Sabtu, 29 Juni 2013

Beyond The Munarman

Baru online pagi-pagi sebelum jumatan, wall facebook sudah ramai dengan beberapa postingan tentang kejadian unik di acara Talkshow TVOne. Iya, unik. Soalnya jarang-jarang ada yang berani melakukan itu di depan kamera TV, yah mungkin ada yg berani, tapi di program film laga :D

Saya yang belum tau apa yang terjadi langsung saja membuka halaman google dan mengetikkan keyword yang lagi trend di dinding facebook tadi: "munarman". Wah ternyata keren bo', bayangkan saja di acara talkshow yang disiarkan di seluruh Indonesia, si Munarman berani-beraninya menyiram rekan narasumbernya, Thamrin Tamagola, dengan air yang disediakan untuk minuman narasumber. Kejadian ini menjadi sangat istimewa, karena dilakukan pada acara talkshow yang disaksikan jutaan orang, meskpun hanya lewat layar kaca di tempat masing-masing. Di depan para narasumber justru tidak ada orang, paling cuma kru TV yang bertugas saja.Saya jadi berpikir, mungkin karena penonton tidak hadir langsung di depannya, si Munarman menjadi sebegitu beraninya. Tapi sebenarnya aksi penyiraman itu masih mending, iya masih mending daripada disiram bensin premium subsidi (murahan banget dulu, tapi sekarang udah mahal :D) terus dibakar.

Saya jadi teringat cerita beberapa tahun lalu di kampung orang tua saya. Pada suatu malam ada acara syukuran pernikahan, biasanya semalam sebelum acara akad nikah. Pada saat itu banyak juga anak muda yang datang. Tiba-tiba saja acara tersebut menjadi kacau, karena di kumpulan anak-anak muda itu ada seorang pemuda yang menikam seorang pemuda yang lain dengan pisau. Setelah kumpulan anak muda tersebut ditanyai, ternyata awalnya hanya karena masalah cinta, masalah wanita. Si anak muda yang menikam merasa pacarnya direbut oleh pemuda yang ia tikam tersebut. Kejadian ini tentu saja sangat menghebohkan karena terjadi pada saat sedang dalam acara yang bisa dibilang penuh kebahagiaan dan sukacita, serta dihadiri banyak orang dari berbagai penjuru kampung. Dengan berkaca pada kejadian ini saya jadi berpikir, yang dilakukan Munarman itu masih biasa banget, masih cupu banget malah. Karena ia hanya menyiram air segelas ke wajah, sementara si anak muda tadi menikam dan mengancam nyawa kawannya. Tapi bedanya, masalah anak muda ini hanya masalah sepele khas anak muda: cinta. Yang terlibat dalam masalah ini mungkin 3 orang saja. Tapi Munarman menyiram air itu karena masalah agama. Yang terjadi adalah Thamrin Tamagola memang seringkali melecehkan agama Islam dengan pernyataan-pernyataannya yang liberal, dan Munarman sebagai pihak yang mengkonter pemikirannya tentu ada kebencian, tapi kebenciannya karena dasar kecintaannya pada agama Islam.

Kejadian pagi tadi itu sebenarnya tidak bisa dipandang sebagai kejadian yang secuil, sependek cuplikan rekaman videonya di Youtube yang berdurasi 1,5 menit. Agar lebih jelas mari kita lihat satu persatu. Yang pertama, Thamrin Tomagola, beliau adalah profesor dan dosen sosiologi FISIP UI. Beliau terkenal di dunia Islam akibat sering sekali mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang berbau liberal dan anti-Islam, padahal beliau sendiri konon mengaku beragama Islam. Yang populer adalah pembelaannya terhadap artis pelaku zina Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari, dan dukungannya terhadap Ahmadiyah. Sementara Munarman, dia adalah adalah jubir FPI, advokat, mantan aktivis HAM, mantan ketua umum YLBHI. Acara pagi tadi membahas tentang pembatasan jam malam tempat hiburan di Jakarta, menjelang bulan Ramadhan 1434 H. Dari latar belakang kedua narasumber tersebut (yang live hanya 2 orang narasumber, narasumber ketiga Boy Rafli, dari POLRI lewat telekonferensi) kita bisa melihat 2 kutub yang sangat bertentangan, Thamrin Tomagola adalah pihak liberal yang tidak begitu peduli dengan pembatasan jam malam, sementara Munarman yang pentolan FPI yang terkenal sering melakukan sweeping tempat hiburan atas dasar menolak kemaksiatan di tengah masyarakat pada bagian yang mendukung pembatasan jam malam. Hingga pada satu segmen ketika Munarman menjelaskan namun dipotong oleh Thamrin. Maka melayanglah secangkir air ke wajah Thamrin. Tindakan Munarman menjadi kontroversi, termasuk di kalangan cendekiawan dan aktivis Islam. Ada yang mendukung, karena kejengkelan mereka terhadap Thamrin Tomagola yang katanya pantas disiram. Ada pula yang menyesalkan tindakan Munarman, yang tidak mencontoh metode dakwah Nabi Muhammad SAW yang penuh hikmah dan tanpa aktivitas fisik dan kekerasan.

Terlepas dari kontroversi tersebut saya memilih untuk memandang dengan bijak, dan tidak memvonis secara berlebihan. Memang benar metode dakwah yang diajarkan Rasul tidak boleh menggunakan aktivitas fisik sebagaimana dakwah Rasul pada saat belum tegaknya Daulah Islam di Madinah. Namun di sisi lain saya memahami emosi yang menggejolak di dalam diri Munarman. Saya mencoba mengambil contoh ketika pada zaman Rasulullah masih hidup di Madinah, suatu hari ketika Rasulullah sedang berkumpul bersama para sahabat di Masjid, tiba-tiba saja ada seorang badui masuk ke dalam masjid dan kencing di salah satu dinding masjid. Sontak saja para sahabat hendak menghentikan Badui tersebut, bahkan ada yang sudah mencabut pedang dari sarungnya. Namun untung saja Rasulullah menahan tindakan para sahabat, dan membiarkan badui tersebut menyelesaikan kencingnya, kemudian menyuruh para sahabat untuk mengambil air dan menyiram bekas kencing badui tersebut. Pada kisah tersebut ada hal yang mirip dengan insiden penyiraman oleh Munarman, yaitu ketika sahabat menjadi emosi ketika ada orang yang berbuat suatu hal yang tidak sesuai dengan Islam, dengan Munarman yang juga emosi ketika berhadapan dengan seorang liberal dalam satu diskusi.

Namun, bedanya ialah pada kejadian kencingnya Badui di masjid, ketika itu ada Rasulullah sebagai pemimpin yang bisa mengambil keputusan yang tepat. Tepat karena dengan begitu setelahnya badui tersebut dapat menerima Islam dengan senang hati. Sementara pada saat kejadian Munarman menyiramkan air ke wajah Thamrin, kondisi Islam sedang terpuruk, tak ada seorang pemimpin dan tak ada simbol kekuatan yang dapat meredakan emosi yang bergejolak pada diri muslim yang mencintai Islam dan tidak ingin Islam dilecehkan begitu saja oleh kaum munafik dan kafir. Sehingga emosi yang menggejolak tersebut langsung saja disalurkan secara instan dengan kekerasan, dengan makian, dan penuh kebencian. Saya baru bisa memahami sampai titik ini. Yang juga berarti bahwa umat Islam sangat membutuhkan kuatnya Islam dalam satu kesatuan, sehingga segala macam usaha untuk melemahkan dan menjatuhkan Islam bisa dihentikan tentu sesuai dengan syara'.

Hm, membela Munarman memang sulit. Apalagi dari sisi image FPI yang terus diserang media-media sekuler. Singkatnya, Munarman bukanlah superhero sejenis Superman atau Spiderman, ia hanya manusia biasa yang meyakini Islam adalah jalan hidupnya. Tindakannya memang kontroversi, namun dengan begitu saya merasa saya belum ada apa-apanya dalam perjuangan dakwah Islam. Munarman berani mengambil resiko meskipun namanya tercoreng, sementara saya? Mohon doanya agar saya bisa menjadi lebih baik, kawan.