Jumat, 26 Juni 2015

Membentuk Mahasiswa Ideologis

Sebelum kita membahas topik ini lebih jauh lagi saya akan memberikan data dan fakta berikut:
  • 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011
  • 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011
  • 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI
  • Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM
Sumber : Litbang Kompas

Kini setelah membaca fakta diatas, apa yang ada dipikran anda? Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa ini.
Dengan melihat data-data di atas, ditambah dengan fakta yang teramati di lapangan, kita semakin yakin bahwa bangsa kita sangat jauh dari dari sukses dalam pembinaan karakter. Atau bisa dibilang proses pendidikan karakternya tidak mencapai tujuan sebagaimana yang dicita-citakan oleh pemerintah.

Dalam lingkup KM-ITB, di dalam Rancangan Umum Kaderisasi-nya dinyatakan bahwa proses pendidikan seharusnya memperkaya pemahaman, inspiratif, dan membangun karakter. Bahkan seorang alumni mahasiswa ITB diharapkan mencapai kondisi sadar akan kewajiban memahami realitas bangsa. Menjadi insan terpelajar, insan pendidikan, intelektual, dan cendekiawan dalam sebuah masyarakat. Memiliki daya kritis, objektif, dan multi-disiplin. Mampu menerjemahkan realitas berdasarkan paradigma yang benar. Memiliki kemampuan untuk menerjemahkan realitas dengan kritis dan objektif. Serta memahami potensi kehidupan dalam tatanan hidup bernegara.

Sungguh suatu cita-cita yang sangat mulia. Bagaimanakah cara mencapai parameter-parameter tersebut? Apakah mungkin?

Pembentukan pribadi islami

Dengan tegas saya katakan, mungkin! Islam memberikan suatu solusi yang tepat, praktis, sistematis, dan sistemis. Namun sebelumnya kita harus memahami terlebih dahulu terkait manusia, hakikat manusia.

Manusia semenjak lahir di dunia dibekali dengan 3 potensi kehidupan, yang membuat manusia tetap bisa bertahan hingga saat ini, membuat manusia terus berkembang dari masa ke masa. Yaitu: (1) kebutuhan jasmani; (2) naluri, termasuk juga naluri bertahan hidup, seksualitas, dan beragama; dan (3) akal.

3 hal inilah yang menjadi dasar perbuatan manusia. Seorang lelaki bekerja untuk mencari penghasilan agar bisa bertahan hidup, memenuhi kebutuhan jasmaninya, serta untuk menafkahi keluarganya dalam rangka beribadah. Ketiga potensi kehidupan tersebut dipenuhi oleh seorang manusia berdasarkan standar kebenaran yang dipahaminya. Misalnya, seorang manusia yang mengambil Islam sebagai standar kebenaran, akan memenuhi naluri beragamanya dengan meng-Esa-kan Allah SWT, menegakkan shalat, berpuasa, dan menjalankan semua perintah dan menjauh segala larangan Allah SWT. Maka dari itu penting adanya suatu standar kebenaran bagi manusia, atau kita sebut sebagai ideologi.

Keterpahaman manusia pada ideologi inilah yang akan menghasilkan suatu pola pikir. Jika Islam sebagai standar kebenarannya, maka ia memiliki pola pikir Islami. Namun, dalam menghasilkan kepribadian Islami tidak cukup hanya dengan memiliki pola pikir. Ada satu hal lagi yang harus dimiliki, yakni pola sikap Islami. Pola sikap Islami adalah kecenderungan dalam diri manusia untuk mengambil suatu tindakan, yang didasari oleh Islam. Misalnya, seorang wanita yang pola sikap Islami, akan merasa risih keluar rumah apabila ia tidak mengenakan pakaian yang syar’I (berkerudung dan berjilbab), dan merasa nyaman jika ia menutup auratnya dengan sempurna. Pola sikap ini tidak dapat tertanam  apabila tidak dilakukan. Sehingga satu-satunya cara untuk membentuk pola sikap ini yaitu dengan pembiasaan. 

Mahasiswa ideologis 

Harus dipahami bahwa membentuk karakter dan kepribadian tidak sama dengan memberikan pengajaran layaknya di kelas. Dalam membentuk pola pikir Islami harus melalui proses dialog antara pembina dan yang dibina, harus ada interaksi yang intensif, agar pemahaman tertanam kokoh di dalam diri mahasiswa yang dibina. Penyampaian materi haruslah disertai dengan argumen-argumen yang kuat, menyentuh perasaan, serta mengoreksi pemahaman-pemahaman salah yang sudah dipahami terlebih dahulu oleh mahasiswa yang dibina. Sehingga akan terjadi rekonstruksi pemahaman yang baru yang kuat, menghujam di dalam sanubari, dan teruji kebenarannya baik secara rasional maupun ilmiah.

Sementara penanaman pola sikap Islami dilakukan dengan pembiasaan. Yang mana kebiasaan ini dapat dihasilkan apabila ada latihan sebagai percobaan permulaan dan pengulangan hingga menjadi kebiasaan. Pembiasaan dapat dilakukan dengan aplikasi langsung di dalam kehidupan riil maupun, simulasi-simulasi praktis, serta dengan memunculkan budaya-budaya kampus yang mendukung terbentuknya pola sikap yang Islami.
Selain itu, dengan menyadari besarnya potensi intelektual yang dimiliki oleh mahasiswa ITB, maka potensi kehidupan ketiga (akal) juga harus dibina. Dengan cara melatih kemampuan berpikir mahasiswa, menghubungkan antara fakta dan informasi (termasuk juga ideologi), dan kemudian melakukan analisis dan menghasilkan kesimpulan terkait fakta yang dihadapi.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, dalam membentuk kepribadian dibutuhkan interaksi yang intens, pengontrolan yang ketat terkait pemahaman dan aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa yang dibina. Sehingga, metode mentoring dianggap paling cocok untuk mengakomodasi tujuan-tujuan kaderisasi ini. Dengan peran mentor yang bertanggungjawab terhadap mentee-nya, hingga pemahaman dan kebiasaan Islami terbentuk, maka bisa dikatakan pendidikan karakter dan kepribadian Islam telah berhasil dilaksanakan.

Alumni Impian 

Konsep kaderisasi seperti ini diharapkan dapat menciptakan kaderisasi yang benar. Menciptakan mahasiswa yang memiliki ideologi yang kokoh, memiliki mentalitas juara, dan memiliki inovasi yang cemerlang. Sehingga alumni yang dihasilkan merupakan alumni yang bervisi besar dan dapat berkontribusi secara total untuk peradaban Islam di bawah Khilafah Islamiyah, semata-mata karena mencari ridha Allah SWT.

CERDAS MENYIKAPI TRAGEDI CHARLIE HEBDO

Belum genap sepekan umur 2015, Paris berubah menjadi mencekam setelah 2 orang tak dikenal menyerang kantor majalah satir Charlie Hebdo. Pelaku akhirnya ditembak tewas oleh polisi setempat dalam sebuah aksi pengepungan. Aksi ini sontak memicu reaksi keras dari masyarakat Paris. Hari ahad 11/1 lebih dari sejuta orang ke jalanan di kota Paris, menyuarakan solidaritas dan sekaligus menentang penyerangan terhadap kantor charlie hebdo. Mereka mengusung poster bertuliskan “Je Suis Charlie”. Tidak mau ketinggalan, tokoh dan pemimpin negara ikut ambil bagian dalam aksi solidaritas itu.

Jika kita mau mengamati secara objektif, tragedi ini tidak boleh dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Diduga serangan ini dilatarbelakangi aksi provokasi berupa penistaan Islam dan Nabi Muhammad oleh majalah Charlie Hebdo. Sebagaimana diketahui sejak 2007 Charlie Hebdo rutin merilis karikatur penistaan yang memojokkan nabi muhammad dan Islam.

Penolakan dan penentangan terhadap aksi penistaan Charlie Hebdo tidak sekali dua kali dilakukan. Namun aksi penolakan tersebut bukannya digubris oleh pihak majalah Charlie Hebdo, malah justru mendapatkan dukungan politis dari presiden perancis. Nicholas Sarkozy pada 2007 mengklaim tindakan charlie hebdo merilis karikatur nabi muhammad sebagai wujud kebebasan berekspresi yang harus dilindungi oleh negara. Namun anehnya di satu sisi, wujud protes kaum muslim yang merasa terhina dan terusik dengan karikatur tersebut sama sekali tidak ditanggapi secara positif dan tidak diakomodasi. Bukankah ini merupakan sikap yang berat sebelah dan menunjukkan bahwa doktrin kebebasan berekspresi hanya berlaku bagi kelompok tertentu? Fakta ini pun semakin menguatkan betapa utopisnya cita-cita dari demokrasi yang katanya dapat mengakomodir setiap kelompok, karena pada kenyataannya demokrasi hanya menjadi dalih jika kelompok tertentu teraniaya, sementara sebaliknya jika kelompok yang berseberangan teraniaya maka demokrasi pun seakan tak pernah ada di muka bumi.

Sebagian beropini, ekses dari tragedi ini bisa dibilang justru semakin menyulitkan posisi umat Islam. Serangan terhadap kantor berita Charlie Hebdo jelas tidak bisa menyelesaikan masalah. Serangan itu juga jelas berdampak negatif bagi orang-orang eropa non-muslim, bisa menjauhkan mereka dari usaha mengenal Islam. Serangan itu juga mendatangkan dampak negatif dan kesulitan tersendiri bagi generasi muslim di Eropa. Islamophobia pasca serangan itu terlihat meningkat di Eropa. Di Perancis dan beberapa negara Eropa lainnya, serangan dan pelecehan terhadap masjid dan fasilitas Islam lainnya dikabarkan meningkat. Beberapa masjid yang berada di Perancis menjadi sasaran penyerangan sejumlah kelompok. Kaum muslimah berjilbab di Belgia merasa takut keluar rumah. Mereka khawatir mendapat serangan di jalan.

Jika dikaji lebih jauh, lahirnya tragedi charlie hebdo tidak lepas dari adanya ketidakadilan terhadap kaum minoritas, dalam hal ini Islam, di Eropa. Berkali-kali umat Islam dihina, namun tidak sekalipun kebijakan politik setempat, begitu pula pemimpin negeri-negeri muslim, mendukung mereka. Sehingga muncullah ide untuk melakukan upaya pembelaan diri. Alih-alih melakukan tindakan yang solutif dan komprehensif, sekelompok orang malah menggunakan cara-cara kekerasan yang didorong oleh rasa amarah yang mendalam namun diikuti oleh dampak negatif yang tidak sepele.

Dalam sejarah perjalanan penyebaran Islam tindakan serupa pun pernah terjadi. Di antaranya kisah Sa’ad bin Abi Waqqash yang membunuh orang kafir karena mencoba mengganggunya ketika sedang menjalankan shalat, dan nabi pun mendiamkan. Begitu pula ketika munculnya gerakan nabi palsu selepas wafatnya Rasulullah SAW. Ketika itu khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq RA mengambil kebijakan untuk memerangi gerakan tersebut hingga akar-akarnya.

Dan yang paling terbaru adalah ketika kekhilafahan Utsmani masih tegak. Sekalipun kondisi internal kekhilafahan pada saat itu compang-camping, namun posisi politik khilafah masih disegani bahkan hingga eropa. Terbukti ketika di salah satu kota di inggris berencana menyelenggarakan suatu pementasan yang menistakan Islam, Khalifah Abdul Hamid II mengambil sikap dengan mengeluarkan ultimatum kepada kerajaan Inggris. Akibat ultimatum tersebut, Ratu Inggris sendiri pun ikut melarang penyelenggaraan pementasan tersebut. Dari beberapa cuplikan sejarah tersebut kita dapat melihat dengan jelas bahwa keberadaan suatu institusi dan pemimpin yang betul-betul melindungi Islam dapat menjadi perisai yang paling kuat terhadap penistaan Islam. Bahkan jika posisi politik dan harga diri Islam berada pada posisi yang kuat, tanpa perlu tindakan fisik, hal-hal yang berkaitan dengan penistaan Islam pun dapat lenyap, bahkan dengan kondisi yang compang-camping pun utsmani masih bisa. Atau bisa dibilang tidak mungkin terjadi tragedi Charlie Hebdo apabila umat Islam mau bersatu dibawah pemimpin yang nyata menjadi pelindung umat Islam. Atau bisa dibilang solusi cerdas atas banyaknya penistaan terhadap Islam (Charlie Hebdo, JIL, Ahmadiyah, dll) adalah dengan bersatu di bawah panji Islam dan mengangkat pemimpin yang bisa meninggikan martabat umat Islam di mata dunia, dan menjadi sebab turunnya keberkahan bagi seluruh umat Islam dunia dan akhirat.

Dibalik Suatu Bencana Geologi

Jika kita mengamati alam dan lingkungan dengan seksama, maka akan dengan mudah kita pahami bahwa alam dilengkapi dengan seperangkat mekanisme hukum alam yang membuat alam itu sendiri dapat tetap lestari. Jika pada suatu tempat terjadi proses alamiah yang bersifat konstruktif, maka di bagian lain akan ada proses yang bersifat destruktif. Jika di suatu bagian terjadi peningkatan tekanan, maka di bagian lain akan terjadi proses pelepasan tekanan. Jika di suatu cekungan terjadi sedimentasi, maka di punggungan lain akan terjadi erosi. Begitu seterusnya hingga bumi terus mengalami proses penyeimbangan. Begitu pula dengan mekanisme bencana. Bencana alam merupakan salah satu mekanisme alamiah yang bertujuan untuk menyeimbangkan kondisi bumi, agar tetap lestari.

Sama juga dengan alam yang mencoba mempertahankan kondisi idealnya, manusia pun begitu. Manusia dilengkapi dengan naluri bertahan diri, mempertahankan eksistensi dirinya. Maka manusia merespon mekanisme alamiah ini dengan mengobservasi dan berusaha memprediksi saat terjadinya bencana alam. Sebagaimana yang dilakukan oleh Zhang Heng, ilmuwan hebat dari Dinasti Han di Cina, pada 132 M ketika merancang suatu alat yang menjadi cikal bakal seismograf, yang ia gunakan untuk mengamati pergerakan gempabumi. Hasil observasi tersebut kemudian dijadikan landasan untuk memprakirakan kemungkinan lokasi terjadinya gempabumi di masa yang akan datang. 

Berbagai macam data pengamatan bencana alam dijadikan referensi untuk memprediksi datangnya bencana alam. Mulai dengan mengamati secara subyektif dengan panca indera manusia, hingga di masa kini dengan data yang direkam oleh satelit, yang mampu mengumpulkan data kondisi atmosfer hingga pergerakan lempeng tektonik. Begitupun yang dilakukan oleh Kongres AS pada 1977 ketika mendirikan NEHRP (National Earthquake Hazards Reduction Program) yang ditujukan untuk mengurangi risiko nyawa dan harta benda akibat gempabumi yang terjadi di masa depan di Amerika Serikat melalui pembentukan dan pemeliharaan program pengurangan bahaya gempa yang efektif. Dengan adanya program ini diperoleh pemahaman yang lebih baik tentang penyebab dan lokasi gempabumi akan terjadi, namun belum dapat diandalkan mengenai tanggal dan waktu gempabumi akan terjadi. Kesimpulannya, observasi dan analisis terhadap fakta yang diperoleh selama ini belum cukup untuk melakukan suatu prakiraan bencana yang akurat.

Tidak berhenti sampai disitu, sebab memprediksi dan memprakirakan terjadinya bencana saja tidak cukup untuk mengurangi jumlah korban jiwa dan harta benda. Harus ada upaya untuk mengantisipasi dampak yang dihasilkan ketika bencana terjadi, maka dibuatlah mitigasi bencana. Dengan memahami cara kerja bencana alam dan memanfaatkan hukum-hukum alam untuk mengurangi efek negatif dari bencana tersebut. Ketika manusia telah memahami cara kerja suatu bencana alam, maka mereka akan selalu waspada dan dengan mudah mencari tempat perlindungan yang aman dari dampak negative bencana alam tersebut. Misalnya, dengan menjauh dari pusat erupsi gunungapi ketika terjadi erupsi, atau dengan berlindung di bawah meja ketika terjadi gempabumi. Begitu pula dengan desain-desain konstruksi yang dibangun dalam rangka mengurangi efek negatif bencana alam, yang tidak mungkin dilakukan jika tidak memahami mekanisme alamiah dari bencana alam tersebut. Misalnya konstruksi sabo, yang berguna untuk melokalisir aliran lahar dari suatu gunungapi, dan konstruksi bangunan tahan gempa yang membuat gedung-gedung dapat bertahan lebih lama ketika terjadi gempabumi sehingga orang di dalamnya masih sempat untuk menyelamatkan diri keluar dari gedung tersebut.

Prakiraan dan mitigasi bencana memperlihatkan pada kita bahwa mekanisme alamiah dari bencana diantisipasi oleh manusia juga dengan memahami dan memanfaatkan hukum-hukum alam. Namun, yang perlu kita pahami, suatu bencana alam tidak dapat terjadi begitu saja. Ia memiliki penyebab-penyebab yang spesifik, suatu kondisi yang menyebabkan suatu bencana geologi layak, yang dalam pengamatan manusia sesuai dengan hukum alam. Yang menjadi pertanyaan ialah mengapa ada penyebab tersebut dan mengapa penyebab itu terjadi pada waktu tertentu? Hal ini yang belum terjawab oleh manusia. Bahkan jika kita bertanya lebih jauh lagi, mengapa harus ada hukum alam? Terhadap pertanyaan ini, manusia hanya dapat menjawab sebatas mekanismenya saja. 

Dengan memahami hakikat bencana alam serta hukum alam yang bekerja pada fenomena tersebut, dapat kita sadari bahwa manusia sesungguhnya merupakan makhluk yang terbatas. Manusia bahkan hanya bagian yang sangat kecil dari komponen alam semesta. Alam semesta yang memiliki keteraturan luar biasa, hingga dapat bertahan sejak Big Bang 14 milyar tahun yang lalu merupakan bukti sahih bahwa hukum alam bukanlah suatu hasil proses acak, sebagaimana yang dijadikan dalih oleh para penganut materialisme.

Bencana dan kondisi geologi mengajari kita, bahwa segala yang ada di alam semesta ini memiliki keteraturan yang sungguh sangat rapi. Dapat kita amati bagaimana persebaran gunungapi serta zona rawan gempabumi tersebar secara rapi di batas-batas lempeng tektonik. Bagaimana pula kekuatan bencana alam yang superdahsyat dapat meluluhlantakkan peradaban manusia, yang bahkan proses yang destruktif ini terjadi dengan sangat teratur. Gempabumi diawali dengan foreshock dan diakhiri dengan aftershock. Erupsi gunungapi yang tiap gunung memiliki karakteristik erupsi yang berbeda-beda. Sehingga manusia pun dapat menemukan suatu pola keteraturan hingga dapat beradaptasi dengan bencana dan meminimalisir dampak negatifnya. Jika kita cermat memahami realitas ini, maka kita akan sampai pada suatu pertanyaan: Siapa yang membuat alam semesta ini sedemikian teraturnya? Jika kita menjawabnya, dengan hukum alam, maka pertanyaannya akan berlanjut, siapa yang memformulasikan hukum alam ini hingga semuanya menjadi sangat pas? Sampai disinilah batas manusia. Manusia tidak dapat menjelaskan jawaban dari pertanyaan itu. Pada kondisi seperti ini, manusia akan memahami bahwa sesungguhnya ada suatu subjek yang mempunyai kewenangan dalam mengatur seluruh mekanisme alamiah ini, yang kita sebut sebagai Sang Pencipta (The Creator). 

Oleh karena itu, adalah suatu kepastian bahwa dalam proses berawalnya alam semesta hingga saat ini bisa kita amati, melibatkan suatu desain yang Mahasempurna dan Mahatepat. Adanya penciptaan yang disengaja dan direncanakan oleh Sang Pencipta. Hal ini menjadi kesimpulan umum para ilmuwan, termasuk ilmuwan yang berpaham materialisme yang tidak mengakui adanya Sang Pencipta. Sebagian materialis bertindak dengan lebih menggunakan akal sehat mengenai hal ini. Materialis Inggris, H. P. Lipson menerima kebenaran penciptaan, meskipun ‘tidak dengan senang hati’, ketika dia berkata:

Jika materi hidup bukan disebabkan oleh interaksi atom-atom, kekuatan alam, dan radiasi, bagaimana dia muncul? …. Namun, saya pikir, kita harus …. Mengakui bahwa satu-satunya penjelasan yang bisa diterima adalah penciptaan. Saya tahu bahwa ini sangat dibenci para ahli fisika, demikian pula saya, namun kita tidak boleh menolak apa yang tidak kita sukai jika bukti ekspiermental mendukungnya”. 

Ini adalah kesimpulan yang seharusnya dibuat oleh manusia ketika mengamati semua fenomena alam yang dapat mereka indera di dunia ini. Ada satu hal yang kita dapat ketika kita menyingkirkan semua kemungkinan jawaban yang ada, walaupun kenyataan ini mungkin sesuatu yang tidak dapat dijelaskan sains: “Sang Pencipta mutlak adanya”. God does exist, or should I say: God must exist!