Jumat, 20 November 2015

Pelajaran dari Bumi Syam



Revolusi Suriah sudah menginjak tahun kelima. Belum ada tanda-tanda gerakan revolusioner itu akan berakhir, entah berakhir dengan kemenangan ataupun ditutup dengan kekalahan, sebagaimana terjadi di sejumlah negeri Arab sejak Arab Spring muncuk ke permukaan. Di Tunisia, Libya, Mesir, dan Yaman revolusi boleh dikatakan gagal. Pasalnya, pasca revolusi, rezim boleh berganti, tetapi sistem pemerintahan tetap sekuler. Di Mesir, rezim sekuler sekarang bahkan lebih lalim dan kejam dibandingkan dengan rezim sebelumnya. Kegagalan Arab Spring justru menunjukkan sebaliknya, kemenangan intervensi Barat kafir penjajah dalam membajak revolusi.

Adapun di Suriah, meski pilar-pilarnya sudah mulai melemah, rezim Assad tetap masih bisa bertahan hingga kini. Tidak lain karena kuatnya dukungan kafir penjajah Barat, khususnya AS dan Rusia terhadap rezim ini. namun, Barat kafir penjajah, khususnya AS, belum dikatakan berhasil mewujudkan skenarionya di Suriah, yakni membajak revolusi sesuai dengan kepentingan mereka, sebagaimana kesusksesan mereka membajak revolusi di neger-negeri Arab yang lain.

Konflik di Suriah sudah memasuki tahun kelima. Lebih dari 250 ribu orang tewas, termasuk setidaknya 10 ribu anak-anak. Hingga kini konflik Suriah kian memanas. Situasi paling mutakhir dan plaing menonjol disoroti media adalah serangan Rusia terhadap kelompok oposisi. Kemeterian Pertahanan Rusia mengonfirmasi, bahwa lebih dari 50 pesawat jet tempur dan helikopter militer dikerahkan ke Suriah, sejak Rabu 30 September 2015.

Pelajaran Untuk Umat Islam
  • Persekongkolan Kaum Kafir Harbi
Dalam ketegangan yang terjadi belakangan ini, peranan Rusia tampak lebih mendominasi, bahkan sebelum serangan udara yang Rusia lancarkan. Pada 18 Juni 2015, Vladimir Putin bertemu dengan Amir Muhammad bin Salman, Waliy Waliyul ‘Ahdi KSA. Dalam pertemuan tersebut, Rusia memprakrasai pembentukan koalisi Turki – Saudi – Suriah – Yordan dalam menghadapi ancaman organisasi teroris.

Setelah pertemuan ini, terjadilah pertemuan Amir Muhammad bin Salman dengan Ali Mamluk (Kepala Biro Keamanan Suriah). Pertemuan ini kemudian diikuti dengan pertemuan 3 menteri luar negeri: John Kerry (AS), Sergey Lavrov (Rusia), dan ‘Adil Jubair (KSA) di Doha. Dalam konferensi persnya, Kerry menyatakan bahwa ketiganya sepakat akan pentingnya solusi politik dan peranan kelompok oposisi hingga tercapainya solusi itu.

Dari fakta yang beredar nampak dengan jelas adanya keterkaitan antara AS dan Rusia dalam konflik di Suriah. Dua negara yang lebih dikenal memiliki hubungan permusuhan yang kental semenjak masa Perang Dunia. Namun, berbeda dalam hal konflik Suriah, kedua negara ini menjadi sangat akur dan bahkan Rusia mau tunduk pada skenario rancangan AS. AS disini memiliki kepentingan untuk tetap menjaga keberlangsungan pengaruhnya di Timur Tengah dengan terus menjaga agar revolusi Suriah tetap berpihak pada mereka. Sehingga mereka harus memastikan kesiapan sang pengganti Assad agar tetap berada pada pengaruh AS. 

Sementara Rusia bukan berarti ikut dalam konflik Suriah tanpa mengharapkan apapun. Rusia sendiri punya banyak kepentingan di Suriah, yaitu menjaga pangkalan militernya di Tartus – Suriah, sebagai satu-satunya pangkalan militer Rusia di Laut Tengah.

Maka dapat kita lihat betapa 2 negara yang berseteru dapat menjadi bersatu karena kepentingan dan karena yang dilawan ialah kelompok perlawanan yang mencirikan diri mereka pembawa revolusi Islam.

Rusia aslinya adalah sekutu dekat Assad yang partainya memang bercorak sosialis. Sehingga Rusia berkeinginan agar Assad tetap dipertahankan di tampuk kepresidenan. Namun, karena AS menganggap bahwa Assad sudah tidak dapat dijadikan agen yang moderat bagi AS, maka skenario yang diterapkan AS ialah menggantinya atau paling tidak membentuk pemerintahan transisi hingga AS menemukan pengganti yang siap menjadi agen mereka.

Dan keberpihakan kdeuanya yang pasti bertolak belakang dengan keinginan revolusi Islam yang diusung oleh mujahidin. Sehingga serangkaian kesepakatan dirancang untuk meredam gejolak perlawanan dari mujahidin. Mulai dari Perjanjian Jenewa 1 hingga yang terakhir Proposal De Mistura. Kesemuanya bertujuan untuk mendesak mujahidin agar mengakhiri perlawanannya dan menerima opsi yang ditawarkan oleh negara-negara barat yang dimotori AS.

Keterlibatan negara-negara kafir harbi tersebut tidak lain untuk meredam tumbuhnya benih-benih kebangkitan Islam yang diusung oleh mujahidin. Dengan senjata diplomasi dan bermanis muka bahkan hingga tekanan fisik seperti yang dilakukan AS, Rusia, dan yang terbaru Perancis. Hal ini mengingatkan kita pada persitiwa perang Khandaq, dimana Negara Islam Madinah yang kala itu dipimpin oleh Rasulullah Muhammad SAW dikepung oleh tentara sekutu di bawah koordinasi Kafir Quraisy Mekah. Sekalipun pada kenyataannya pasukan sekutu tersebut adalah rival, namun dalam perkara memerangi kaum Muslimin mereka bersatu dalam satu pasukan. Ini yang patut kita ambil pelajarannya bahwa kaum kafir sampai kapan pun tidak akan membiarkan Islam bangkit dengan mudahnya, sampai-sampai mereka harus bersekutu dengan musuhnya yang sehari-hari.
  • Topeng Pemimpin Negeri Islam
Penguasa Arab setuju dengan labgkah Barat dalam menyelesaikan konflik Suriah, yakni melalui jalan politik. Tak ada hal baru dalam beberapa pertemuan yang melibatkan para petinggi Saudi, Rusia, dan AS, selain mempercepat proses terbentuknya pengganti pasca Assad yang loyal terhadap Barat.

Hal yang sama juga dilakukan Turki. Perannya tidak kalah membahayakan bagi tujuan revolusi Suriah. Turki mengklaim mendukung kelompok perlawanan, namun nyatanya itu dilakukan untuk mengontrol arah perjuangan mereka, hingga akhirnya berubah menjadi kelompok moderat. Mereka senghaja dikumpulkan dalam camp-camp khusus, bahkan diberi tempat untuk membuka kantornya di Turki. Beberapa kelompok perlawanan itu kemudia disatukan di dalam sebuah koalisi di bawah pengawasan Robert Ford (delegasi AS).

Maha Besar Allah yang telah membuka topeng-topeng dari para pemimpin negeri-negeri Islam, yang dalam pidatonya seringkali menarik simpati umat Islam dengan mengecam Israel dan musuh-musuh Islam. Namun dalam konflik Suriah terlihat dengan jelas mereka berada di pihak mana. Alih-alih bersikeras mendesak Assad agar menghentikan aksi militernya dan menyerahkan tampuk kepresidenan, mereka malah memihak kepada AS untuk meloloskan agenda besar AS dalam mencengkeram Suriah melalui agen yang loyal pada AS. Tidakkah para pemimpin itu mengetahui berapa ribu rakyat sipil Suriah yang terbunuh oleh aksi militer di bawah komanda Assad? Tidakkah mereka sadar bahwa revolusi Islam yang sesungguhnya diinginkan oleh rakyat Suriah? Namun mereka justru ingin mengaborsi revolusi tersebut dengan mengalihkan dukungan pada AS yang menginginkan presiden boneka pengganti Assad. Maka cukuplah bagi kita umat Islam untuk berharap pada para pemimpin yang bertindak seakan antek dari kafir penjajah.
  • Ketidaksamaan Visi Mujahidin Suriah
Dengan medan konflik yang meluas, tak hanya persoalan Suriah, namun juga beririsan dengan kepentingan-kepentingan lainnya, maka inilah yang menjadikan kelompok-kelompok di Suriah termasuk faksi-faksi bersenjatanya, sulit untuk bersatu.

Keberadaan berbagai kelompok bersenjata ini, apalagi belum kuatnya persatuan di antara mereka, menjadikan secara internal rawan konflik. Sebagai contoh saat ISIS mendeklarasikan negara Islam pada 29 Juni 2014, perselisihan ISIS dengan beberapa faksi bersenjata di Suriah terlihat makin menajam dari sebelumnya. Konflik baru pun bermunculan.

Kelompok-kelompok revolusioner di Suriah ternyata juga mendapat sokongan dari pihak luar yang berbeda-beda. Hal ini memungkinkan adanya ketergantungan mereka pada pihak luar yang bisa jadi memiliki agenda dan kepentingan tersendiri di Suriah.

AS, Turki, Qatar, dan Arab Saudi adalah kekuatan negara asing yang mendukung perlawanan terhadap Assad. Sebaliknya Iran dan Rusia serta Hizbullah dari Libanon adalah kekuatan yang mendukung pemerintahan rezim Assad. Dukungan mereka dapat berupa logistik, diplomatik, atau personel di lapangan.

Untuk menjadikan revolusi Suriah menjadi sebagai revolusi Islam maka mutlak untuk menolak segala campur tangan negara-negara Barat dalam revolusi rakyat ini. negara-negara Barat tidak akan datang begitu saja tanpa agenda dan kepentingan di Suriah. Mereka mengerahkan segenap cara untuk dapat mewujudkan agenda dan kepentingan mereka.

Kelompok-kelompok revolusioner Suriah harus menyadari bahwa keterpecahbelahan mereka merupakan makanan empuk bagi negara-negara barat untuk melakukan politik devide et impera. Karena itu persatuan di antara mereka adalah hal mutlak. Fokus dan berkerjasama dalam satu visi yang sama, kembali pada alasan awal Revolusi Suriah yang digulirkan, yakni bagaimana rezim yang sewenang-wenang ini dapat ditumbangkan, dan sesegera mungkin membangun pemerintahan Islam di Suriah.
  • Black Campaign di Tengah Masyarakat Dunia
Sudah menjadi hal umum bahwa perjuangan kelompok revolusioner di Suriah menjadi bahan perbincangan media massa internasional semenjak dimulakan pada Maret 2011. Ada pemberitaan yang mendukung perjuangan mereka, namun tidak sedikit yang mencitrakan perjuangan kelompok revolusioner bersenjata sebagai gerakan terorisme. Apalagi sejak ISIS mendeklarasikan Negara Islam pada Juni 2014, ditambah dengan pengopinian media pro barat yang menunjukkan tindakan kekejaman dari kelompok ISIS. Terlepas dari kebenaran pemberitaan terkait ISIS tersebut, dapat dengan mudah terlihat bahwa arahnya ialah untuk mencabut rasa simpati masyarakat dunia terhadap perjuangan menggulingkan rezim lalim Bashar Assad. Ditambah lagi dengan kejadian Jumat lalu di Paris, maka opini umum melawan perjuangan revolusioner di Suriah semakin menggejolak, sekalipun yang dikecam adalah ISIS, namun media cenderung untuk mengaburkan batas antara ISIS dan kelompok bersenjata lain yang masih ikhlas dan sungguh-sungguh untuk menyelesaikan perjuangan ini hingga rezim berganti.
  • Masa Depan Pasti Milik Islam
Sekalipun beragam cara dan upaya yang direncanakan oleh kaum kafir penjajah terhadap peluang terjadinya revolusi Islam di Suriah, itu semua tidak membuat janji Allah terhadap kebangkitan Islam menjadi berubah. Kebangkitan Islam merupakan janji Allah, saat ini atau nanti, di Suriah ataupun di tempat lain. Hal yang harus tetap dipegang teguh oleh umat Islam adalah tetap berjuang dengan ikhlas dan sungguh sembari meletakkan harapan hanya kepada Allah semata, bukan kepada pemimpin Barat ataupun pemimpin negeri Islam yang bertopeng, agar kebangkitan Islam dengan Khilafah Islamiyah sesegera mungkin diberikan. Pihak Barat-pun sangat yakin akan hal ini. Bahkan akibat ketakutan mereka akan kebangkitan Islam inilah yang menyebabkan mereka mau dengan senang hati bersekutu dengan negara seteru mereka. Francois Hollande, Presiden Perancis pun mengatakan, “Suriah dibagi menjadi 2 bagian. Sebagian dikendalikan oleh rezim Assad. Sebagian besar lain dikuasai oelh kekacauan dan oposisi, yang tujuan akhirnya adalah Khilafah, dan ini akan menjadi kasus terburuk. Untuk itu, kami tidak akan pernah menerima kejadian tersebut dan hal-hal yang mengarah kesana.” Maka pertanyaan selajutnya, jika orang kafir sebegitu percayanya dengan kebangkitan Islam, maka apakah kita tidak? Cukuplah kita menengok peristiwa perang Khandaq. Selicik-liciknya kaum kafir bersiasat untuk meredupkan cahaya Islam, tidak akan pernah sampai selama umat Islam berpegang teguh pada Islam dan bertawakal pada Allah atas segala sesuatunya. Hasbunallah wa ni’mal wakiil. Ni’mal maula wa ni’mannashir.

(dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

be responsible with your comment....