Allah juga berfirman: “Inilah satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Agar kamu tidak menyembah selain Allah…” (QS. Hud: 1-2).
Rabu, 24 Oktober 2012
Khilafah dan Tauhid
Allah juga berfirman: “Inilah satu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Agar kamu tidak menyembah selain Allah…” (QS. Hud: 1-2).
Selasa, 07 Agustus 2012
Kala Wanita Jadi Tenaga Kerja
Rabu, 01 Agustus 2012
Human Essence
Mari kita lihat satu persatu. Alexander the Great sekian tahun Sebelum Masehi, ketika melakukan ekspedisi dan penaklukan dari Macedonia hingga ke sisi timur dunia, sesungguhnya melakukan apa? Pembunuhan. Kita tengok lagi, Chandra Gupta yang juga pada masa Sebelum Masehi, terkenal dengan pasuka gajahnya, juga melakukan penaklukan-penaklukan, dengan kata lain: Pembunuhan. Begitu pula dengan ketika Muhammad al Fatih menaklukkan Konstantinopel, yang juga terjadi pembunuhan-pembunuhan antar kedua pihak. Kalau kita melihat kondisi sekarang, bisa kita lihat di berita-berita, ada seorang lelaki yang menghabisi nyawa lelaki lain yang ia duga berselingkuh dengan istrinya, ada pula berita tentang tawuran antar mahasiswa yang mengambil korban hingga tewas, dan bahkan berita tentang serangan militer Israel terhadap milisi Hamas di Gaza-Palestina, dan yang baru saja ramai diberitakan, tentang pembantaian terhadap etnis muslim Rohingya di Myanmar. Sebenarnya kita melihat sesuatu yang hakikatna sama, pembunuhan. Yang didorong oleh adanya keinginan manusia untuk mengeksiskan dirinya, dan jika ada yang berusaha untuk menghalangi kehendaknya, maka yang terjadi ialah benturan dan pembunuhan. Sementara apa yang berbeda dengan zaman sebelum masehi dan masa Rasulullah semasih hidup? Tidak ada lain kecuali teknologinya. Pada masa kini kita bsa menyaksikan pembunuhan dengan cara yang cepat dan tidak menguras tenaga. Kita bisa menemukan kasus pembunuhan dengan senjata api, pistol, bom, dan lain-lain. Penyerangan milter pun lebih mematikan dengan tank baja, peluru, roket, mitraliour, bom kluster, bom atom. Secara teknologi, manusia mengalami perubahan, makin maju, makin modern. Namun apakah hakikat manusia berubah? Tidak. Sejak zaman Adam, pembunuhan terhadap Habil oleh Qabil, hingga masanya Hitler dan Bush, manusia memiliki kecenderungan yang sama, membunuh, dalam rangka mempertahankan dirinya dan eksistensinya di muka bumi, termasuk memenuhi seluruh keinginan-keniginannya.
Contoh yang lain, berhubungan seks. Sejak dahulu manusia mengenal dan butuh untuk berhubungan seks, atau memenuhi kebutuhan seks/birahinya. Meskipun kita mengenal adanya larangan bagi para kaum rahib dan pastur di agama budha dan kristen, kebutuhan seks ini tidak dapat dihindarkan, sehingga terkenal kasus-kasus yang berkaitan dengan skandal seks antara pastur dan suster yang tinggal di gereja, antar sesama pastur yang lelaki pun terjadi aktivitas menyimpang dalam rangka memenuhi kebutuhan seksnya. Bahkan pada masa akhir-akhir ini yang ramai dengan "revolusi seks" dengan banyaknya penemuan alat-alat yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan seks manusia. Sebut saja vibrator. Atau berkaitan dengan isu pembatasan jumlah penduduk yang terus menerus diopinikan, ternyata tidak membuat aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan seksnya mati, malah manusia menjadi semain kreatif hingga ada penemuan baru lagi berupa alat dan teknik kontrasepsi, misalnya kondom, Pil KB, dan vasektomi, yang kesemuanya ditujukan agar pembatasan jumlah penduduk tetap bisa dijalankan, kebutuhan seks manusia pun tidak terhalangi.
Contoh yang lain lagi. Pencurian. Pada masa kecil mungkin kita pernah mendengar cerita Ali Baba dan 40 penyamun, yang konon ditulis pertama kali pada sekitar abad 9, ternyata sampai sekarang kita masih saja menemukan yang namanya pencuri. Mulai dari pencuri kecil-kecilan yang target pencuriannya hanya sekadar sandal baru yang berumur kurang dari seminggu yang parkir di depan pintu masjid hingga yang target pencuriannya APBN yang bisa dipepet-pepetin. Bahkan sekarang kita mengenal istilah cyber crime, yang hanya butuh modal akses akses internet, uang di rekening orang lain yang entah siapa, bisa berubah menjadi Jaguar yang parkir di depan rumah si pencuri. Itu semua dilakukan hanya sambil main komputer, facebookan, minum kopi, dll.
Contoh lain lagi, dalam hal masakan, pada zaman purba manusia dalam menyajikan makanan hanya mengenal teknik membakar dan merebus. Sekarang kita mengenal teknik menggoreng, memasak dengan microwave, magic jar, memanggang dengan Aluminium foil, dan lain-lain. Begitu pula dengan racikan bumbu, manusia telah mengenal banyak racikan bumbu masakan. Namun, yang berubah hanyalah teknologinya, pada hakikatnya, manusia tetap sama, membutuhkan makanan untuk tetap hidup, menyukai harta bahkan hingga mencuri, dan membutuhkan penyaluran birahi.
Seorang ulama, mujtahid, dan juga sosiolog, Syekh Taqiyuddin An Nabhani, dari Palestina, pada tahun 1950-an dalam bukunya beliau memetakan esensi manusia ke dalam 3 hal: hajatul udhawiyah, naluri, dan akal. Jadi ada perincian setelah kita membuktikan bahwa tidak ada perubahan pada hakikat manusia. Yang pertama, hajatul udhawiyah atau bahasa Indonesianya kebutuhan pokok. Kebutuhan pokok ini munculnya dari dalam diri sendiri. Dan sifatnya harus dipenuhi, agar manusia bisa tetap hidup. Contohnya makan, minum, bernapas, ekskresi. Dan kebutuhan ini tetap sama pada manusia zaman dulu sampai manusia zaman sekarang dan masa akan datang. Hewan pun demikian, dilahirkan dengan modal kebutuhan pokok ini.
Yang kedua, naluri. Naluri ini munculnya akibat ada stimulan atau rangsangan dari luardiri manusia. Sehingga memenuhi naluri bukanlah sesuatu yang harus dilakukan agar individu manusia bisa tetap hidup. Beliau membagi naluri manusia menjadi 3 hal. Naluri mensucikan, naluri seksual, dan naluri mempertahankan diri.
Naluri mensucikan sesuatu, yang dipenuhi dengan beragama, mengakui keberadaan tuhan, dan menyembah tuhan. Karena ini cuma naluri, maka bagi orang-orang yang tidak mengakui tuhan, bahkan yang mengaku sebagai tuhan tidak akan mati karena itu. Hanya saja naluri ini disalurkan pada hal lain. Semisal orang-orang yang mengaku ateis naluri ini disalurkan pada pensucian terhadap pemikiran para filsuf yang menjelaskan bahwa eksistensi tuhan ialah negatif. Sama juga dengan kaum komunis yang meyakini paham materialisme namun sangat mengagungkan Karl Marx dengan "kitab sucinya" Das Kapital, dan novel-novel para filsuf Rusia. Atau orang-orang yang mengaku beragama, mengakui Allah sebagai Tuhannya namun sesungguhnya sangat memuja sesama manusia. Seperti para pemuja seniman, artis, misalnya Ungu dengan para penggemarnya yang ekstrim, yang katanya mau diapain aja asal sama Pasha. Atau remaja remaji yang sangat mengidolakan Sm*ash yang rela terinjak-injak asalkan bisa ketemu sama personil-personilnya. Ini semua didorong oleh adanya naluri mensucikan dalam diri manusia. Naluri kedua, naluri seksual, termasuk juga dalam naluri ini ialah naluri untuk berkasih sayang dan melanjutkan keturunan. Naluri ini juga munculnya karena ada stimulan dari luar. Dan tidak memenuhinya tidak menyebabkan kematian, namun hanya mengakibatkan kegelisahan. Dan naluri ketiga, naluri mempertahankan diri, mengeksiskan diri. Sudah barang tentu manusia ini eksis dan diakui oleh manusia lain, dan jika ada yang mencoba menafikan eksistensinya atau tidak mengakuinya, maka akan ada aksi yang dilakukan oleh manusia tersebut. Mulai dari kecewa atau menangi jika tidak dihargai atau dilecehkan, hingga kontak fisik jika ada yang menghalangi usahanya untuk eksis. Naluri ini pula yang mendorong manusia memiliki harta sebanyak-banyaknya, bukan karena kebutuhan, tapi karena ingin diakui sebagai orang yang berpunya. Nah, ketiga naluri manusia ini dari zamannya manusia berburu dan meramu hingga zamannya klik dan pencet masih tetap sama, tidak ada perubahan, yang berubah hanya teknologinya.
Dan esensi manusia yang ketiga, akal. Beliau mendefinisikan, akal ialah kemampuan yang dimiliki oleh otak yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, dan menjadi pembeda manusia dengan makhluk lain. Ada 2 input yang diterima oleh akal, yakni informasi yang disampaikan sebelumnya dan fakta yang dapat diindera oleh manusia tersebut. Dari kedua input ini kemudian akal memprosesnya hingga keluarlah output yang berupa keputusan yang ditunjukkan berupa tindakan. Contohnya di depan saya ada sebuah benda, bentuknya silinder, panjangnya sekitar 17 cm, diameternya sekitar 0,75 cm, warna biru, dan tertulis Pilot BPT-P pada benda tersebut. Saya dapat menggunakan benda itu untuk menggaruk punggung saya jika gatal, bahkan untuk ngupil pun bisa. Tapi karena saya sudah tahu, karena diberi tahu, bahwa benda itu ialah pulpen, maka saya menggunakan benda itu untuk menulis dan bukan untuk mengupil, kecuali kadang-kadang, hehe. Nah inilah gunanya akal. Anak bayi yang belum memahami informasi bahwa benda itu adalah pulpen tentu tidak akan menggunakan benda itu sesuai kegunaannya yaitu menulis. Dari zaman dulu sampai sekarang manusia dilahirkan dalam kondisi memiliki akal, meskipun kadar kemampuannya berbeda-beda untuk tiap individu.
Urgensi mengetahui esensi manusia untuk apa?
Kita mengetahui bahwa dalam Islam ada perintah dan larangan yang ditujukan pada manusia. Namun, larangan-larangan dalam Islam bukan merupakan larangan-larangan yang menghalangi kebutuhan pokok manusia. Islam tidak melarang manusia makan nasi, Islam tidak melarang manusia menghirup oksigen, namun Islam melarang perzinahan, korupsi, dan pencurian. Tipikal aturan-aturan Islam seperti itu. Islam membolehkan memuaskan naluri seksual, asalkan mengikti aturannnya. Islam tidak mengekang. Tidak seperti umat lain yang mengharamkan pernikahan, dan juga tidak membebaskan sebebasnya seperti kaum liberal. Islam menentukan perintah dan larangan tersebut tidak lain agar tindakan yang diambil manusia sejalan dengan tujuan dicipatakannya manusia. Hal ini yang harusnya mmbuat kita bangga terhadap ide dan ajaran Islam. Bukannya malah terganggu oleh hadirnya ide-ide dari luar Islam seperti human rights dan liberalisme. Sehingga dengan memahami esensi manusia diharapkan tidak ada lagi alasan bagi kita menolak sistem hukum Islam karena tidak sesuai dengan hakikat manusia.
Itu baru argumen secara logika. Secara dalil syara', apakah kita tidak yakin dengan apa yang diwahyukan Allah azza wa jalla dalam al Qur'an pada surat al Anbiya ayat 107: "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." Yang menunjukkan bahwa apa yang disampaikan oleh Rasulullah memang merupakan ajaran dan tata aturan yang merupakan bukti rahmat dan kasih sayang Allah bagi seluruh makhluk di dunia, dari manusia hingga hewan, termasuk jin.
Pada surat Al Maaidah ayat 3 Allah juga berfirman: "Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah , daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya , dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah , (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Yang menunjukkan bahwa ajaran Islam sudah sempurna bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman, dan tidak perlu dimodifkasi atau dicarikan sistem hukum tandingan yang menggantikannya untuk mengatur kehidupan manusia, seperti yang sering dikatakan oleh kaum liberal dan para politikus yang menolak sistem hukum Islam.
Dan firman Allah pada surat at Taubah ayat 33: "Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai." Allah sendiri telah menjamin bahwa Islam telah ditinggikan, Islam adalah petunjuk, dan pasti akan dimenangkan atas way of life lain di luar Islam. Sehingga jika ada sebagian dari kita yang menolak mati-matian, maka berarti telah terjadi pembangkangan terhadap apa yang Allah sampaikan. Dan kita telah melakukan perbuatan pengkhianatan terhadap apa yang Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam sampaikan dan contohkan. Padahal secara logika aturan buatan manusia sudah terbantahkan, dan yang sesuai esensi/hakikat manusia ialah Islam.
Maka, seandainya kita sudah mengetahui hakikat manusia dan korelasinya terhadap sebuah kepercayaan tentang sistem keberagamaan kita, maka kita harusnya mengabaikan bisikan-bisikan orang yang mengatakan bahwa sistem hukum Islam ialah sistem hukum yang barbar, kuno, tidak sesuai dengan zaman, dan perlu dimodifikasi. Dan apabila justru kita malah membangkang dan menolak keabsahan sistem hukum Islam dalam mengatur kehidupan manusia, maka yang perlu dipertanyakan ialah kemusliman kita. Wallahu a'lam.
Rabu, 31 Agustus 2011
Tetesan Terakhir
Siap-siap Mudik
Kamis, 28 Juli 2011
Egois
Sebenarnya sangat banyak ide-ide yang berseliweran di atas dan di dalam kepala mengenai apa yang akan saya tuliskan. Tapi sebelumnya kita buka dengan basmalah.. “bismillah..”
Akhirnya pilihan tulisan untuk dini hari ini jatuh pada satu tema yang sebenarnya berasal dari diskusi agak ngawur dari bocah-bocah junior pada waktu itu. Saya pikir daripada sayang hanya disaksikan oleh dinding dan karpet yang diam membisu dan tak mampu berkomentar dan mencaci maki, lebih baik saya buat tulisan saja. Mungkin saja belum ada yang nulis tentang ini. Dan saya yakin belum ada, karena ini memang suatu penemuan besar dalam sejarah kehidupan manusia, sejak zaman opa Adam dan oma Hawa, sampai jamannya Sule dan Susis; mungkin.
Sumber pemikiran ini dari teman saya yang memang sangat jenius, dan tidak ada yang ragu bahwa dia itu seorang yang jenius. Justru jika ada yang menganggapnya tidak jenius, maka orang itu harus ragu apakah dia dalam keadaan hidup atau tidak (hahay). Teman saya itu bilang kayak gini, saya lupa redaksi kalimatnya, intinya, teman saya bilang bahwa manusia itu harus egois untuk bisa masuk surga. Manusia harus bisa manfaatkan semua yang ada di dunia ini untuk bikin dirinya bisa masuk surga. Orang lain? gak peduli. saya sendiri aja belum pasti masuk surga? Jadi,tidak ada istilah mengajak masuk surga. Jadi kalo misalkan kita ngajakin orang buat beriman pada Allah, buat rajin beribadah, solat 5 waktu, ngejaga pandangan, itu sebenarnya bukan buat ngajak orang itu buat masuk surga. Tapi itu untuk diri kita. Sebenarnya, pas lagi ngajak itu yang ada di niatan kita, ”Ya Allah, semoga ajakanku ini kau anggap sebagai pahala, dia mau ikut atau nggak, itu bukan urusan saya. Dia masuk surge atau nggak,itu bukan urusan saya. Yang penting saya masuk surge”. Itulah yang teman saya sebut, manusia itu harus egois.
***
Setelah saya pikir-pikir (kebetulan lagi gak males mikir, hehe), betul juga yah.. Manusia itu harus egois. Egois untuk dapat cintanya Allah. Egois untuk dapat ridonya Allah. Kita Cuma nyari itu aja, gak yang lain. Lha memang itu ‘kan tujuan kita untuk hidup?
Kalau dibahasakan dengan bahasa kerennya, “fastabiqul khoirot”. Jadi, manusia tuh cepet-cepetan buat jadi yang terbaik. Dulu-duluan buat jadi yang teratas di akhirat nanti. Tampil semolek-moleknya dan semenawan-menawan mungkin di hadapan Allah. Dan nggak pengen jadi yang jaga pintu surga atau jadi gelandangan di luar surga. Kalo istilah yang lebih ekstrim lagi: “menghalalkan segala cara untuk masuk surga”
Atau, kalau mau dibawa ke kasus dakwah, atau ajak-mengajak, atau nasihat-menasihati, si pengajak ini gak boleh merasa bangga kalau yang diajak itu ngikutin ajakannya, dan gak boleh merasa kecewa kalo ajakannya ga diikutin. Soalnya kalo masih ada perasaan semacam itu berarti si pengajak nih belum egois. Dia masih mikirin orang lain. Si yang diajak mo ngikut ato gak itu bukan urusan si pengajak. Si pengajak harusnya fokus agar bagaimana ajakannya itu dinilai sebagai kerja keras, kerja serius, karya menawan, dan akhirnya Allah mengucapkan, “Good job!”. Mungkin ini yang disebut “ikhlas”.
***
Ambisius dan ikhlas. Itu yang terkandung dalam keegoisan. Ini bukan main-main. Karena ini menyangkut keadaan pada saat di hari penghisaban nanti. Semua orang akan sibuk dengan dirinya masing-masing. Ibu lupa anaknya. Suami lupa istrinya. Teman lupa dengan teman karibnya. Semua saling meninggalkan. Saking menegangkannya hari itu. Saking mengerikannya hari itu. Saking mencekamnya hari itu. Bayangkan saja, hari itu yang menentukan manusia akan berada di surga atau neraka dalam jangka ribuan, jutaan, miliaran tahun, atau mungkin selama-lamanya.
Yakini jalan yang benar, ketahui apa yang harus dilakukan untuk menempuh jalan itu, tempuhlah jalan itu, dan teruslah berjalan, kemudian berlari, akselerasi kalau perlu, hingga tiba di garis finish, semoga kita berjumpa di sana, tapi saya berharap saya yang lebih dulu tiba, karena saya ingin menjadi seorang yang egois, kabulkanlah ya Allah.
Itu aja..
Senin, 25 Juli 2011
Islam Datang Memuliakan Wanita
Islam datang dengan cahaya yang menerangi dunia. Kedzaliman terhadap wanita pun terangkat. Islam menetapkan insaniyyah seorang wanita layaknya seorang lelaki.
Di antara hak-hak dan keistimewaan yang diberikan Islam kepada wanita, antara lain:
1. Islam menghormati anak perempuan dan mempunyai hak dalam memperoleh kasih sayang
“Samakanlah antara anak-anakmu dalam pemberian. Seandainya aku boleh melebihkan seseorang atas yang lain, pasti aku akan melebihkan anak perempuan.” (HR. Baihaqi)
2. Islam mengimbau agar kita memberikan pengajaran kepada kaum wanita
“Barangsiapa yang mempunyai 3 anak perempuan, 3 saudara perempuan, 2 anak perempuan, atau 2 saudara perempuan, lalu ia didik dengan sebaik-baiknya dan menikahkan mereka, maka baginya adalah surga.”
3. Islam telah menjadikan kedudukan ibu sebagai orang yang paling berhak untuk dihormati dan diperlakukan dengan baik
Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa ibu sebagai orang yang paling berhak untuk diperlakukan dengan baik hingga 3 kali, baru setelahnya ayah. Sebagian penyair mengatakan: “seorang ibu adalah sekolah, jika anda menyiapkannya berarti anda menyiapkan generasi yang baik. Seorang ibu adalah guru pertama….”
4. Islam memerintahkan agar menghormati istri dan bergaul secara ma’ruf
“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisaa’: 19)
“Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Hasan Sahih).
“Tidaklah memuliakan wanita kecuali orang yang mulia, dan tidaklah menghinakan wanita kecuali orang yang hina.” (HR. Ibnu Asakir)
Kepemimpinan kaum pria tidaklah untuk merendahkan kehormatan dan harga diri wanita. Ia hanya sebatas kemaslahatan, bahkan wanita wajib menaatinya dalam hal maksiat. Dan suami tidak boleh menyakiti istrinya dan bertindak sewenang-wenang. Kalaupun di Indonesia banyak terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga itu dikarenakan jauhnya para suami dari ajaran Islam yang benar.
Rasulullah bersabda, “setiap jiwa dari anak cucu Adam mempunyai pemimpin,laki-laki adalah pemimpin keluarganya, dan perempuan adalah pemimpin rumahnya.”
5. Termasuk bukti pemuliaan Islam terhadap wanita adalah Allah menyebutkan dalam al-Qur’an berbarengan dengan laki-laki
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 35)
6. Bebasnya seorang wanita memilih calon suaminya
“Seorang gadis tidak boleh dinikahkan kecuali ada izin darinya, demikian pula seorang janda, hingga ia dimintai persetujuannya….” (HR. Bukhari)
7. Surat An Nisa
Surat ini menceritakan beberapa perkara penting yang berkaitan dengan wanita, keluarga, Negara, dan masyarakat. Dan inti surat ini adalah menceritakan tentang wanita dan hak-haknya.
8. Dalam masalah berdakwah
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At Taubah: 71)
9. Mahar dibayar oleh seoarng calon suami sebagai hak calon istrinya, bukan untuk ayahnya
“Dan berikanlah mahar kepada para wanita yang kalian nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari mahar tersebut dengan senang hati maka makanlah pemberian itu sebagai sesuatu yang baik.”
10.Wanita boleh memakai emas dan sutera, sedangkan laki-laki dilarang
11. Islam mengharamkan wanita dijadikan barang warisan sepeninggal suaminya
“Wahai orang-orang yang beriman tidak halal bagi kalian mewarisi para wanita secara paksa.”
12.Wanita dijadikan sebagai salah satu ahli waris dari harta kerabat yang meninggal
“Bagi para lelaki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabat-kerabatnya. Dan bagi para wanita ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabat-kerabat baik sedikit ataupun banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.”
