Selasa, 15 Maret 2011

Sudah Siapkah Konsekuensinya?

Pohon itu memiliki batang yang meliuk-likuk. Saya pandangi bunga-bunganya yang jatuh (saya menyebutnya jatuh sebab bunga itu terlalu berat sehingga tidak bisa dikatakan melayang). Ada yang jatuh di atas ijuk gubuk yang menaungi saya; di atas gundukan tanah; adapula yang terbawa alunan kali kecil berwana kehijauan.

Bunga itu berwarna kuning di intinya dan putih pada pertengahan ujung kelopaknya. Bunga yang sering diselipkan muda-mudi di pura, bunga yang menjadi perlambang kematian.

Pekuburan ini memberikan suasana yang nyaman, tidak seperti lapangan yang saya tinggalkan begitu saja. Lapangan yang biasa dijadikan sebagai tempat bermain sepak bola setiap sore atau sebagai arena ketangkasan ketika rombongan sirkus datang memasang komedi putar, atraksi motor-motor pada papan kayu; atau pun bazaar pakaian dan makanan di lain waktu.

Lapangan, tempat ke 9 teman saya diharuskan berdiri tegak selama beberapa jam untuk mendengarkan pidato yang saya yakin itu-itu juga. Dari kejauhan suara speaker sampai di teliga saya. Upacara dimulai. Penaikan bendera di hari kemerdekaan Indonesia dilangsungkan.

Sementara teman-teman saya dan penduduk dipanggang terik matahari (padahal baru jam 08.00 pagi), saya enak saja tidur-tiduran, membaui wangi bunga kemboja di tempat orang-orang lain sering kesurupan.

Saya memang seperti ini, sewaktu SMA saya lebih memilih melompati pagar seperti maling dan mencari tempat yang aman untuk meminum kopi, bermain judi (sekarang saya anti judi lho) ketimbang mengikuti upacara bendera yang membuat lengan saya pegal karena hormat terlalu lama.

Saya malas untuk melihat ke arah tiang bendera yang dapat membuat keringat saya keluar deras sebab arah pancangnya berada di timur, searah dengan terbitnya matahari pagi.

Ingatan itu, selalu membuat saya tergelitik. Apa yang saya lakukan di masa-masa puber –karena sering mangkir upacara bendera—dianggap oleh seorang teman KKN lain desa, sebagai tindakan yang tidak nasionalis. Ketika dia memberikan diorama rentetan peluru seliweran; pemuda-pemudi yang bertelanjang kaki membawa senapan dan bambu runcing; para pejuang yang mengorbankan kambing piaraan dan lelehan darah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, maka saya tidak mungkin menyangkalnya.

Bagaimana bisa membantah seorang teman --yang saya ketahui, hampir dalam setiap upacara bendera selalu dijadikan komandan upacara?! (sebab dia anggota pasukan pengibar bendera semenjak SD hingga SMA). Lagipula, pada faktanya saya memang tidak nasionalis.

Jangan dahulu membenci, jangan dahulu menjatuhkan vonis terhadap apa yang saya lakukan. Sebelum kalian bertanya “Apakah saya tidak memiliki alasan apapun untuk mengikuti upacara bendera selain malas?”. Baiklah, mari sini berkumpul. Mari anggap, di sekeliling kita ini bukan beton kamar tapi perkebunan kurma.

Nah, saya akan berperan seperti halnya Mush’ab bin Umair ketika membawa missi propaganda dari baginda Rasulullah Muhammad saw. “Apabila engkau anggap, hal yang saya utarakan di depan adalah baik untuk kesehatan pikiran maka silahkan terima; dan jika tidak baik, maka engkau boleh meninggalkannya”.

“…”

Masih mau mendengarkan? Masih ber-syak wa sangka? Tidak?! O…kalau begitu terima kasih. Mari saya utarakan, apa sebab saya bertindak-tanduk tidur di kuburan, ketimbang mengikuti upacara bendera di hari kemerdekaan yang gempita. Untuk jelasnya saya akan utarakan mengenai definisi Nasionalisme.

Harap dimaklumi jika penjelasan saya ini sedikit membosankan karena membutuhkan konsentrasi yang tinggi.

Mulai!.

Pada mula rupanya (nasionalisme) diawali dari keruntuhan imperium Romawi. Semula, dinyatakan Ensiklopedi Pustaka Time Life, berjudul Kelahiran Eropa, Romawi merupakan kesatuan utuh yang tidak terbagi. Namun dalam perjalanannya, imperium tersebut senantiasa direpotkan oleh serangan-serangan bangsa “Barbar” dari Jerman (suku bangsa Visigoth, Ostrogoth, Vandal, Goth).

Bangsa-bangsa Barbar yang para lelakinya gemar menggunakan mentega di rambutnya --agar keliatan ganteng--; bangsa barbar yang wanitanya memiliki mata biru dan berambut pirang itu, melakukan serangan gencar dengan formasi acak tak takut mati (baji) ke arah imperium Romawi bagian Barat.

Karena Romawi Barat merasakan desakan bangsa barbar semakin menguat dan membahayakan, maka Konstantinus sang kaisar membuat manuver politik: membagi Romawi menjadi dua, Romawi Barat dan Timur demi membagi kekuatan militer untuk mejaga kesatuan wilayah.

Sayangnya, pembagian itu tidaklah menguatkan kembali. Tetapi malah, menimbulkan dampak merugikan untuk imperium Romawi.

Kekaisaran Romawi bagian Barat melemah!. Terobosan militer bangsa-bangsa Jerman, yang memang memiliki kegemaran berperang, akhirnya menimbulkan dampak kekisruhan yang membawa dampak keruntuhan. Romawi secara keseluruhan hancur, tetapi wilayah timurnya perlahan-lahan mengasingkan diri dan membuat peradaban baru yang dikenal dengan peradaban Byzantium dengan ibukota Konstantinopel selama lebih dari seribu tahun ke depan.

Usai menghancurkan Romawi, suku bangsa Jerman merubah geopolitik di bekas kekuasaan Romawi Barat. Peta imperium Romawi digantikan dengan peta-peta baru yang pemisahan wilayahnya (teritorial) didasarkan pada asal bangsa, kesamaan bahasa yang melakukan ekspansi.

Pemetaan inilah yang memunculkan Eropa baru, Eropa yang semula dalam bentuk imperium besar menjadi bentuk-bentuk negara suku bangsa (nation state).

Setiap konsep yang ada di dunia ini pasti memiliki alur sejarah yang memiliki tonggaknya sendiri. Mengenai nasionalisme, bisa jadi telah muncul sebelum keruntuhan imperium Romawi. Akan tetapi, tonggak kemunculan-nya adalah ketika Romawi Barat dikuasai suku-bangsa Jerman hingga dianggap sebagai awal kemunculan nasionalisme.

Apa kaitan sejarah nasionalisme dengan saya yang tidak nasionalis?! Untuk mempermudah pembahasan yang nantinya akan saya lantaikan (floor-kan, maksudnya) saya harus mengorek-ngorek fakta pada zaman yang sama ketika Kekhilafahan (negara Islam) muncul di jazirah Arabia, bersanding dengan kemunculan negara nasionalis di bekas imperium Romawi Barat.

Pada saat Eropa dipeta-petakan ke dalam negara-negara suku-bangsa, masyarakat negara Islam yang dipimpin oleh Rasulullah terdiri dari beraneka ragam keyakinan, ras dan bangsa. Masyarakat dalam negara Islam tidak dibedakan berdasarkan suku bangsanya, tidak dibedakan berdasarkan bahasanya.

Selama berada di dalam kekuasaan negara Islam, maka mereka adalah masyarakat negara Islam.

Menjelang Rasulullah wafat, kekuasaan kekhilafahan Islam menyebar menuju reruntuhan Romawi. Di masa Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali hingga sampai pada penaklukan sekaligus penyatuan wilayah konstantinopel (negara Byzantium) melalui serangan Muhammad Al-Fatih pada tahun 1453.

Tak peduli penduduknya berbahasa apa, dan bersuku bangsa apa, pokoknya disatukan dalam Kekhilafahan.

Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa negara Islam bahkan konsep Islam tidak mengenal paham negara kebangsaan (nasionalisme). Masuknya nasionalisme ke dalam dunia Islam berawal ketika pusat Kekhilafahan di Turki --yang memang sudah lemah untuk mengontrol wilayahnya,-- mengalami kegoncangan yang –salah satu di antaranya-- diakibatkan oleh gerakan Turki Mudanya Kemal Pasha yang nantinya dikenal dengan nama Attaturk.

Kemal Pasha mengawali revolusinya dengan memberi baju kebangsaan dan mengakhirinya dengan melenyapkan Kekhilafahan. Dan pada tanggal 3 Maret 1924 hancurlah sistem pemerintahan Islam yang sudah berdiri merentang selama lebih dari 13 abad , setelah Kemal Pasha mengeluarkan maklumat Komite Nasional. yang berisi : penghapusan Kekhilafahan, mengusir Khalifah dan menetapkan pemisahan agama dari negara (2000:313).

Sejak keruntuhan Kekhilafahan, satu-persatu negeri-negeri Islam membebaskan diri dari cengkraman penjajahan dengan mengatasnamakan kekuatan bangsa. Siria, Iraq, Libanon, Palestina, Mesir, Indonesia, Arab yang semula berada dalam wilayah Kekhilafahan, memerdekakan diri dan memproklamirkan diri sebagai negara bangsa.

Negeri-negeri Islam yang semula satu kini menjadi terpecah menjadi puluhan negara bangsa. Jadi, menurut pemahaman saya, nasionalisme itu tidak ada di dalam pemahaman Islam, sebab berdasarkan telusur sejarah memang negara Islam (Kekhilafahan tidak mengenal negara bangsa).

“Interupsi!”

“Silahkan”

“Bukankah di dalam Al Quran terdapat ayat yang menceritakan kita diciptakan bersuku-suku bangsa?!”.

Ya, tetapi apakah ayat itu menitahkan manusia untuk membentuk suatu negara bangsa? Tidak kan?! Ayat tersebut hanya mengutarakan fakta bahwa manusia berasal dari beragam suku bangsa. Dan keanekaragamaan tersebut merupakan keindahan agar manusia saling memahami dan mengerti arti keindahan Allah yang dituangkan dalam keanekaragaman penciptaan suku bangsa.”

“Ya… bagaimana ya…? Tapi kan ada istilah yang mengatakan hubbul wathan minal Iman? bahwa mencintai tanah air merupakan sebagian dari iman? Bukankah Rasulullah mencintai tanah airnya?”.

Rasulullah Muhammad memang mecintai tanah airnya. Bahkan, dalam hijrah menuju Madinah beliau merasa berat untuk meninggalkan kota kelahirannya: Mekah. Tetapi apa yang dilakukan Rasulullah tidak bisa dijadikan justifikasi diadopsinya negara yang didasarkan pada paham kebangsaan dalam konsep kenegaraan Islam.

Semua manusia berhak menyatakan kecintaannya pada tanah air, semua berhak menyatakan dirinya berasal dari suku bangsa tertentu. Saya berhak mengatakan abdi teh urang Sunda (saya orang Sunda), Tulang dari Batak, sampeyan dari Jawa Timur, kaban dari Palembang.

Kita berhak mengakui asal bangsa dan dan mencintainya. Akan tetapi, ketika paham kesuku-bangsaan tersebut dijadikan pengikat antar manusia dalam sebuah negara, maka yang akan terjadi adalah chauvinistic terselubung yang secara gamblang di pertontonkan oleh negara fasis Jerman, Italia, dan Jepang pada perang Dunia ke-II.

Lagipula, jika kita melihat fakta saat ini, ternyata nasionalisme kontraproduktif dengan kekuatan umat Islam. Nasionalisme dalam dunia Islam membuat satu muslim dengan muslim lain --yang memiliki kebangsaan berbeda—bisa saling berseteru. Bukankah pertikaian antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1960-an terjadi karena Nasionalisme yang juga dipicu oleh anggapan bahwa Malaysia merupakan antek imperialis, negara boneka Inggris dan Amerika?!

Nasionalisme merupakan biang keladi atas matinya empati penderitaan kaum muslimin di berbagai belahan dunia. Hanya karena kita berbeda teritori, apa yang terjadi di Palestina dianggap sebagai permasalahan luar negeri Indonesia. Meski ada simpati, tetapi simpati itu hanya berupa kecaman belaka, tidak sampai pada tindak nyata.

Orang Islam dalam negara nasionalisme disuruh memikirkan diri sendiri, bangsa sendiri, bukan penderitaan yang terjadi dan dialami oleh darah dagingnya sendiri!

Betapa sakitnya jika dunia terbalik kemudian kita berada di Palestina kemudian mendengar bahwa saudara kita sendiri yang ada di Indonesia mengatakan “ah, itu urusan Timur Tengah, bukan urusan dalam negeri kita”. Betapa sakithatinya bukan?! Padahal, sewaktu kesatuan kaum muslimin dalam Kekhilafahan ada sebuah contoh yang mengagumkan mengenai solidaritas umatnya Muhammad.

Di masa Mu’tashim Billah menjabat sebagai Khalifah, ada seorang muslimah yang dizalimi. Ia ditarik kerudung dan diperkosa kehormatannya oleh penduduk Amuriyah. Diceritakan, setelah mendengar kabar pelecehan itu Khalifah segera mengirimkan surat pada raja Amuriyah.

Bahwa. ia akan mengirimkan pasukan yang kepalanya ada di Amuriyah dan ekornya ada di Baghdad. Ancaman itu dibuktikan, sementara kepala pasukannya sudah sampai di Amuriyah, iring iringan pasukan lainnya masih berada di Baghdad. Muslimah yang dizalimi dibebaskan. Amuriyah segera ditundukkan oleh Kekhilafahan Islam.

Hanya untuk menjaga kehormatan satu orang muslimah saja Khalifah sampai mengomandoi penyerangan besar. Lantas, apa yang dilakukan berpuluh-puluh pemimpin negeri Islam? Apa yang dilakukan pemimpin Arab Saudi? Apa yang dilakukan pemimpin Yordania? Apa yang dilakukan pemimpin Brunei Darussalam? Apa yang dilakukan pemimpin Indonesia? Apa yang dilakukan pemimpin Malaysia? Apa yang dilakukan pemimpin Mesir dan lain sebagainya ketika galonan juta darah kaum muslimin ditumpahkan di seluruh penjuru dunia?

Di Uzbekistan, saat aktivis Islam ditangkap dan diperlakukan tidak manusiawi; di Chechnya ketika pembantaian dilakukan oleh Slobodan Milosevik; di Palestina ketika Ariel Sharon membombardir Shabra dan Shatilla hingga penembakan Muhammad Aldurra; pembunuhan ratusan santri pesantren di Poso; Pelecehan kaum muslimin di Amerika Serikat, Australia, Inggris sejak tragedi World Trade Center terjadi, pemimpin mana yang bersikap seperti Mutasim Billah???

Jutaan pembantaian tidak membuat satu pemimpin negeri Muslim pun berani mengangkat senjata (kecuali sebagian kecil kaum muslimin yang tergabung dalam komunitas-komunitas politik kaum muslim --yang pada kenyataannya justru dimusuhi oleh pemerintahan nasional negerinya sendiri).

Jika kaum muslim mengambil pemahaman nasionalisme sebagai ikatan, maka kerugianlah yang akan terus terjadi. Contoh yang jelas nampak adalah keharusan seorang muslim untuk membayar passport dan visa Saudi Arabia untuk mengunjungi dan melakukan tawaf (beribadah) di tanah haram: Mekah.

Padahal, di masa Kekhilafahan Islam berdiri seluruh kaum muslimin berhak keluar-masuk wilayah Islam manapun termasuk untuk beribadah menuju Mekah (tanpa mengeluarkan sepeser uangpun untuk karcis masuk ke dalamnya).

“Tapi kan, nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang bermartabat?”

Jika ada orang yang menganggap bahwa nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme bermartabat karena nasionalisme Indonesia tidak merugikan bangsa lain; karena nasionalisme Indonesia memiliki egalitarian dan berprinsip pada kesamaan hak antar bangsa untuk saling menghormati, maka hal itu adalah sebuah upaya pemelintiran!

Sebab, paham nasionalisme merugikan umat manusia dalam masalah distribusi kekayaan.

Dalam kebaikannya sekalipun, nasionalisme tidak memberikan pemerataan distribusi kekayaan untuk umat manusia. Dalam kemartabatannya pun, tidak ada satupun negara bangsa mau melakukan pemerataan sumber daya alam. Negara miskin seperti Ethiophia, Zimbabwe, Rwanda, tetaplah miskin dalam kesendiriannya.

Sedangkan penduduk Brunei Darussalam, Malaysia, tetap kaya dengan kekayaan alamnya.

Dimana letak nasionalisme yang bermartabat seandainya pertolongan negara-negara yang memiliki kekayaan besar hanya berkisar pada penyaluran sedikit bahan pangan bukannya pembagian distribusi kekayaan alam yang merata?

Padahal, tidak ada manusia yang memilih dilahirkan dalam sebuah teritori yang memiliki sumber daya alam yang miskin atau kaya. Bagi saya, nasionalisme bukanlah ide yang fair bagi umat manusia.

“…”

Bagaimana? apakah penjelasan saya cukup mumpuni dijadikan sebagai landasan untuk mengatakan saya tidak ikut upacara bendera karena malas? Tidak kan?! Bahkan lebih dari itu, kini kalian mengetahui landasan pemikiran yang akhirnya menjadikan saya tidak mengikuti upacara 17 Agustusan di lapangan desa.

Bahwa saya tidak mau menghormati bendera, sebab saya tidak mau menghormati sesuatu selain Allah dan yang Allah perintahkan untuk menghormatinya (semisal orang tua).

Beginilah saya.

Nah, sekarang adakah kalian mendapatkan kecerahan seperti halnya Saad bin Muadz ketika mendapatkan pencerahan dari Mushab bin Umair ketika berada di kebun kurma?.

“..”

Ah, saya tidak begitu mau memikirkannya, toh definisi pencerahan pun berbeda di tiap kepala. Saya mengatakan apa yang saya utarakan sebagai pencerahan, sementara –bisa jadi—kalian mengatakan apa yang saya utarakan bukanlah pencerahan. Silahkan memilih, toh manusia dikarunia kemampuan untuk memilih oleh Allah (tentu diembel-embeli oleh konsekuensinya).


Apakah kalian sudah siap dengan konsekuensi atas pilihan kalian? Kalau saya?. … Demi Allah, saya siap!

Selasa, 08 Maret 2011

Warung Mak Erot

Kata sahabat saya, kawannya pernah cerita, dimana kata kawannya tersebut cerita ini adalah kisah nyata. Ceritanya begini, ada seorang pemuda yang berbibir sumbing, sebut saja namanya Mawar (bukan nama sebenarnya). Salah seorang di antara kalian mungkin ada yang berkomentar: koq nama samarannya Mawar?

Kayak nama samaran gadis korban pemerkosaan atau pelecehan seksual aja?! Apa gak ada nama samaran yang lain? Tapi saya akan menjawab: Ah, suka-suka saya yang nulis dong, mau saya kasih nama Mawar atau Bunga, itu kan terserah saya. Suatu masa, Mawar kemudian ditawari oleh kawannya yang aktif dalam kelompok pengajian untuk dioperasi bibirnya agar tak sumbing lagi.

Singkat cerita, akhirnya operasi itu pun berjalan lancar sehingga bibir Mawar tak lagi sumbing, persahabatan mereka pun berjalan semakin baik. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Tahun apa yang paling enak? Hayo tebak!

Jawabnya: tahun Sumedang (lho, itu kan, tahu Sumedang?) Alah, masa bodo! Kalo saya mau nyebutnya tahun Sumedang, kalian mau apa? Sekarang, tahun apa yang paling gede? Jawabnya: tahun isi Sumedang. Kenapa? Iya dong, lha wong kota Sumedangnya aja se-gede itu, apalagi kalo ada tahun yang isinya Sumedang, pasti gede sekali.

Wajan apa yang paling gede? Jawabnya: wajan yang dipake buat ngegoreng tahun isi Sumedang tadi, pasti gede banget! Warung siapa yang paling gede? Nah… kalian pasti udah mulai bisa nebak. Ya, benar, jawabannya adalah: warungnya Mak Erot. Kenapa? Karena cuma warung Mak Erot yang bikin dan jualan tahun isi Sumedang.

Tebak-tebakannya udah dulu, mari kita lanjutkan ceritanya. Waktu pun terus berjalan, entah terkena apa, pemahaman keislaman Mawar menjadi kacau. Layaknya seorang orientalis yang membenci Islam, Mawar pun berani mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kontroversial, berlawanan dengan Islam.

Mawar sangat bersemangat mengkritisi Islam, tapi di sisi lain, Mawar sangat gigih sekali dalam memperjuangkan (baca: menjajakan) ide-ide yang berasal dari ideologi kapitalis yang memang sangat bertentangan dengan Islam. Melihat tindak-tanduk Mawar yang semakin mengkhawatirkan, kawan Mawar yang dulu pernah mengoperasi bibir Mawar pun mendatangi Mawar.

Seakan ingin menagih balas jasa, kawan Mawar meminta agar Mawar tidak meneruskan dan menyebarkan penyimpangannya. Kawan Mawar sepertinya merasa berhak untuk diikuti sarannya karena dulu dialah yang mengoperasi bibir Mawar sehingga tidak sumbing lagi. Namun, Mawar tidak mau mengikuti saran kawannya tersebut, mawar tetap menyebarkan pemahaman yang sebetulnya mengancam aqidah kaum muslimin.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita dari kawan sahabat saya tadi, paling tidak kita bisa mengambil pelajaran dari cerita tadi. Apa pelajarannya? Bahwa Mak Erot jualan tahun isi Sumedang? Bukan. Bukan itu pelajarannya. Tanpa saya beri tahu (hayo, tahu apa yang paling gede?), kalian tentu sudah sangat memahami bahwa ummat saat ini tengah menghadapi problematika yang kompleks; Hubungan sosial masyarakat tidak diatur dengan aturan yang semestinya, sehingga terjadi pelecehan seksual sampai pemerkosaan –mungkin hampir-- setiap hari (lihat aja di acara liputan kriminalitas yang disiarkan di televisi).

Sistem pendidikan juga tidak berpihak kepada rakyat miskin karena memang tidak menggunakan sistem yang semestinya. Sistem perekonomian juga tidak beres sehingga negara terjerat hutang rente dan terjadi penjarahan kekayaan alam yang semestinya dikelola demi kesejahteraan rakyat.

Sistem pemerintahan yang sudah dijalankan sekian lama di negeri ini juga tidak menjanjikan perubahan yang berarti kecuali hanya perbaikan pelipur lara di kala sengsara namun tidak mengentaskan kesengsaraan itu sendiri. Negeri yang kita cintai ini pun masih saja didikte oleh negara adidaya pengusung kapitalis.

Semua permasalahan di atas, termasuk juga masalah Mawar yang sudah keranjingan racun kapitalis (sebetulnya, sudah banyak yang seperti Mawar), menuntut kita untuk bergerak melakukan upaya perubahan agar semua itu sirna dan kita kembali hidup dengan tuntunan yang lurus dalam bermasyarakat dan bernegara, yaitu Islam.

O iya, pelajaran dari cerita kawan sahabat saya di atas adalah: kita tidak bisa mengubah keyakinan seseorang maupun masyarakat hanya dengan memberikan jasa tertentu (misal: pengobatan gratis atau bagi-bagi mie instant). Kalaupun ada perubahan, maka perubahan tersebut bukanlah perubahan yang hakiki, melainkan hanya ikut-ikutan saja tanpa didasari oleh pemahaman yang kuat.

Perubahan seperti itu tidak akan kuat sehingga dengan mudah bisa berubah lagi ke arah yang berbeda. Pelajarannya adalah: jika kita ingin melakukan perubahan masyarakat, maka yang harus kita lakukan terlebih dahulu adalah mengubah pemahaman masyarakat tersebut.

Karena, orang yang memperjuangkan ide-ide kapitalis maupun sosialis --insya Allah-- tidak akan melanjutkan perjuangannya jika dia memahami bahwa ide-ide kapitalis maupun sosialis adalah ide-ide usang, ide-ide busuk yang malah akan membuat kerusakan di muka bumi.

Di samping itu, dia pun diberikan pemahaman bahwa islam adalah sebuah ideologi yang bila diterapkan maka akan menjadi rahmat, bukan hanya untuk kaum muslimin, tapi bagi seluruh alam. Bila dia sudah faham kebusukan ide-ide kapitalis dan sosialis juga faham bahwa islam adalah tuntunan hidup yang benar namun dia masih juga tidak mau mencampakkan kapitalis dan sosialis, maka kemungkinan besar hal itu disebabkan karena dia lebih memilih untuk memperturutkan hawa nafsunya daripada mengikuti kebenaran.

Pelajarannya adalah: jika kita masih menggunakan cara-cara seperti pemberian pengobatan gratis, bagi-bagi mie instan atau sembako gratis untuk merubah masyarakat, maka apa bedanya kita dengan orang-orang di luar islam yang juga menawarkan pengobatan gratis, bagi-bagi mie instan atau sembako gratis untuk mengajak saudara-saudara kita untuk keluar dari islam?

Bahkan, mereka tidak hanya menawarkan pengobatan gratis, tapi juga pendidikan gratis. Mereka tidak hanya memberikan se-kardus mie instan atau se-kantong sembako, tapi juga mau memberikan sapi perah, memberikan kebutuhan pokok untuk berbulan-bulan tanpa harus kerja, asal saudara-saudara kita bersedia keluar dari islam.

Saya sama sekali tidak hendak menyatakan bahwa berbuat baik kepada saudara-saudara kita itu tidak boleh, hal itu adalah amal yang mulia di sisi Allah. Saya hanya ingin berbagi pendapat, bahwa menurut saya, sebaiknya jangan lakukan hal itu untuk mendapat simpati masyarakat agar mengikuti kita.

Atau, bagi kawan-kawan aktivis partai politik, jangan lakukan itu agar masyarakat mau mencoblos partai kawan-kawan dalam pemilu yang akan dihadapi. Kenapa? Karena menurut saya, maaf, hal itu adalah upaya pembodohan masyarakat. Masyarakat diarahkan, maaf, seperti binatang-binatang sirkus yang mau melakukan atraksi sesuai permintaan pawangnya demi mendapatkan makanan.

Pelajaran berikutnya adalah: perlu pemahaman yang jernih tentang metode perubahan masyarakat yang benar sehingga kita tidak melakukan sesuatu yang justru malah tidak ada kaitannya dengan perubahan itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini kita disuguhi bermacam-macam metode perubahan, sehingga diperlukan standar yang benar dalam memilih metode perubahan yang benar.

Saya jadi teringat dengan kejadian waktu saya masih muda dulu (emang sekarang umur berapa? Rahasia, ah! Yang jelas, belum se-tua Mak Erot penjual tahun isi Sumedang). Dalam sebuah kajian, saya mengusulkan sebuah metode perubahan masyarakat yang saya fahami.

Tapi, sang pembicara malah bilang, “Sekarang, kita lihat saja metode perubahan siapa yang paling banyak pengikutnya. Jika ternyata metode perubahan yang anda tawarkan itu paling banyak pengikutnya atau lebih banyak pengikutnya dibandingkan dengan metode perubahan yang saya gunakan sekarang, maka saya akan mengikuti metode perubahan yang anda gunakan”.

Ketika itu, sebetulnya saya gregetan dan sangat ingin sekali menanyakan, “Jika memang Bapak konsisten dengan standar Bapak, yaitu: benar tidaknya metode perubahan itu tergantung dari banyak tidaknya pengikut, maka apakah Bapak pun akan mengikuti metode perubahan Karl Marx jika metode perubahan Karl Marx lebih banyak pengikutnya daripada metode yang Bapak gunakan?

Padahal, bukankah Bapak adalah seorang muslim yang anti sosialis karena sosialis anti Tuhan? Tapi, saya urung menanyakan pertanyaan itu karena waktunya sangat terbatas, saya juga tidak mau membuat keributan, saya lebih memilih kesempatan lain untuk menyampaikannya agar pertanyaan saya bisa diterima dengan kejernihan berpikir.

Sahabat saya pun pernah cerita, bahwa dia pernah berdiskusi dengan seorang kawan senior tentang metode perubahan. Tapi kawan seniornya malah menantang dan mengatakan, “Coba, lebih terkenal mana, ulama yang metode perubahannya kamu ikuti atau ulama yang metode perubahannya saya ikuti? Sepertinya, ulama yang metode perubahannya kamu ikuti itu tidak seterkenal ulama yang metode perubahannya saya ikuti.”

Kalau saja saya ada ketika itu, mungkin saya pun ingin bertanya, “Mas, jika memang ke-terkenalan itu merupakan standar kebenaran dan Mas mau konsisten dengan pendapat tersebut, maka saya mau nanya: lebih terkenal mana, ulama yang metode perubahannya Mas ikuti atau Madonna? Sepertinya, Madonna lebih terkenal daripada Ulama tadi. Jika memang demikian, apakah Mas mau mengikuti Madonna, nyanyi sembari telanjang di muka umum, hanya gara-gara Madonna lebih terkenal? Saya yakin, tidak. Bukan karena tidak akan ada yang mau nonton kalau mas nyanyi sembari telanjang, tapi karena mas faham bahwa telanjang di muka umum adalah terlarang di dalam Islam. Karena Mas sadar, bahwa telanjangnya Madonna di muka umum adalah buah dari sistem kapitalis. Menurut pemahaman saya, standar kebenaran adalah kesesuaian dengan tuntunan Allah yang dicontohkan oleh Rasulullah, Muhammad saw.”

Berbicara masalah metode perubahan, layaknya seperti hendak membuat sebuah makanan. Jika kita ingin membuat tahun isi Sumedang, maka kita harus berguru dan mengikuti cara-cara Mak Erot dalam membuat tahun isi Sumedang. Kenapa? Karena Mak Erot lah yang telah berhasil membuat tahun isi Sumedang.

Begitu pula ketika kita hendak melakukan perubahan masyarakat menuju kebangkitan. Maka kita harus mengikuti orang-orang yang telah berhasil melakukan perubahan yang hakiki menuju kebangkitan yang hakiki pula. Jika demikian, bagi kita kaum muslimin dan bagi manusia seluruh alam, maka tidak ada contoh lain yang lebih baik selain Rasullulah, Muhammad saw., dan para shahabat yang telah berhasil mengubah masyarakat jahiliyah yang penuh kerusakan di setiap sendi kehidupannya menjadi masyarakat yang khas yang menjadikan islam sebagai panduan di setiap sendi kehidupannya.

Ketika kita menelaah kembali catatan sejarah Rasulullah yang telah diyakini kebenarannya tanpa distorsi, maka kita akan menemukan ada beberapa tahapan yang dilalui Rasulullah dan para shahabat dalam upaya mewujudkan perubahan masyarakat:

Sebelum menerima wahyu, rasulullah telah melihat adanya kerusakan yang amat parah dalam tatanan kehidupan ummat manusia yang disaksikannya, kerusakan yang tidak boleh berlangsung lebih lama lagi sehingga harus diubah. Setelah menerima wahyu dari Allah, Rasulullah menyampaikan wahyu tersebut kepada orang-orang terdekatnya terlebih dahulu.

Di antara mereka ada yang menerima dakwah Rasulullah, ada juga yang menolak. Mereka yang menerima dakwah Rasulullah kemudian dibina dengan pemahaman islam menjadi manusia-manusia berkepribadian khas (baca: islam). Manusia-manusia berkepribadian khas ini adalah manusia-manusia yang telah lepas dari racun-racun aqidah selain islam, pemikirannya telah tersucikan dari ideologi-ideologi selain islam.

Manusia-manusia berkepribadian khas ini tidak lah diam melainkan terus bergerak menawarkan keyakinannya (baca: islam) hingga keluarganya dan orang-orang di sekitarnya pun mulai ada yang tertarik dan ingin mengikuti mereka. Lalu, mereka yang tertarik ini pun dibina menjadi manusia-manusia berkepribadian khas pula sehingga terbentuklah satu kelompok orang-orang yang berkepribadian khas.

Kelompok yang memiliki perasaan dan pemikiran yang sama, yaitu perasaan dan pemikiran yang sesuai dengan islam. Mereka rido dengan apa yang diridoi Allah dan mereka benci dengan apa yang dibenci oleh Allah. Mereka selalu mendasarkan pemikirannya pada islam dan menjadikan islam sebagai pemandu mereka dalam berfikir sehingga mereka tidak menjadi pemikir liar seperti kasus Mawar di atas.

Tidak berhenti sampai di situ, kelompok yang dibina oleh Rasulullah ini tidaklah menjadi kelompok yang eksklusif yang menutup diri dari orang lain. Pemahaman mereka tentang islam membuat mereka tidak mau tinggal diam menyaksikan kerusakan di setiap sendi kehidupan.

Mereka pun menyebar dan berinteraksi dengan masyarakat luas untuk menjelaskan segala bentuk kerusakan yang tengah mereka hadapi sekaligus juga menawarkan solusi agar kerusakan tersebut segera terangkat dan sirna dari kehidupan mereka. Sebagai langkah perubahan, mereka tidak menawarkan pengobatan gratis bagi mereka yang sakit fisik, melainkan mereka menawarkan pemahaman islam sebagai obat bagi wabah kemusyrikan (yaitu menyembah selain Allah dan berhukum kepada selain hukum Allah).

Mereka tidak menawarkan mie instan agar gerakan mereka diikuti, melainkan menawarkan pemahaman islam sehingga kemudian masyarakat faham dan bergerak bersama mereka menuju perubahan yang hakiki. Kelompok ini tidak hanya bergerak di masyarakat lapisan bawah, melainkan juga bergerak di semua lapisan masyarakat.

Mereka bergerak tidak dengan kekerasan melainkan dengan kejernihan dan kejelasan pemahaman islam, sehingga masyarakat dari berbagai lapisan itu pun menerima kemurnian islam dan merindukan agar kehidupan mereka dalam bermasyarakat dan bernegara dituntun oleh tuntunan hidup yang benar, yaitu islam.

Setelah islam menyatu dengan kehidupan mereka, menuntun setiap sendi kehidupan mereka, maka mereka pun menjadi ummat yang bangkit, berwibawa, bersih dari kotoran ide-ide sesat seperti yang dijajakan oleh Mawar dan kawan-kawannya, dan ummat ini pun menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Dengan metode perubahan seperti ini, insya Allah kita bisa membentengi masyarakat sehingga tidak teracuni ide-ide kapitalis dan sosialis. Dengan mengikuti metode perubahan Rasulullah ini kita bergerak bersama masyarakat menuju kebangkitan yang hakiki. Nah, sekarang, siapa yang mau bareng-bareng saya belajar bikin tahun isi Sumedang ke Mak Erot? (al.)

Rabu, 26 Januari 2011

Kebangkitan Islam


Oleh Adian Husaini

PADA 22 Desember 2010 lalu, saya diminta menjadi pembahas dalam sebuah seminar tentang peradaban Islam di Jakarta Islamic Centre. Diantara pembicara ada Prof. Dr. Azyumardi Azra, mantan rektor UIN Jakarta.

Dalam uraiannya, Prof Azyumardi menyatakan, bahwa peluang kebangkitan Islam lebih besar akan terjadi di Asia Tenggara ketimbang di Timur Tengah. Berbagai alasan dikemukakannya.


Pada sesi pembahasan saya menyampaikan bahwa soal kebangkitan Islam sebenarnya sudah banyak dipaparkan dalam al-Quran. Misalnya, dalam al-Quran Surat Al-Maidah ayat 54. Disitu disebutkan ciri-ciri satu kaum yang dijanjikan Allah yang akan meraih kemenangan: mereka dicintai Allah dan mereka mencintai Allah; mereka saling mengasihi sesama mukmin; mereka memiliki sikap ‘izzah terhadap orang-orang kafir; mereka berjihad di jalan Allah; dan mereka tidak takut dengan celaan orang-orang yang memang suka mencela.

Kaum seperti inilah yang harus mampu dibentuk oleh umat Islam, khususnya lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Hanya saja, saat bicara tentang kebangkitan Islam, maka yang perlu didefinisikan terlebih dahulu adalah apa yang sebenarnya disebut dengan “bangkit”. Sebab, jangan-jangan, makna kata “bangkit” itu sendiri sudah kabur di benak banyak kaum Muslimin.

Seperti kaburnya makna kata “kemajuan”, “pembangunan”, “kebebasan”, dan sebagainya.
Misalnya, negara-negara Barat membuat definsi yang materialistis terhadap makna “kemajuan”. Mereka membagi negara-negara di dunia menjadi negara maju, negara sedang berkembang dan negara terbelakang.

Tentu saja, ukuran-ukuran yang digunakan adalah ukuran kemajuan materi. Faktor akhlak tidak masuk dalam definisi “kemajuan” atau “pembangunan” tersebut. Jadi, jika dikatakan suatu negara sudah maju, maka yang dimaksudkan adalah kemajuan materi, khususnya dalam ekonomi, sains dan teknologi.

Padahal, secara akhlak, negara itu sebenarnya hancur-hancuran.
Kita, kaum Muslimin, yang masih memiliki keimanan dan menjaga akhlak mulia, sudah selayaknya tidak merasa hina dan rendah martabat saat berhadapan dengan dunia Barat yang serba gemerlap dalam dunia materi. Kita sungguh kasihan kepada sebagian pejabat kita yang rela begadang, bersorak-sorai, menghambur-hamburkan uang hanya untuk menyambut pergantian Tahun Baru dalam tradisi Barat.

Mestinya, jika mereka Muslim, mereka mengajak rakyatnya untuk beribadah, mensyukuri setiap tambahan nikmat umur yang mereka terima dari Allah SWT.
Jika kita memiliki kebanggaan akan nilai-nilai dan akhlak kita, maka kita justru akan bersikap sebaliknya. Kita kasihan pada orang-orang sekular – di mana pun -- yang tidak tahu lagi kemana hidup mereka harus diarahkan.

Hidup mereka hanya ditujukan untuk memuaskan syahwat, tidak beda jauh dengan peri hidup binatang. Mereka tidak ingat lagi perjanjian azali dengan Allah, saat berada di alam arwah, bahwa mereka pernah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, dan mereka adalah hamba Allah. (QS 7:172).


Maka, ketika negara kita diminta mengejar kemajuan, kita melihat, yang lebih difokuskan adalah kemajuan materi, bukan kemajuan akhlak. Padahal, dalam UU Sisdiknas disebutkan, tujuan pendidikan nasional juga mencakup persoalan akhlak. Juga, sesuai lagu “Indonesia Raya”, kita harus membangun jiwa, baru membangun badan/raga.

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!” begitu katanya. Tapi, apakah setiap tahun, ada laporan pemerintah kita tentang keberhasilan atau kegagalan membangun jiwa?
Bagi kita, umat Muslim, jika ingin membangun atau membangkitkan sebuah peradaban, maka yang seharusnya dibangun adalah manusia-manusia yang beradab.

Membangun peradaban bukan sekedar bercita-cita merebut kekuasaan. Sebab, untuk sekedar berkuasa yang diperlukan adalah kekuatan, dan tidak harus selalu berbasis pada keilmuan. Bangsa Mongol pernah berhasil merebut kekuasaan di Baghdad, 1215, meskipun mereka sangat rendah ingkat peradabannya.

Pasukan Salib pernah menaklukkan kaum Muslimin yang jauh lebih tinggi tingkat peradabannya.
Sekarang pun, kita menyaksikan, banyak orang di dunia bisa merebut kekuasaan, dengan mengandalkan modal kecantikan, popularitas, dan banyaknya anak buah, meskipun tingkat keilmuan dan akhlaknya sangat rendah.

Jika seorang atau satu kelompok berperadaban rendah tetapi kuat secara fisik dan materi berhasil merebut kekuasaan, maka bisa menimbulkan kerusakan.
Jadi, sekali lagi, dalam merumuskan kebangkitan Islam, yang perlu digariskan adalah makna kebangkitan itu sendiri! Bangkit dalam hal apa?

Barulah setelah itu dirumuskan, bagaimana cara bangkitnya! Sejarah Islam menunjukkan, bahwa kebangkitan umat Islam sebagai sebuah peradaban terjadi saat umat berhasil menghidupkan tradisi ilmu dan menanamkan jiwa cinta pengorbanan. Dua aspek ini pun sebenarnya bukan khas Islam.

Peradaban lain juga harus menempuh jalan yang sama untuk bisa bangkit, yakni membangun tradisi ilmu dan menanamkan semangat pengorbanan.
Kita bisa menyimak kisah-kisah hebat berikut ini, seputar semangat pengorbanan: Alkisah, Imam at-Thabari menceritakan, usai penaklukan kota Madain, datanglah seorang laki-laki kepada para petugas pengumpul harta rampasan perang.

Ia membawa sejumlah harta yang mencengangkan. Petugas bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengambil sebagian untukmu?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak, demi Allah!” Jika bukan karena Allah, pastilah harta ini sudah aku gelapkan untukku.” Penasaran dengan jawaban itu, para petugas bertanya lagi, “Siapa nama kamu?”

Dijawab si laki-laki, “Tidak, kalian tidak perlu tahu namaku agar kalian dan orang-orang lain tak memujiku. Aku sudah cukup bersyukur kepada Allah dan puas dengan ganjaran-Nya itu.” Setelah diselidiki, diketahuilah, laki-laki itu bernama Amir bin Abdi Qais.
Sebelum terjadi perang Qadisiah, Panglima Perang Sa’ad bin Abi Waqash mengirimkan utusan bernama Rabi’ bin Amir untuk menemui Jenderal Rustum, panglima Perang Persia.

Rabi’ masuk ke tenda Rustum yang bergelimang kemewahan dengan tetap memegang tombak dan menuntun kudanya. Ketika Rustum bertanya, “Apa tujuan kalian?” Dengan tegas Rabi’ menjawab, “Allah telah mengutus kami untuk membebaskan orang-orang yang dikehendaki-Nya dari penyembahan sesama manusia menuju penyembahan Allah semata, dan membebaskan manusia dari kesempitan menuju kelapangan hidup di dunia, dan dari penindasan berbagai agama yang sesat menuju agama Islam yang menuh keadilan.”


Kita ingat sebuah cerita terkenal, ketika Ja’far bin Abdul Muthalib dan kawan-kawan sedang berada di Habsyah, sejumlah pemuka Quraish juga mengejar mereka. Raja Najasyi diprovokasi untuk mengusir kaum Muslim itu. Kepada Najasyi dan para pendeta Kristen, Amr bin Ash dan Amarah menyatakan, bahwa orang-orang Islam tidak akan mau bersujud kepada Raja.

Ketika kaum Muslim dipanggil menghadap Raja, mereka diperintahkan, “Bersujudlah kalian kepada Raja!”. Dengan tegas Ja’far menjawab, “Kami tidak bersujud kecuali kepada Allah semata.”
Sejumlah cerita tentang kezuhudan dan kegigihan generasi-generasi awal Islam itu diungkap oleh Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dalam bukunya, “Maa Dzaa Khasiral ‘Aalam bi-inkhithaathil Muslimin." (Terjemah versi Indonesia oleh M. Ruslan Shiddieq, Islam Membangun Peradaban Dunia, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1988).

Melalui bukunya, Ali an-Nadwi memang ingin menggugah kaum Muslim, bahwa kebangkitan dan kemenangan kaum Muslim hanya akan bisa diraih jika umat Islam memiliki keimanan yang kokoh, dan tidak goyah dengan berbagai godaan dunia.
Dalam risalahnya yang terkenal, Limaadza Taakkharal Muslimun wa-Limaadza Taqaddama Ghairuhum, Syekh Amir Syakib Arsalan juga mengungkap sejumlah perbandingan, mengapa kaum Muslimin bisa dikalahkan oleh bangsa-bangsa Barat di berbagai lini kehidupan.

Salah satu sikap yang menonjol adalah rendahnya sikap rela berkorban kaum Muslim dalam perjuangan. Sebagai contoh, ia mengungkapkan kesetiaan bangsa Inggris terhadap barang-barang produksinya dan toko-tokonya sendiri, walaupun harganya lebih mahal. “Aku pernah mendengar bahwa bangsa Inggris yang ada di daerah jajahannya, mereka tidak suka membeli barang-barang yang diperlukan terutama barang-barang yang berharga, melainkan mereka mesti membeli (pesan) dari negara mereka sendiri…”.


Lebih jauh tentang sebab-sebab kemunduran umat Islam di awal abad ke-20, diuraikan dengan sangat tajam oleh Amir Syakib Arsalan dalam risalah yang ditulisnya menjawab pertanyaan Syekh Muhammad Basyuni Imran, Imam Kerajaan Sambas, dengan perantaraan Muhammad Rasyid Ridha.

Moenawwar Chalil menerjemahkan buku ini tahun 1954 dengan judul Mengapa Kaum Muslim Mundur. (Jakarta: Bulan Bintang, 1954).
Hilangnya semangat berkorban – jiwa, raga, harta, dan sebagainya – di tengah umat Islam bersamaan dengan munculnya sikap cinta dunia (hubbud-dunya).

Sikap ini muncul karena ilmu yang salah, yang melihat dunia sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang kehidupan akhirat. Kapan saja sikap ini muncul, maka umat Islam tidak akan pernah mengenyam kejayaan. Rasulullah saw sudah mengingatkan, umat Islam akan menjadi sampah (buih), ketika sudah terjangkit penyakit “al-wahnu” (hubbud-dunya dan takut mati) dalam diri mereka.


Kecintaan akan pengorbanan tidak mungkin muncul dalam diri seseorang atau masyarakat, jika tidak didahului dengan tumbuhnya tradisi ilmu yang benar di tengah masyarakat. Bisa dikatakan, tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului oleh bangkitnya tradisi ilmu. Tanpa kecuali, peradaban Islam.

Rasulullah saw telah memberikan teladan yang luar biasa dalam hal ini. Di tengah masyarakat jahiliah gurun pasir, Rasulullah saw berhasil mewujudkan sebuah masyarakat yang sangat tinggi tradisi ilmunya. Para sahabat Nabi saw dikenal sebagai orang-orang yang “gila ilmu”.
Bukan hanya itu, tradisi ilmu Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw telah melahirkan manusia-manusia unggulan dalam satu ”generasi shahaby” yang belum mampu dicapai oleh peradaban manapun, hingga kini.

Rasulullah saw berhasil mengubah ”masyarakat ummiy” yang hidup dalam tradisi lisan menjadi masyarakat yang cinta ilmu dan tradisi tulis. Tradisi ilmu Islam saat itu pun mampu mengubah masyarakat yang gila minuman keras menjadi masyarakat yang bersih dari ”tradisi teler” hanya dalam tempo beberapa tahun saja.


Memang, peradaban yang dibangun oleh Islam adalah peradaban tauhid, yang menyatukan unsur dunia dan akhirat, aspek jiwa dan raga. Islam bukan agama yang menganjurkan manusia untuk lari dari dunia demi tujuan mendekat kepada Tuhan. Nabi memerintahkan umatnya bekerja keras untuk menaklukkan dunia dan meletakkan dunia dalam genggamannya, bukan dalam hatinya.

Nabi melarang keras sahabatnya yang berniat menjauhi wanita dan tidak menikah selamanya, agar bisa fokus kepada ibadah.
Berbeda dengan jalan pikiran banyak tokoh agama pada zaman itu, Nabi Muhammad saw justru mendeklarasikan: ”Nikah adalah sunnahku, dan siapa yang benci pada sunnahku, maka dia tidak termasuk golonganku.”

Meskipun begitu, Rasulullah saw juga memperingatkan dengan keras: ”Jika umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan dicabut kehebatan Islam dari mereka.”
Inilah peradaban Islam: bukan peradaban yang memuja materi, tetapi bukan pula peradaban yang meninggalkan materi. Pada titik inilah, tradisi ilmu dalam Islam berbeda dengan tradisi ilmu dalam masyarakat Barat yang berusaha membuang agama dalam kehidupan mereka.

Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmuwan yang zalim dan jahat harus dikeluarkan dari daftar ulama. Dia masuk kategori fasik dan ucapannya pantas diragukan kebenarannya. Ilmu harus menyatu dengan amal. Inilah yang ditunjukkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, (radhiyallahu ’anhum), Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, dan sebagainya.

Imam Abu Hanifah, misalnya, lebih memilih dicambuk setiap hari, ketimbang menerima jabatan Qadhi negara.
Tradisi ilmu yang tinggi disertai dengan tertatanamnya kecintaan akan pengorbanan untuk meraih cita-cita luhur itulah yang harus diwujudkan di tengah umat Islam, jika umat Islam ingin meraih satu kebangkitan sebagai sebuah peradaban. [Depok, Januari 2011/hidayatullah.com]

Jalan Menuju Allah


Apabila kita melihat kepada segala sesuatu yang bersifat terbatas, akan kita simpulkan bahwa semuanya tidak azali. Jika bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir), tentu tidak mempunyai keterbatasan. Dengan demikian segala yang terbatas pasti diciptakan oleh “sesuatu yang lain”.

Kita telah membuktikan bahwa keberadaan Tuhan itu ialah suatu kepastian. Nah, sekarang, siapakah Sang Pencipta yang tak terbatas tersebut? Bagaimana wujudnya? Apa yang membuatnya ridha dan apa yang membuatnya murka?

Kendati wajib atas manusia menggunakan akalnya dalam mencapai iman kepada Tuhan, namun tidak mungkin ia menjangkau apa yang di luar batas kemampuan indera dan akalnya. Sebab akal manusia terbatas. Terbatas pula kekuatannya sekalipun meningkat dan bertambah sampai batas yang tidak dapat dilampauinya, terbatas pula jangkauannya.

Melihat kenyataan ini, maka perlu diingat bahwa akal tidak mampu memahami zat Tuhan dan hakekat-Nya. Sebab, Tuhan berada di luar alam semesta, manusia, dan kehidupan. Sedangkan akal manusia tidak mampu memahami apa yang ada di luar jangkauannya (alam semesta, manusia, dan kehidupan).

Tetapi bukan berarti dapat dikatakan “bagaimana mungkin orang dapat beriman kepada Tuhan sedang akalnya sendiri tidak mampu memahami zat Tuhan?” Tentu kita tidak mengatakan demikian, karena pada hakekatnya iman itu ialah percaya pada keberadaan Tuhan.

Sedangkan keberadaan-Nya dapat diketahui melalui ciptaan-ciptaan-Nya, yaitu alam semesta, manusia, dan kehidupan. 3 unsur ini berada dalam batas jangkauan akal. Usaha manusia untuk memahami hakekat Tuhan merupakan perkara yang mustahil untuk dicapai.

Sebab, zat Tuhan berada di luar unsur alam semesta, manusia, dan kehidupan. Dengan kata lain berada di luar jangkauan kemampuan akal. Akal tidak mungkin memahami hakekat yang ada di luar batas kemampuannya, karena perannya amat terbatas.

Memang benar, iman kepada adanya Pencipta Yang Maha Pengatur merupakan hal yang fitri pada setiap manusia. Hanya saja, iman yang fitri ini muncul dari perasaan yang berasal dari hati nurani belaka. Cara seperti ini bila dibiarkan begitu saja, tanpa dikaitkan dengan akal, sangtalah riskan akibatnya serta tidak dapat dipertahankan lama.

Dalam kenyataannya, perasaan tersebut sering menambah-nambah apa yang diimani, dengan sesuatu yang tidak ada hakikatnya. Bahkan ada yang mengkhayalkannya dengan sifat-sifat tertentu yang dianggap lumrah terhadap apa yang diimaninya.

Tanpa sadar, cara tersebut justru menjerumuskannya ke arah peribadatan-peribadatan yang tidak jelas asal-usul argumennya dan tidak logis karena tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Entah dengan menyembah benda-benda tertentu, berkeyakinan ini, itu. Mengkhayalkan wujud Tuhan, dan sebagainya.

Oleh karena itu dibutuhkan suatu instrumen yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas tadi. Karena akal kita terbatas, dan Tuhan tidak terbatas, maka jawaban pertanyaan tadi hanya dapat dijawab oleh Tuhan. Sehingga kita hanya bersandar pada jawaban Tuhan.

Kita mengetahui, di kalangan umat bergama ada istilah ‘wahyu’ yang sering diartikan sebagai kabar dari Tuhan. Berhubung acuan wahyu untuk tiap agam berbeda-beda, kita coba cek ke salah satu agama, yaitu Islam (jika membahas ke seluruh agama akan terlalu panjang).

Dalam agama Islam, sumber wahyu yang diyakini ialah al Qur’an. Al Qur’an diyakini oleh orang yang beragama Islam ialah kumpulan wahyu Tuhan yang tetap terjaga dan belum pernah mengalami perubahan sejak pertama kali diturunkan pada Nabi Muhammad.

Sekarang, mari kita buktikan apakah al Qur’an betul-betul wahyu Tuhan. Ada 3 pilihan yang mungkin sebagai sumber al Qur’an. 1) Dari Tuhan, sebagaimana disampaikan oleh Nabi Muhammad; 2) Nabi Muhammad sendiri; 3) Orang arab selain Nabi Muhammad, berhubung al Qur’an yang kita temukan adalah berbahasa arab sejak awalnya.

Nah, kemungkinan nomor 3, dibuktikan salah karena banyak orang arab yang hidup di masa Nabi muhammad tidak mampu membuat hal yang serupa dengan al Qur’an. Kemungkinan nomor 2, juga salah karena nabi Muhammad mengaku tidak membuatnya. Jika dilihat juga gaya bahasa nabi Muhammad dalam ribuan hadis, tidak satupun yang mirip dengan gaya bahasa al Qur’an.

Nah, kemungkinan nomor 1 dibuktikan benar karena kemungkinan 2 dan 3 salah, dan ditambah lagi beberapa pembuktian-pembuktian (ilmiah) yang tidak bisa dibuktikan pada zaman nabi Muhammad, dan baru bisa dibuktikan pada zaman modern. Menunujukkan bahwa isi al Qur’an memang berasal dari suatu zat Maha Tahu dan Maha Kuasa.

Sebagai konsekuensi fitrah kita yang mencari Tuhan, maka setelah membuktikan bahwa al Qur’an adalah jawaban tuhan dari pertanyaan kita, maka kita harus memnuhi segala isi al Qur’an untuk meraih ridha dan menghindarkan dari murka Tuhan kita, Allah azza wa jalla.


Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa

(QS. Al Ikhlash ayat 1)

Minggu, 26 Desember 2010

Jalan Mencari Tuhan


-Apabila kita melihat kepada segala sesuatu yang bersifat terbatas, akan kita simpulkan bahwa semuanya berawal dan berakhir-

Melihat fenomena di muka bumi kita akan mendapati bahwa, seseorang apabila menganut satu agama, maka itulah yang dianggap normal, entah agama apa yang ia anut. Sementara,sebagian orang, mekipun tidak begitu banyak terdata (setidaknya di Indonesia) tidak mengakui adanya agama, yang isinya ritual-seremoni.

Satu pertanyaan, yang biasanya cukup membingungkan bagi yang ditanya. “mengapa anda beragama?”, atau “mengapa anda beragama X?”. Pertanyaan-pertanyaan tadi kebanyakan dijawab dengan tidak tegas, atau jawaban yang paling banyak muncul ialah, “yaa, karena bapak ibu saya juga beragama X”, dan jawaban sejenis.

Jika kita pikir secara mendalam, untuk apa kita beragama (bagi yang beragama), dan kenapa pula ada yang tidak beragama? Dalam tulisan ini penulis hendak membeberkan garis-garis besar tahapan menuju jawaban pertanyaan yang barusan.

Naluri Manusia

Pertama saya akan mengajak Anda berpikir mulai dari level manusia. Kita adalah manusia. Kita sering mendengar istilah “fitrah manusia”. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan “fitrah” itu? Saya sependapat dengan orang yang mengatakan bahwa fitrah ialah potensi yang telah ada pada diri setiap manusia sejak ia lahir.

Di antara fitrah manusia ialah naluri. Naluri manusia salah yang menyebabkan manusia bisa tetap hidup. Berkembang biak itu pun naluri. Makan-minum juga naluri. Berolahraga, mempelajari sesuatu yang baru, bersosialisasi, berkasih sayang, juga naluri.

Nah, lebih detail tentang naluri, salah satu naluri manusia ialah naluri untuk bertuhan, atau naluri untuk mengakui sesuatu yang lebih hebat di antara semuanya.

Ada seorang mahasiswa yang dengan bangganya mengakui bahwa dia adalah seorang ateis. Pada suatu hari, sehabis ujian, dia ditanya oleh salah seorang temannya, “gimana ujian tadi?”. Ia menjawab, “yah, semoga hasilnya bagus”. Tiba-tiba temannya langsung menimpali, “lha, tadi memohon ‘semoga’ sama siapa?”. Si ateis terdiam. Dari sini kita bisa lihat bahwa orang yang mengaku ateis-pun tetap mengakui bahwa ada kekuatan yang maha super yang bisa mengabulkan segala permintaan.

Bukti Ilmiah

Salah satu hal yang menjadi pembenar atas argumen bahwa tuhan itu ada,ialah didasarkan dari adanya hukum-hukum alam. Kita lihat contoh air. Air jika dipanaskan akan mendidih. Pada suhu berapa? Pada tekanan 1 atm akan mendidih pada 373 kelvin.

Kita juga tahu ada yang disebut diagram fasa air, yang menunjukkan fasa air pada suhu dan tekanan tertentu. Sehingga, apabila kita menginginkan fasa air dalam bentuk cair pada suhu 380 kelvin, maka kita tinggal menyesuaikan tekanannya.

Sebenarnya siapa yang membuat diagram fasa tersebut? Yang membuatnya manusia. Dan siapa yang membuat diagram fasa tersebut tetap, tak berubah-ubah? Tentu manusia tidak bisa. Manusia hanya bisa memanfaatkan sifat tersebut.

Sains ada karena manusia. Karena manusia yang mencatat kejadian-kejadian di alam ini, dan manusia merumuskannya sehingga mudah untuk dipahami.

Sekitar bulan September 2010, Stephen Hawking, ilmuwan fisika asal Inggris, merilis buku barunya yang berjudul The Grand Design. Ia mengatakan bahwa,

Alam semesta tercipta tanpa campur tangan Tuhan. Ia menulis Teori M yang dapat menjelaskan penciptaan alam semesta karena adanya hukum gravitasi.

Karena adanya hukum gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta dengan sendirinya. Penciptaan yang spontan itu adalah alasan mengapa sesuatu itu ada, mengapa alam semesta itu ada, mengapa kita ada.”

Saya hanya mengetahui kabar ini dari teman dan dari berita-berita yang beredar di internet. Sejauh ini yang saya pahami dari pernyataan Hawking ialah, ia menyimpulkan bahwa alam semesta ada karena adanya hukum gravitasi. Padahal gravitasi itu hanyalah hukum alam. Dan ia pun tidak dapat memutuskan siapa/sebenarnya yang merancang hukum alam tesebut.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa eksistensi Tuhan tidak terbantahkan dari sudut pandang ilmiah.