 juta tahun yang lalu hingga 66,5 juta tahun yang lalu.
Selanjutnya berkembang spesies lain yang berbeda dengan yang sudah punah sebelumnya, hingga punahnya. Kemudian ada lagi spesies baru, dan punah. Begitu seterusnya. Semua skema ini didasari oleh fakta-fakta berupa sisa peninggalan makhluk hidup tersebut. Jadi sekali lagi yang dilakukan oleh paleontologis itu hanya memetakan spesies berdasarkan umurnya.

Tapi, para ilmuwan tidak melihat secara langsung proses perubahannya. Apakah memang spesies yang lebih muda itu adalah anak keturunan dari spesies yang lebih dulu punah? Wallahu a’lam. Tapi, yang pasti fakta bahwa pada umur tertentu ada spesies yang berkembang dan ada yang punah, itu tidak bisa dibantah.

Karena itu fakta yang jelas-jelas bisa diindera, setidaknya dari peninggalan sisa kehidupannya berupa fosil. Dalam sudut pandang ilmu pengetahuan yang berusaha mengenyampingkan peran “Tuhan” mereka pasti akan memilih penjelasan yang paling logis terhadap perubahan spesies-spesies tersebut.

Maka muncullah berbagai macam penjelasan. Ada yang bilang bahwa dulunya ada beberapa spesies, kemudian spesies yang lebih bisa survive lah yang umurnya lebih panjang atau dikenal dengan survival to the fittest. Ada juga yang bilang bahwa spesies yang ada menyesuaikan terhadap kondisi alam dengan mengubah anatomi dan fisiologinya.


Yang bisa mengikuti perubahan kondisi alam lah yang bertahan, atau disebut dengan natural selection. Nah penjelasan-penjelasan mekanisme yang banyak itu terkait perubahan spesies-spesies itulah yang disebut sebagai Teori Evolusi. Jadi teori evolusi itu adalah penjelasannya. Sementara fosil-fosil itu adalah faktanya. Fakta adalah kebenaran. Sementara penjelasan adalah suatu teori ilmiah.

Mempertanyakan Kemuliaan Manusia

Jika kita mengamati perilaku manusia di muka bumi maka kita akan mendapati bahwa kebanyakan manusia seakan-akan bergerak dan hidup sesuka hatinya. Ada sebagian manusia yang hidup hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan kebutuhan nalurinya. Kalau dengan bahasa yang sedikit agak kasar, mereka hidup hanya sekadar untuk memuaskan perut dan satu jengkal di bawah perutnya. Sebagian orang yang lebih sadar mengomentari bahwa tingkah manusia-manusia yang seperti ini tidak ada bedanya dengan binatang. Tidak ada bedanya dengan binatang. Benar apa salah? Harusnya seperti apa? Apakah manusia lebih baik daripada binatang? Ataukah memang manusia itu setara dengan binatang?
 
Taksonomi Manusia
Kalau mau fair sebenarnya selama ini kita memang diajarkan bahwa manusia itu “setara” dengan binatang. Setidaknya dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam yang diajarkan di sekolah-sekolah. Ada yang masih ingat di pelajaran biologi ada yang namanya taksonomi? Ingat tidak, apa taksa tertinggi dalam taksonomi? Taksa tertinggi ialah kingdom. Dan dalam taksonomi yang diakui saat ini dan diajarkan secara luas di sekolah-sekolah dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi setidaknya ada tujuh kingdom: yaitu plantae, fungi, protista, monera, archaea, eunacteria dan animalia. Dan dimanakah posisi manusia? Ternyata manusia masuk di kingdom animalia. Satu kingdom dengan sapi, kerbau, kucing, dan kecoak. Dan yang menggolongkan itu ialah manusia itu sendiri. Sehingga rasa-rasanya, ungkapan bahwa manusia itu tidak lebih baik dari binatang, ada benarnya juga.

Mungkin ada yang protes, dan termasuk juga saya. Saya tentu tidak sudi di satu-kelaskan dengan hewan. Karena saya meyakini bahwa manusia lebih dan bahkan jauh lebih tinggi derajatnya di atas hewan. Sebagaimana firman Allah:

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. At-Tin [95] : 4)

Lantas mengapa kita manusia malah merendahkan diri kita sendiri sementara Allah telah menyatakan bahwa kita adalah bentuk, baik secara fisik, maupun non fisik, termasuk dalam kemampuan akal, emosi, psikisnya, manusia adalah yang terbaik dari seluruh makhluk yang pernah Allah ciptakan.