Selasa, 15 Maret 2011

Sudah Siapkah Konsekuensinya?


Pohon itu memiliki batang yang meliuk-likuk. Saya pandangi bunga-bunganya yang jatuh (saya menyebutnya jatuh sebab bunga itu terlalu berat sehingga tidak bisa dikatakan melayang). Ada yang jatuh di atas ijuk gubuk yang menaungi saya; di atas gundukan tanah; adapula yang terbawa alunan kali kecil berwana kehijauan.

Bunga itu berwarna kuning di intinya dan putih pada pertengahan ujung kelopaknya. Bunga yang sering diselipkan muda-mudi di pura, bunga yang menjadi perlambang kematian.

Pekuburan ini memberikan suasana yang nyaman, tidak seperti lapangan yang saya tinggalkan begitu saja. Lapangan yang biasa dijadikan sebagai tempat bermain sepak bola setiap sore atau sebagai arena ketangkasan ketika rombongan sirkus datang memasang komedi putar, atraksi motor-motor pada papan kayu; atau pun bazaar pakaian dan makanan di lain waktu.

Lapangan, tempat ke 9 teman saya diharuskan berdiri tegak selama beberapa jam untuk mendengarkan pidato yang saya yakin itu-itu juga. Dari kejauhan suara speaker sampai di teliga saya. Upacara dimulai. Penaikan bendera di hari kemerdekaan Indonesia dilangsungkan.

Sementara teman-teman saya dan penduduk dipanggang terik matahari (padahal baru jam 08.00 pagi), saya enak saja tidur-tiduran, membaui wangi bunga kemboja di tempat orang-orang lain sering kesurupan.

Saya memang seperti ini, sewaktu SMA saya lebih memilih melompati pagar seperti maling dan mencari tempat yang aman untuk meminum kopi, bermain judi (sekarang saya anti judi lho) ketimbang mengikuti upacara bendera yang membuat lengan saya pegal karena hormat terlalu lama.

Saya malas untuk melihat ke arah tiang bendera yang dapat membuat keringat saya keluar deras sebab arah pancangnya berada di timur, searah dengan terbitnya matahari pagi.

Ingatan itu, selalu membuat saya tergelitik. Apa yang saya lakukan di masa-masa puber –karena sering mangkir upacara bendera—dianggap oleh seorang teman KKN lain desa, sebagai tindakan yang tidak nasionalis. Ketika dia memberikan diorama rentetan peluru seliweran; pemuda-pemudi yang bertelanjang kaki membawa senapan dan bambu runcing; para pejuang yang mengorbankan kambing piaraan dan lelehan darah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, maka saya tidak mungkin menyangkalnya.

Bagaimana bisa membantah seorang teman --yang saya ketahui, hampir dalam setiap upacara bendera selalu dijadikan komandan upacara?! (sebab dia anggota pasukan pengibar bendera semenjak SD hingga SMA). Lagipula, pada faktanya saya memang tidak nasionalis.

Jangan dahulu membenci, jangan dahulu menjatuhkan vonis terhadap apa yang saya lakukan. Sebelum kalian bertanya “Apakah saya tidak memiliki alasan apapun untuk mengikuti upacara bendera selain malas?”. Baiklah, mari sini berkumpul. Mari anggap, di sekeliling kita ini bukan beton kamar tapi perkebunan kurma.

Nah, saya akan berperan seperti halnya Mush’ab bin Umair ketika membawa missi propaganda dari baginda Rasulullah Muhammad saw. “Apabila engkau anggap, hal yang saya utarakan di depan adalah baik untuk kesehatan pikiran maka silahkan terima; dan jika tidak baik, maka engkau boleh meninggalkannya”.

“…”

Masih mau mendengarkan? Masih ber-syak wa sangka? Tidak?! O…kalau begitu terima kasih. Mari saya utarakan, apa sebab saya bertindak-tanduk tidur di kuburan, ketimbang mengikuti upacara bendera di hari kemerdekaan yang gempita. Untuk jelasnya saya akan utarakan mengenai definisi Nasionalisme.

Harap dimaklumi jika penjelasan saya ini sedikit membosankan karena membutuhkan konsentrasi yang tinggi.

Mulai!.

Pada mula rupanya (nasionalisme) diawali dari keruntuhan imperium Romawi. Semula, dinyatakan Ensiklopedi Pustaka Time Life, berjudul Kelahiran Eropa, Romawi merupakan kesatuan utuh yang tidak terbagi. Namun dalam perjalanannya, imperium tersebut senantiasa direpotkan oleh serangan-serangan bangsa “Barbar” dari Jerman (suku bangsa Visigoth, Ostrogoth, Vandal, Goth).

Bangsa-bangsa Barbar yang para lelakinya gemar menggunakan mentega di rambutnya --agar keliatan ganteng--; bangsa barbar yang wanitanya memiliki mata biru dan berambut pirang itu, melakukan serangan gencar dengan formasi acak tak takut mati (baji) ke arah imperium Romawi bagian Barat.

Karena Romawi Barat merasakan desakan bangsa barbar semakin menguat dan membahayakan, maka Konstantinus sang kaisar membuat manuver politik: membagi Romawi menjadi dua, Romawi Barat dan Timur demi membagi kekuatan militer untuk mejaga kesatuan wilayah.

Sayangnya, pembagian itu tidaklah menguatkan kembali. Tetapi malah, menimbulkan dampak merugikan untuk imperium Romawi.

Kekaisaran Romawi bagian Barat melemah!. Terobosan militer bangsa-bangsa Jerman, yang memang memiliki kegemaran berperang, akhirnya menimbulkan dampak kekisruhan yang membawa dampak keruntuhan. Romawi secara keseluruhan hancur, tetapi wilayah timurnya perlahan-lahan mengasingkan diri dan membuat peradaban baru yang dikenal dengan peradaban Byzantium dengan ibukota Konstantinopel selama lebih dari seribu tahun ke depan.

Usai menghancurkan Romawi, suku bangsa Jerman merubah geopolitik di bekas kekuasaan Romawi Barat. Peta imperium Romawi digantikan dengan peta-peta baru yang pemisahan wilayahnya (teritorial) didasarkan pada asal bangsa, kesamaan bahasa yang melakukan ekspansi.

Pemetaan inilah yang memunculkan Eropa baru, Eropa yang semula dalam bentuk imperium besar menjadi bentuk-bentuk negara suku bangsa (nation state).

Setiap konsep yang ada di dunia ini pasti memiliki alur sejarah yang memiliki tonggaknya sendiri. Mengenai nasionalisme, bisa jadi telah muncul sebelum keruntuhan imperium Romawi. Akan tetapi, tonggak kemunculan-nya adalah ketika Romawi Barat dikuasai suku-bangsa Jerman hingga dianggap sebagai awal kemunculan nasionalisme.

Apa kaitan sejarah nasionalisme dengan saya yang tidak nasionalis?! Untuk mempermudah pembahasan yang nantinya akan saya lantaikan (floor-kan, maksudnya) saya harus mengorek-ngorek fakta pada zaman yang sama ketika Kekhilafahan (negara Islam) muncul di jazirah Arabia, bersanding dengan kemunculan negara nasionalis di bekas imperium Romawi Barat.

Pada saat Eropa dipeta-petakan ke dalam negara-negara suku-bangsa, masyarakat negara Islam yang dipimpin oleh Rasulullah terdiri dari beraneka ragam keyakinan, ras dan bangsa. Masyarakat dalam negara Islam tidak dibedakan berdasarkan suku bangsanya, tidak dibedakan berdasarkan bahasanya.

Selama berada di dalam kekuasaan negara Islam, maka mereka adalah masyarakat negara Islam.

Menjelang Rasulullah wafat, kekuasaan kekhilafahan Islam menyebar menuju reruntuhan Romawi. Di masa Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali hingga sampai pada penaklukan sekaligus penyatuan wilayah konstantinopel (negara Byzantium) melalui serangan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453.

Tak peduli penduduknya berbahasa apa, dan bersuku bangsa apa, pokoknya disatukan dalam Kekhilafahan.

Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa negara Islam bahkan konsep Islam tidak mengenal paham negara kebangsaan (nasionalisme). Masuknya nasionalisme ke dalam dunia Islam berawal ketika pusat Kekhilafahan di Turki --yang memang sudah lemah untuk mengontrol wilayahnya,-- mengalami kegoncangan yang –salah satu di antaranya-- diakibatkan oleh gerakan Turki Mudanya Kemal Pasha yang nantinya dikenal dengan nama Attaturk.

Kemal Pasha mengawali revolusinya dengan memberi baju kebangsaan dan mengakhirinya dengan melenyapkan Kekhilafahan. Dan pada tanggal 3 Maret 1924 hancurlah sistem pemerintahan Islam yang sudah berdiri merentang selama lebih dari 13 abad , setelah Kemal Pasha mengeluarkan maklumat Komite Nasional. yang berisi : penghapusan Kekhilafahan, mengusir Khalifah dan menetapkan pemisahan agama dari negara (2000:313).

Sejak keruntuhan Kekhilafahan, satu-persatu negeri-negeri Islam membebaskan diri dari cengkraman penjajahan dengan mengatasnamakan kekuatan bangsa. Siria, Iraq, Libanon, Palestina, Mesir, Indonesia, Arab yang semula berada dalam wilayah Kekhilafahan, memerdekakan diri dan memproklamirkan diri sebagai negara bangsa.

Negeri-negeri Islam yang semula satu kini menjadi terpecah menjadi puluhan negara bangsa. Jadi, menurut pemahaman saya, nasionalisme itu tidak ada di dalam pemahaman Islam, sebab berdasarkan telusur sejarah memang negara Islam (Kekhilafahan tidak mengenal negara bangsa).

“Interupsi!”

“Silahkan”

“Bukankah di dalam Al Quran terdapat ayat yang menceritakan kita diciptakan bersuku-suku bangsa?!”.

Ya, tetapi apakah ayat itu menitahkan manusia untuk membentuk suatu negara bangsa? Tidak kan?! Ayat tersebut hanya mengutarakan fakta bahwa manusia berasal dari beragam suku bangsa. Dan keanekaragamaan tersebut merupakan keindahan agar manusia saling memahami dan mengerti arti keindahan Allah yang dituangkan dalam keanekaragaman penciptaan suku bangsa.”

“Ya… bagaimana ya…? Tapi kan ada istilah yang mengatakan hubbul wathan minal Iman? bahwa mencintai tanah air merupakan sebagian dari iman? Bukankah Rasulullah mencintai tanah airnya?”.

Rasulullah Muhammad memang mecintai tanah airnya. Bahkan, dalam hijrah menuju Madinah beliau merasa berat untuk meninggalkan kota kelahirannya: Mekah. Tetapi apa yang dilakukan Rasulullah tidak bisa dijadikan justifikasi diadopsinya negara yang didasarkan pada paham kebangsaan dalam konsep kenegaraan Islam.

Semua manusia berhak menyatakan kecintaannya pada tanah air, semua berhak menyatakan dirinya berasal dari suku bangsa tertentu. Saya berhak mengatakan abdi teh urang Sunda (saya orang Sunda), Tulang dari Batak, sampeyan dari Jawa Timur, kaban dari Palembang.

Kita berhak mengakui asal bangsa dan dan mencintainya. Akan tetapi, ketika paham kesuku-bangsaan tersebut dijadikan pengikat antar manusia dalam sebuah negara, maka yang akan terjadi adalah chauvinistic terselubung yang secara gamblang di pertontonkan oleh negara fasis Jerman, Italia, dan Jepang pada perang Dunia ke-II.

Lagipula, jika kita melihat fakta saat ini, ternyata nasionalisme kontraproduktif dengan kekuatan umat Islam. Nasionalisme dalam dunia Islam membuat satu muslim dengan muslim lain --yang memiliki kebangsaan berbeda—bisa saling berseteru. Bukankah pertikaian antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1960-an terjadi karena Nasionalisme yang juga dipicu oleh anggapan bahwa Malaysia merupakan antek imperialis, negara boneka Inggris dan Amerika?!

Nasionalisme merupakan biang keladi atas matinya empati penderitaan kaum muslimin di berbagai belahan dunia. Hanya karena kita berbeda teritori, apa yang terjadi di Palestina dianggap sebagai permasalahan luar negeri Indonesia. Meski ada simpati, tetapi simpati itu hanya berupa kecaman belaka, tidak sampai pada tindak nyata.

Orang Islam dalam negara nasionalisme disuruh memikirkan diri sendiri, bangsa sendiri, bukan penderitaan yang terjadi dan dialami oleh darah dagingnya sendiri!

Betapa sakitnya jika dunia terbalik kemudian kita berada di Palestina kemudian mendengar bahwa saudara kita sendiri yang ada di Indonesia mengatakan “ah, itu urusan Timur Tengah, bukan urusan dalam negeri kita”. Betapa sakithatinya bukan?! Padahal, sewaktu kesatuan kaum muslimin dalam Kekhilafahan ada sebuah contoh yang mengagumkan mengenai solidaritas umatnya Muhammad.

Di masa Mu’tashim Billah menjabat sebagai Khalifah, ada seorang muslimah yang dizalimi. Ia ditarik kerudung dan diperkosa kehormatannya oleh penduduk Amuriyah. Diceritakan, setelah mendengar kabar pelecehan itu Khalifah segera mengirimkan surat pada raja Amuriyah.

Bahwa. ia akan mengirimkan pasukan yang kepalanya ada di Amuriyah dan ekornya ada di Baghdad. Ancaman itu dibuktikan, sementara kepala pasukannya sudah sampai di Amuriyah, iring iringan pasukan lainnya masih berada di Baghdad. Muslimah yang dizalimi dibebaskan. Amuriyah segera ditundukkan oleh Kekhilafahan Islam.

Hanya untuk menjaga kehormatan satu orang muslimah saja Khalifah sampai mengomandoi penyerangan besar. Lantas, apa yang dilakukan berpuluh-puluh pemimpin negeri Islam? Apa yang dilakukan pemimpin Arab Saudi? Apa yang dilakukan pemimpin Yordania? Apa yang dilakukan pemimpin Brunei Darussalam? Apa yang dilakukan pemimpin Indonesia? Apa yang dilakukan pemimpin Malaysia? Apa yang dilakukan pemimpin Mesir dan lain sebagainya ketika galonan juta darah kaum muslimin ditumpahkan di seluruh penjuru dunia?

Di Uzbekistan, saat aktivis Islam ditangkap dan diperlakukan tidak manusiawi; di Chechnya ketika pembantaian dilakukan oleh Slobodan Milosevik; di Palestina ketika Ariel Sharon membombardir Shabra dan Shatilla hingga penembakan Muhammad Aldurra; pembunuhan ratusan santri pesantren di Poso; Pelecehan kaum muslimin di Amerika Serikat, Australia, Inggris sejak tragedi World Trade Center terjadi, pemimpin mana yang bersikap seperti Mutasim Billah???

Jutaan pembantaian tidak membuat satu pemimpin negeri Muslim pun berani mengangkat senjata (kecuali sebagian kecil kaum muslimin yang tergabung dalam komunitas-komunitas politik kaum muslim --yang pada kenyataannya justru dimusuhi oleh pemerintahan nasional negerinya sendiri).

Jika kaum muslim mengambil pemahaman nasionalisme sebagai ikatan, maka kerugianlah yang akan terus terjadi. Contoh yang jelas nampak adalah keharusan seorang muslim untuk membayar passport dan visa Saudi Arabia untuk mengunjungi dan melakukan tawaf (beribadah) di tanah haram: Mekah.

Padahal, di masa Kekhilafahan Islam berdiri seluruh kaum muslimin berhak keluar-masuk wilayah Islam manapun termasuk untuk beribadah menuju Mekah (tanpa mengeluarkan sepeser uangpun untuk karcis masuk ke dalamnya).

“Tapi kan, nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang bermartabat?”

Jika ada orang yang menganggap bahwa nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme bermartabat karena nasionalisme Indonesia tidak merugikan bangsa lain; karena nasionalisme Indonesia memiliki egalitarian dan berprinsip pada kesamaan hak antar bangsa untuk saling menghormati, maka hal itu adalah sebuah upaya pemelintiran!

Sebab, paham nasionalisme merugikan umat manusia dalam masalah distribusi kekayaan.

Dalam kebaikannya sekalipun, nasionalisme tidak memberikan pemerataan distribusi kekayaan untuk umat manusia. Dalam kemartabatannya pun, tidak ada satupun negara bangsa mau melakukan pemerataan sumber daya alam. Negara miskin seperti Ethiophia, Zimbabwe, Rwanda, tetaplah miskin dalam kesendiriannya.

Sedangkan penduduk Brunei Darussalam, Malaysia, tetap kaya dengan kekayaan alamnya.

Dimana letak nasionalisme yang bermartabat seandainya pertolongan negara-negara yang memiliki kekayaan besar hanya berkisar pada penyaluran sedikit bahan pangan bukannya pembagian distribusi kekayaan alam yang merata?

Padahal, tidak ada manusia yang memilih dilahirkan dalam sebuah teritori yang memiliki sumber daya alam yang miskin atau kaya. Bagi saya, nasionalisme bukanlah ide yang fair bagi umat manusia.

“…”

Bagaimana? apakah penjelasan saya cukup mumpuni dijadikan sebagai landasan untuk mengatakan saya tidak ikut upacara bendera karena malas? Tidak kan?! Bahkan lebih dari itu, kini kalian mengetahui landasan pemikiran yang akhirnya menjadikan saya tidak mengikuti upacara 17 Agustusan di lapangan desa.

Bahwa saya tidak mau menghormati bendera, sebab saya tidak mau menghormati sesuatu selain Allah dan yang Allah perintahkan untuk menghormatinya (semisal orang tua).

Beginilah saya.

Nah, sekarang adakah kalian mendapatkan kecerahan seperti halnya Saad bin Muadz ketika mendapatkan pencerahan dari Mushab bin Umair ketika berada di kebun kurma?.

“..”

Ah, saya tidak begitu mau memikirkannya, toh definisi pencerahan pun berbeda di tiap kepala. Saya mengatakan apa yang saya utarakan sebagai pencerahan, sementara –bisa jadi—kalian mengatakan apa yang saya utarakan bukanlah pencerahan. Silahkan memilih, toh manusia dikarunia kemampuan untuk memilih oleh Allah (tentu diembel-embeli oleh konsekuensinya).


Apakah kalian sudah siap dengan konsekuensi atas pilihan kalian? Kalau saya?. … Demi Allah, saya siap!

Sudah Siapkah Konsekuensinya?

Pohon itu memiliki batang yang meliuk-likuk. Saya pandangi bunga-bunganya yang jatuh (saya menyebutnya jatuh sebab bunga itu terlalu berat sehingga tidak bisa dikatakan melayang). Ada yang jatuh di atas ijuk gubuk yang menaungi saya; di atas gundukan tanah; adapula yang terbawa alunan kali kecil berwana kehijauan.

Bunga itu berwarna kuning di intinya dan putih pada pertengahan ujung kelopaknya. Bunga yang sering diselipkan muda-mudi di pura, bunga yang menjadi perlambang kematian.

Pekuburan ini memberikan suasana yang nyaman, tidak seperti lapangan yang saya tinggalkan begitu saja. Lapangan yang biasa dijadikan sebagai tempat bermain sepak bola setiap sore atau sebagai arena ketangkasan ketika rombongan sirkus datang memasang komedi putar, atraksi motor-motor pada papan kayu; atau pun bazaar pakaian dan makanan di lain waktu.

Lapangan, tempat ke 9 teman saya diharuskan berdiri tegak selama beberapa jam untuk mendengarkan pidato yang saya yakin itu-itu juga. Dari kejauhan suara speaker sampai di teliga saya. Upacara dimulai. Penaikan bendera di hari kemerdekaan Indonesia dilangsungkan.

Sementara teman-teman saya dan penduduk dipanggang terik matahari (padahal baru jam 08.00 pagi), saya enak saja tidur-tiduran, membaui wangi bunga kemboja di tempat orang-orang lain sering kesurupan.

Saya memang seperti ini, sewaktu SMA saya lebih memilih melompati pagar seperti maling dan mencari tempat yang aman untuk meminum kopi, bermain judi (sekarang saya anti judi lho) ketimbang mengikuti upacara bendera yang membuat lengan saya pegal karena hormat terlalu lama.

Saya malas untuk melihat ke arah tiang bendera yang dapat membuat keringat saya keluar deras sebab arah pancangnya berada di timur, searah dengan terbitnya matahari pagi.

Ingatan itu, selalu membuat saya tergelitik. Apa yang saya lakukan di masa-masa puber –karena sering mangkir upacara bendera—dianggap oleh seorang teman KKN lain desa, sebagai tindakan yang tidak nasionalis. Ketika dia memberikan diorama rentetan peluru seliweran; pemuda-pemudi yang bertelanjang kaki membawa senapan dan bambu runcing; para pejuang yang mengorbankan kambing piaraan dan lelehan darah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, maka saya tidak mungkin menyangkalnya.

Bagaimana bisa membantah seorang teman --yang saya ketahui, hampir dalam setiap upacara bendera selalu dijadikan komandan upacara?! (sebab dia anggota pasukan pengibar bendera semenjak SD hingga SMA). Lagipula, pada faktanya saya memang tidak nasionalis.

Jangan dahulu membenci, jangan dahulu menjatuhkan vonis terhadap apa yang saya lakukan. Sebelum kalian bertanya “Apakah saya tidak memiliki alasan apapun untuk mengikuti upacara bendera selain malas?”. Baiklah, mari sini berkumpul. Mari anggap, di sekeliling kita ini bukan beton kamar tapi perkebunan kurma.

Nah, saya akan berperan seperti halnya Mush’ab bin Umair ketika membawa missi propaganda dari baginda Rasulullah Muhammad saw. “Apabila engkau anggap, hal yang saya utarakan di depan adalah baik untuk kesehatan pikiran maka silahkan terima; dan jika tidak baik, maka engkau boleh meninggalkannya”.

“…”

Masih mau mendengarkan? Masih ber-syak wa sangka? Tidak?! O…kalau begitu terima kasih. Mari saya utarakan, apa sebab saya bertindak-tanduk tidur di kuburan, ketimbang mengikuti upacara bendera di hari kemerdekaan yang gempita. Untuk jelasnya saya akan utarakan mengenai definisi Nasionalisme.

Harap dimaklumi jika penjelasan saya ini sedikit membosankan karena membutuhkan konsentrasi yang tinggi.

Mulai!.

Pada mula rupanya (nasionalisme) diawali dari keruntuhan imperium Romawi. Semula, dinyatakan Ensiklopedi Pustaka Time Life, berjudul Kelahiran Eropa, Romawi merupakan kesatuan utuh yang tidak terbagi. Namun dalam perjalanannya, imperium tersebut senantiasa direpotkan oleh serangan-serangan bangsa “Barbar” dari Jerman (suku bangsa Visigoth, Ostrogoth, Vandal, Goth).

Bangsa-bangsa Barbar yang para lelakinya gemar menggunakan mentega di rambutnya --agar keliatan ganteng--; bangsa barbar yang wanitanya memiliki mata biru dan berambut pirang itu, melakukan serangan gencar dengan formasi acak tak takut mati (baji) ke arah imperium Romawi bagian Barat.

Karena Romawi Barat merasakan desakan bangsa barbar semakin menguat dan membahayakan, maka Konstantinus sang kaisar membuat manuver politik: membagi Romawi menjadi dua, Romawi Barat dan Timur demi membagi kekuatan militer untuk mejaga kesatuan wilayah.

Sayangnya, pembagian itu tidaklah menguatkan kembali. Tetapi malah, menimbulkan dampak merugikan untuk imperium Romawi.

Kekaisaran Romawi bagian Barat melemah!. Terobosan militer bangsa-bangsa Jerman, yang memang memiliki kegemaran berperang, akhirnya menimbulkan dampak kekisruhan yang membawa dampak keruntuhan. Romawi secara keseluruhan hancur, tetapi wilayah timurnya perlahan-lahan mengasingkan diri dan membuat peradaban baru yang dikenal dengan peradaban Byzantium dengan ibukota Konstantinopel selama lebih dari seribu tahun ke depan.

Usai menghancurkan Romawi, suku bangsa Jerman merubah geopolitik di bekas kekuasaan Romawi Barat. Peta imperium Romawi digantikan dengan peta-peta baru yang pemisahan wilayahnya (teritorial) didasarkan pada asal bangsa, kesamaan bahasa yang melakukan ekspansi.

Pemetaan inilah yang memunculkan Eropa baru, Eropa yang semula dalam bentuk imperium besar menjadi bentuk-bentuk negara suku bangsa (nation state).

Setiap konsep yang ada di dunia ini pasti memiliki alur sejarah yang memiliki tonggaknya sendiri. Mengenai nasionalisme, bisa jadi telah muncul sebelum keruntuhan imperium Romawi. Akan tetapi, tonggak kemunculan-nya adalah ketika Romawi Barat dikuasai suku-bangsa Jerman hingga dianggap sebagai awal kemunculan nasionalisme.

Apa kaitan sejarah nasionalisme dengan saya yang tidak nasionalis?! Untuk mempermudah pembahasan yang nantinya akan saya lantaikan (floor-kan, maksudnya) saya harus mengorek-ngorek fakta pada zaman yang sama ketika Kekhilafahan (negara Islam) muncul di jazirah Arabia, bersanding dengan kemunculan negara nasionalis di bekas imperium Romawi Barat.

Pada saat Eropa dipeta-petakan ke dalam negara-negara suku-bangsa, masyarakat negara Islam yang dipimpin oleh Rasulullah terdiri dari beraneka ragam keyakinan, ras dan bangsa. Masyarakat dalam negara Islam tidak dibedakan berdasarkan suku bangsanya, tidak dibedakan berdasarkan bahasanya.

Selama berada di dalam kekuasaan negara Islam, maka mereka adalah masyarakat negara Islam.

Menjelang Rasulullah wafat, kekuasaan kekhilafahan Islam menyebar menuju reruntuhan Romawi. Di masa Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali hingga sampai pada penaklukan sekaligus penyatuan wilayah konstantinopel (negara Byzantium) melalui serangan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453.

Tak peduli penduduknya berbahasa apa, dan bersuku bangsa apa, pokoknya disatukan dalam Kekhilafahan.

Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa negara Islam bahkan konsep Islam tidak mengenal paham negara kebangsaan (nasionalisme). Masuknya nasionalisme ke dalam dunia Islam berawal ketika pusat Kekhilafahan di Turki --yang memang sudah lemah untuk mengontrol wilayahnya,-- mengalami kegoncangan yang –salah satu di antaranya-- diakibatkan oleh gerakan Turki Mudanya Kemal Pasha yang nantinya dikenal dengan nama Attaturk.

Kemal Pasha mengawali revolusinya dengan memberi baju kebangsaan dan mengakhirinya dengan melenyapkan Kekhilafahan. Dan pada tanggal 3 Maret 1924 hancurlah sistem pemerintahan Islam yang sudah berdiri merentang selama lebih dari 13 abad , setelah Kemal Pasha mengeluarkan maklumat Komite Nasional. yang berisi : penghapusan Kekhilafahan, mengusir Khalifah dan menetapkan pemisahan agama dari negara (2000:313).

Sejak keruntuhan Kekhilafahan, satu-persatu negeri-negeri Islam membebaskan diri dari cengkraman penjajahan dengan mengatasnamakan kekuatan bangsa. Siria, Iraq, Libanon, Palestina, Mesir, Indonesia, Arab yang semula berada dalam wilayah Kekhilafahan, memerdekakan diri dan memproklamirkan diri sebagai negara bangsa.

Negeri-negeri Islam yang semula satu kini menjadi terpecah menjadi puluhan negara bangsa. Jadi, menurut pemahaman saya, nasionalisme itu tidak ada di dalam pemahaman Islam, sebab berdasarkan telusur sejarah memang negara Islam (Kekhilafahan tidak mengenal negara bangsa).

“Interupsi!”

“Silahkan”

“Bukankah di dalam Al Quran terdapat ayat yang menceritakan kita diciptakan bersuku-suku bangsa?!”.

Ya, tetapi apakah ayat itu menitahkan manusia untuk membentuk suatu negara bangsa? Tidak kan?! Ayat tersebut hanya mengutarakan fakta bahwa manusia berasal dari beragam suku bangsa. Dan keanekaragamaan tersebut merupakan keindahan agar manusia saling memahami dan mengerti arti keindahan Allah yang dituangkan dalam keanekaragaman penciptaan suku bangsa.”

“Ya… bagaimana ya…? Tapi kan ada istilah yang mengatakan hubbul wathan minal Iman? bahwa mencintai tanah air merupakan sebagian dari iman? Bukankah Rasulullah mencintai tanah airnya?”.

Rasulullah Muhammad memang mecintai tanah airnya. Bahkan, dalam hijrah menuju Madinah beliau merasa berat untuk meninggalkan kota kelahirannya: Mekah. Tetapi apa yang dilakukan Rasulullah tidak bisa dijadikan justifikasi diadopsinya negara yang didasarkan pada paham kebangsaan dalam konsep kenegaraan Islam.

Semua manusia berhak menyatakan kecintaannya pada tanah air, semua berhak menyatakan dirinya berasal dari suku bangsa tertentu. Saya berhak mengatakan abdi teh urang Sunda (saya orang Sunda), Tulang dari Batak, sampeyan dari Jawa Timur, kaban dari Palembang.

Kita berhak mengakui asal bangsa dan dan mencintainya. Akan tetapi, ketika paham kesuku-bangsaan tersebut dijadikan pengikat antar manusia dalam sebuah negara, maka yang akan terjadi adalah chauvinistic terselubung yang secara gamblang di pertontonkan oleh negara fasis Jerman, Italia, dan Jepang pada perang Dunia ke-II.

Lagipula, jika kita melihat fakta saat ini, ternyata nasionalisme kontraproduktif dengan kekuatan umat Islam. Nasionalisme dalam dunia Islam membuat satu muslim dengan muslim lain --yang memiliki kebangsaan berbeda—bisa saling berseteru. Bukankah pertikaian antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1960-an terjadi karena Nasionalisme yang juga dipicu oleh anggapan bahwa Malaysia merupakan antek imperialis, negara boneka Inggris dan Amerika?!

Nasionalisme merupakan biang keladi atas matinya empati penderitaan kaum muslimin di berbagai belahan dunia. Hanya karena kita berbeda teritori, apa yang terjadi di Palestina dianggap sebagai permasalahan luar negeri Indonesia. Meski ada simpati, tetapi simpati itu hanya berupa kecaman belaka, tidak sampai pada tindak nyata.

Orang Islam dalam negara nasionalisme disuruh memikirkan diri sendiri, bangsa sendiri, bukan penderitaan yang terjadi dan dialami oleh darah dagingnya sendiri!

Betapa sakitnya jika dunia terbalik kemudian kita berada di Palestina kemudian mendengar bahwa saudara kita sendiri yang ada di Indonesia mengatakan “ah, itu urusan Timur Tengah, bukan urusan dalam negeri kita”. Betapa sakithatinya bukan?! Padahal, sewaktu kesatuan kaum muslimin dalam Kekhilafahan ada sebuah contoh yang mengagumkan mengenai solidaritas umatnya Muhammad.

Di masa Mu’tashim Billah menjabat sebagai Khalifah, ada seorang muslimah yang dizalimi. Ia ditarik kerudung dan diperkosa kehormatannya oleh penduduk Amuriyah. Diceritakan, setelah mendengar kabar pelecehan itu Khalifah segera mengirimkan surat pada raja Amuriyah.

Bahwa. ia akan mengirimkan pasukan yang kepalanya ada di Amuriyah dan ekornya ada di Baghdad. Ancaman itu dibuktikan, sementara kepala pasukannya sudah sampai di Amuriyah, iring iringan pasukan lainnya masih berada di Baghdad. Muslimah yang dizalimi dibebaskan. Amuriyah segera ditundukkan oleh Kekhilafahan Islam.

Hanya untuk menjaga kehormatan satu orang muslimah saja Khalifah sampai mengomandoi penyerangan besar. Lantas, apa yang dilakukan berpuluh-puluh pemimpin negeri Islam? Apa yang dilakukan pemimpin Arab Saudi? Apa yang dilakukan pemimpin Yordania? Apa yang dilakukan pemimpin Brunei Darussalam? Apa yang dilakukan pemimpin Indonesia? Apa yang dilakukan pemimpin Malaysia? Apa yang dilakukan pemimpin Mesir dan lain sebagainya ketika galonan juta darah kaum muslimin ditumpahkan di seluruh penjuru dunia?

Di Uzbekistan, saat aktivis Islam ditangkap dan diperlakukan tidak manusiawi; di Chechnya ketika pembantaian dilakukan oleh Slobodan Milosevik; di Palestina ketika Ariel Sharon membombardir Shabra dan Shatilla hingga penembakan Muhammad Aldurra; pembunuhan ratusan santri pesantren di Poso; Pelecehan kaum muslimin di Amerika Serikat, Australia, Inggris sejak tragedi World Trade Center terjadi, pemimpin mana yang bersikap seperti Mutasim Billah???

Jutaan pembantaian tidak membuat satu pemimpin negeri Muslim pun berani mengangkat senjata (kecuali sebagian kecil kaum muslimin yang tergabung dalam komunitas-komunitas politik kaum muslim --yang pada kenyataannya justru dimusuhi oleh pemerintahan nasional negerinya sendiri).

Jika kaum muslim mengambil pemahaman nasionalisme sebagai ikatan, maka kerugianlah yang akan terus terjadi. Contoh yang jelas nampak adalah keharusan seorang muslim untuk membayar passport dan visa Saudi Arabia untuk mengunjungi dan melakukan tawaf (beribadah) di tanah haram: Mekah.

Padahal, di masa Kekhilafahan Islam berdiri seluruh kaum muslimin berhak keluar-masuk wilayah Islam manapun termasuk untuk beribadah menuju Mekah (tanpa mengeluarkan sepeser uangpun untuk karcis masuk ke dalamnya).

“Tapi kan, nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang bermartabat?”

Jika ada orang yang menganggap bahwa nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme bermartabat karena nasionalisme Indonesia tidak merugikan bangsa lain; karena nasionalisme Indonesia memiliki egalitarian dan berprinsip pada kesamaan hak antar bangsa untuk saling menghormati, maka hal itu adalah sebuah upaya pemelintiran!

Sebab, paham nasionalisme merugikan umat manusia dalam masalah distribusi kekayaan.

Dalam kebaikannya sekalipun, nasionalisme tidak memberikan pemerataan distribusi kekayaan untuk umat manusia. Dalam kemartabatannya pun, tidak ada satupun negara bangsa mau melakukan pemerataan sumber daya alam. Negara miskin seperti Ethiophia, Zimbabwe, Rwanda, tetaplah miskin dalam kesendiriannya.

Sedangkan penduduk Brunei Darussalam, Malaysia, tetap kaya dengan kekayaan alamnya.

Dimana letak nasionalisme yang bermartabat seandainya pertolongan negara-negara yang memiliki kekayaan besar hanya berkisar pada penyaluran sedikit bahan pangan bukannya pembagian distribusi kekayaan alam yang merata?

Padahal, tidak ada manusia yang memilih dilahirkan dalam sebuah teritori yang memiliki sumber daya alam yang miskin atau kaya. Bagi saya, nasionalisme bukanlah ide yang fair bagi umat manusia.

“…”

Bagaimana? apakah penjelasan saya cukup mumpuni dijadikan sebagai landasan untuk mengatakan saya tidak ikut upacara bendera karena malas? Tidak kan?! Bahkan lebih dari itu, kini kalian mengetahui landasan pemikiran yang akhirnya menjadikan saya tidak mengikuti upacara 17 Agustusan di lapangan desa.

Bahwa saya tidak mau menghormati bendera, sebab saya tidak mau menghormati sesuatu selain Allah dan yang Allah perintahkan untuk menghormatinya (semisal orang tua).

Beginilah saya.

Nah, sekarang adakah kalian mendapatkan kecerahan seperti halnya Saad bin Muadz ketika mendapatkan pencerahan dari Mushab bin Umair ketika berada di kebun kurma?.

“..”

Ah, saya tidak begitu mau memikirkannya, toh definisi pencerahan pun berbeda di tiap kepala. Saya mengatakan apa yang saya utarakan sebagai pencerahan, sementara –bisa jadi—kalian mengatakan apa yang saya utarakan bukanlah pencerahan. Silahkan memilih, toh manusia dikarunia kemampuan untuk memilih oleh Allah (tentu diembel-embeli oleh konsekuensinya).


Apakah kalian sudah siap dengan konsekuensi atas pilihan kalian? Kalau saya?. … Demi Allah, saya siap!

Selasa, 08 Maret 2011

Warung Mak Erot

Kata sahabat saya, kawannya pernah cerita, dimana kata kawannya tersebut cerita ini adalah kisah nyata. Ceritanya begini, ada seorang pemuda yang berbibir sumbing, sebut saja namanya Mawar (bukan nama sebenarnya). Salah seorang di antara kalian mungkin ada yang berkomentar: koq nama samarannya Mawar?

Kayak nama samaran gadis korban pemerkosaan atau pelecehan seksual aja?! Apa gak ada nama samaran yang lain? Tapi saya akan menjawab: Ah, suka-suka saya yang nulis dong, mau saya kasih nama Mawar atau Bunga, itu kan terserah saya. Suatu masa, Mawar kemudian ditawari oleh kawannya yang aktif dalam kelompok pengajian untuk dioperasi bibirnya agar tak sumbing lagi.

Singkat cerita, akhirnya operasi itu pun berjalan lancar sehingga bibir Mawar tak lagi sumbing, persahabatan mereka pun berjalan semakin baik. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Tahun apa yang paling enak? Hayo tebak!

Jawabnya: tahun Sumedang (lho, itu kan, tahu Sumedang?) Alah, masa bodo! Kalo saya mau nyebutnya tahun Sumedang, kalian mau apa? Sekarang, tahun apa yang paling gede? Jawabnya: tahun isi Sumedang. Kenapa? Iya dong, lha wong kota Sumedangnya aja se-gede itu, apalagi kalo ada tahun yang isinya Sumedang, pasti gede sekali.

Wajan apa yang paling gede? Jawabnya: wajan yang dipake buat ngegoreng tahun isi Sumedang tadi, pasti gede banget! Warung siapa yang paling gede? Nah… kalian pasti udah mulai bisa nebak. Ya, benar, jawabannya adalah: warungnya Mak Erot. Kenapa? Karena cuma warung Mak Erot yang bikin dan jualan tahun isi Sumedang.

Tebak-tebakannya udah dulu, mari kita lanjutkan ceritanya. Waktu pun terus berjalan, entah terkena apa, pemahaman keislaman Mawar menjadi kacau. Layaknya seorang orientalis yang membenci Islam, Mawar pun berani mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kontroversial, berlawanan dengan Islam.

Mawar sangat bersemangat mengkritisi Islam, tapi di sisi lain, Mawar sangat gigih sekali dalam memperjuangkan (baca: menjajakan) ide-ide yang berasal dari ideologi kapitalis yang memang sangat bertentangan dengan Islam. Melihat tindak-tanduk Mawar yang semakin mengkhawatirkan, kawan Mawar yang dulu pernah mengoperasi bibir Mawar pun mendatangi Mawar.

Seakan ingin menagih balas jasa, kawan Mawar meminta agar Mawar tidak meneruskan dan menyebarkan penyimpangannya. Kawan Mawar sepertinya merasa berhak untuk diikuti sarannya karena dulu dialah yang mengoperasi bibir Mawar sehingga tidak sumbing lagi. Namun, Mawar tidak mau mengikuti saran kawannya tersebut, mawar tetap menyebarkan pemahaman yang sebetulnya mengancam aqidah kaum muslimin.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita dari kawan sahabat saya tadi, paling tidak kita bisa mengambil pelajaran dari cerita tadi. Apa pelajarannya? Bahwa Mak Erot jualan tahun isi Sumedang? Bukan. Bukan itu pelajarannya. Tanpa saya beri tahu (hayo, tahu apa yang paling gede?), kalian tentu sudah sangat memahami bahwa ummat saat ini tengah menghadapi problematika yang kompleks; Hubungan sosial masyarakat tidak diatur dengan aturan yang semestinya, sehingga terjadi pelecehan seksual sampai pemerkosaan –mungkin hampir-- setiap hari (lihat aja di acara liputan kriminalitas yang disiarkan di televisi).

Sistem pendidikan juga tidak berpihak kepada rakyat miskin karena memang tidak menggunakan sistem yang semestinya. Sistem perekonomian juga tidak beres sehingga negara terjerat hutang rente dan terjadi penjarahan kekayaan alam yang semestinya dikelola demi kesejahteraan rakyat.

Sistem pemerintahan yang sudah dijalankan sekian lama di negeri ini juga tidak menjanjikan perubahan yang berarti kecuali hanya perbaikan pelipur lara di kala sengsara namun tidak mengentaskan kesengsaraan itu sendiri. Negeri yang kita cintai ini pun masih saja didikte oleh negara adidaya pengusung kapitalis.

Semua permasalahan di atas, termasuk juga masalah Mawar yang sudah keranjingan racun kapitalis (sebetulnya, sudah banyak yang seperti Mawar), menuntut kita untuk bergerak melakukan upaya perubahan agar semua itu sirna dan kita kembali hidup dengan tuntunan yang lurus dalam bermasyarakat dan bernegara, yaitu Islam.

O iya, pelajaran dari cerita kawan sahabat saya di atas adalah: kita tidak bisa mengubah keyakinan seseorang maupun masyarakat hanya dengan memberikan jasa tertentu (misal: pengobatan gratis atau bagi-bagi mie instant). Kalaupun ada perubahan, maka perubahan tersebut bukanlah perubahan yang hakiki, melainkan hanya ikut-ikutan saja tanpa didasari oleh pemahaman yang kuat.

Perubahan seperti itu tidak akan kuat sehingga dengan mudah bisa berubah lagi ke arah yang berbeda. Pelajarannya adalah: jika kita ingin melakukan perubahan masyarakat, maka yang harus kita lakukan terlebih dahulu adalah mengubah pemahaman masyarakat tersebut.

Karena, orang yang memperjuangkan ide-ide kapitalis maupun sosialis --insya Allah-- tidak akan melanjutkan perjuangannya jika dia memahami bahwa ide-ide kapitalis maupun sosialis adalah ide-ide usang, ide-ide busuk yang malah akan membuat kerusakan di muka bumi.

Di samping itu, dia pun diberikan pemahaman bahwa islam adalah sebuah ideologi yang bila diterapkan maka akan menjadi rahmat, bukan hanya untuk kaum muslimin, tapi bagi seluruh alam. Bila dia sudah faham kebusukan ide-ide kapitalis dan sosialis juga faham bahwa islam adalah tuntunan hidup yang benar namun dia masih juga tidak mau mencampakkan kapitalis dan sosialis, maka kemungkinan besar hal itu disebabkan karena dia lebih memilih untuk memperturutkan hawa nafsunya daripada mengikuti kebenaran.

Pelajarannya adalah: jika kita masih menggunakan cara-cara seperti pemberian pengobatan gratis, bagi-bagi mie instan atau sembako gratis untuk merubah masyarakat, maka apa bedanya kita dengan orang-orang di luar islam yang juga menawarkan pengobatan gratis, bagi-bagi mie instan atau sembako gratis untuk mengajak saudara-saudara kita untuk keluar dari islam?

Bahkan, mereka tidak hanya menawarkan pengobatan gratis, tapi juga pendidikan gratis. Mereka tidak hanya memberikan se-kardus mie instan atau se-kantong sembako, tapi juga mau memberikan sapi perah, memberikan kebutuhan pokok untuk berbulan-bulan tanpa harus kerja, asal saudara-saudara kita bersedia keluar dari islam.

Saya sama sekali tidak hendak menyatakan bahwa berbuat baik kepada saudara-saudara kita itu tidak boleh, hal itu adalah amal yang mulia di sisi Allah. Saya hanya ingin berbagi pendapat, bahwa menurut saya, sebaiknya jangan lakukan hal itu untuk mendapat simpati masyarakat agar mengikuti kita.

Atau, bagi kawan-kawan aktivis partai politik, jangan lakukan itu agar masyarakat mau mencoblos partai kawan-kawan dalam pemilu yang akan dihadapi. Kenapa? Karena menurut saya, maaf, hal itu adalah upaya pembodohan masyarakat. Masyarakat diarahkan, maaf, seperti binatang-binatang sirkus yang mau melakukan atraksi sesuai permintaan pawangnya demi mendapatkan makanan.

Pelajaran berikutnya adalah: perlu pemahaman yang jernih tentang metode perubahan masyarakat yang benar sehingga kita tidak melakukan sesuatu yang justru malah tidak ada kaitannya dengan perubahan itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini kita disuguhi bermacam-macam metode perubahan, sehingga diperlukan standar yang benar dalam memilih metode perubahan yang benar.

Saya jadi teringat dengan kejadian waktu saya masih muda dulu (emang sekarang umur berapa? Rahasia, ah! Yang jelas, belum se-tua Mak Erot penjual tahun isi Sumedang). Dalam sebuah kajian, saya mengusulkan sebuah metode perubahan masyarakat yang saya fahami.

Tapi, sang pembicara malah bilang, “Sekarang, kita lihat saja metode perubahan siapa yang paling banyak pengikutnya. Jika ternyata metode perubahan yang anda tawarkan itu paling banyak pengikutnya atau lebih banyak pengikutnya dibandingkan dengan metode perubahan yang saya gunakan sekarang, maka saya akan mengikuti metode perubahan yang anda gunakan”.

Ketika itu, sebetulnya saya gregetan dan sangat ingin sekali menanyakan, “Jika memang Bapak konsisten dengan standar Bapak, yaitu: benar tidaknya metode perubahan itu tergantung dari banyak tidaknya pengikut, maka apakah Bapak pun akan mengikuti metode perubahan Karl Marx jika metode perubahan Karl Marx lebih banyak pengikutnya daripada metode yang Bapak gunakan?

Padahal, bukankah Bapak adalah seorang muslim yang anti sosialis karena sosialis anti Tuhan? Tapi, saya urung menanyakan pertanyaan itu karena waktunya sangat terbatas, saya juga tidak mau membuat keributan, saya lebih memilih kesempatan lain untuk menyampaikannya agar pertanyaan saya bisa diterima dengan kejernihan berpikir.

Sahabat saya pun pernah cerita, bahwa dia pernah berdiskusi dengan seorang kawan senior tentang metode perubahan. Tapi kawan seniornya malah menantang dan mengatakan, “Coba, lebih terkenal mana, ulama yang metode perubahannya kamu ikuti atau ulama yang metode perubahannya saya ikuti? Sepertinya, ulama yang metode perubahannya kamu ikuti itu tidak seterkenal ulama yang metode perubahannya saya ikuti.”

Kalau saja saya ada ketika itu, mungkin saya pun ingin bertanya, “Mas, jika memang ke-terkenalan itu merupakan standar kebenaran dan Mas mau konsisten dengan pendapat tersebut, maka saya mau nanya: lebih terkenal mana, ulama yang metode perubahannya Mas ikuti atau Madonna? Sepertinya, Madonna lebih terkenal daripada Ulama tadi. Jika memang demikian, apakah Mas mau mengikuti Madonna, nyanyi sembari telanjang di muka umum, hanya gara-gara Madonna lebih terkenal? Saya yakin, tidak. Bukan karena tidak akan ada yang mau nonton kalau mas nyanyi sembari telanjang, tapi karena mas faham bahwa telanjang di muka umum adalah terlarang di dalam Islam. Karena Mas sadar, bahwa telanjangnya Madonna di muka umum adalah buah dari sistem kapitalis. Menurut pemahaman saya, standar kebenaran adalah kesesuaian dengan tuntunan Allah yang dicontohkan oleh Rasulullah, Muhammad saw.”

Berbicara masalah metode perubahan, layaknya seperti hendak membuat sebuah makanan. Jika kita ingin membuat tahun isi Sumedang, maka kita harus berguru dan mengikuti cara-cara Mak Erot dalam membuat tahun isi Sumedang. Kenapa? Karena Mak Erot lah yang telah berhasil membuat tahun isi Sumedang.

Begitu pula ketika kita hendak melakukan perubahan masyarakat menuju kebangkitan. Maka kita harus mengikuti orang-orang yang telah berhasil melakukan perubahan yang hakiki menuju kebangkitan yang hakiki pula. Jika demikian, bagi kita kaum muslimin dan bagi manusia seluruh alam, maka tidak ada contoh lain yang lebih baik selain Rasullulah, Muhammad saw., dan para shahabat yang telah berhasil mengubah masyarakat jahiliyah yang penuh kerusakan di setiap sendi kehidupannya menjadi masyarakat yang khas yang menjadikan islam sebagai panduan di setiap sendi kehidupannya.

Ketika kita menelaah kembali catatan sejarah Rasulullah yang telah diyakini kebenarannya tanpa distorsi, maka kita akan menemukan ada beberapa tahapan yang dilalui Rasulullah dan para shahabat dalam upaya mewujudkan perubahan masyarakat:

Sebelum menerima wahyu, rasulullah telah melihat adanya kerusakan yang amat parah dalam tatanan kehidupan ummat manusia yang disaksikannya, kerusakan yang tidak boleh berlangsung lebih lama lagi sehingga harus diubah. Setelah menerima wahyu dari Allah, Rasulullah menyampaikan wahyu tersebut kepada orang-orang terdekatnya terlebih dahulu.

Di antara mereka ada yang menerima dakwah Rasulullah, ada juga yang menolak. Mereka yang menerima dakwah Rasulullah kemudian dibina dengan pemahaman islam menjadi manusia-manusia berkepribadian khas (baca: islam). Manusia-manusia berkepribadian khas ini adalah manusia-manusia yang telah lepas dari racun-racun aqidah selain islam, pemikirannya telah tersucikan dari ideologi-ideologi selain islam.

Manusia-manusia berkepribadian khas ini tidak lah diam melainkan terus bergerak menawarkan keyakinannya (baca: islam) hingga keluarganya dan orang-orang di sekitarnya pun mulai ada yang tertarik dan ingin mengikuti mereka. Lalu, mereka yang tertarik ini pun dibina menjadi manusia-manusia berkepribadian khas pula sehingga terbentuklah satu kelompok orang-orang yang berkepribadian khas.

Kelompok yang memiliki perasaan dan pemikiran yang sama, yaitu perasaan dan pemikiran yang sesuai dengan islam. Mereka rido dengan apa yang diridoi Allah dan mereka benci dengan apa yang dibenci oleh Allah. Mereka selalu mendasarkan pemikirannya pada islam dan menjadikan islam sebagai pemandu mereka dalam berfikir sehingga mereka tidak menjadi pemikir liar seperti kasus Mawar di atas.

Tidak berhenti sampai di situ, kelompok yang dibina oleh Rasulullah ini tidaklah menjadi kelompok yang eksklusif yang menutup diri dari orang lain. Pemahaman mereka tentang islam membuat mereka tidak mau tinggal diam menyaksikan kerusakan di setiap sendi kehidupan.

Mereka pun menyebar dan berinteraksi dengan masyarakat luas untuk menjelaskan segala bentuk kerusakan yang tengah mereka hadapi sekaligus juga menawarkan solusi agar kerusakan tersebut segera terangkat dan sirna dari kehidupan mereka. Sebagai langkah perubahan, mereka tidak menawarkan pengobatan gratis bagi mereka yang sakit fisik, melainkan mereka menawarkan pemahaman islam sebagai obat bagi wabah kemusyrikan (yaitu menyembah selain Allah dan berhukum kepada selain hukum Allah).

Mereka tidak menawarkan mie instan agar gerakan mereka diikuti, melainkan menawarkan pemahaman islam sehingga kemudian masyarakat faham dan bergerak bersama mereka menuju perubahan yang hakiki. Kelompok ini tidak hanya bergerak di masyarakat lapisan bawah, melainkan juga bergerak di semua lapisan masyarakat.

Mereka bergerak tidak dengan kekerasan melainkan dengan kejernihan dan kejelasan pemahaman islam, sehingga masyarakat dari berbagai lapisan itu pun menerima kemurnian islam dan merindukan agar kehidupan mereka dalam bermasyarakat dan bernegara dituntun oleh tuntunan hidup yang benar, yaitu islam.

Setelah islam menyatu dengan kehidupan mereka, menuntun setiap sendi kehidupan mereka, maka mereka pun menjadi ummat yang bangkit, berwibawa, bersih dari kotoran ide-ide sesat seperti yang dijajakan oleh Mawar dan kawan-kawannya, dan ummat ini pun menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Dengan metode perubahan seperti ini, insya Allah kita bisa membentengi masyarakat sehingga tidak teracuni ide-ide kapitalis dan sosialis. Dengan mengikuti metode perubahan Rasulullah ini kita bergerak bersama masyarakat menuju kebangkitan yang hakiki. Nah, sekarang, siapa yang mau bareng-bareng saya belajar bikin tahun isi Sumedang ke Mak Erot? (al.)