Selasa, 08 Maret 2011

Warung Mak Erot

Kata sahabat saya, kawannya pernah cerita, dimana kata kawannya tersebut cerita ini adalah kisah nyata. Ceritanya begini, ada seorang pemuda yang berbibir sumbing, sebut saja namanya Mawar (bukan nama sebenarnya). Salah seorang di antara kalian mungkin ada yang berkomentar: koq nama samarannya Mawar?

Kayak nama samaran gadis korban pemerkosaan atau pelecehan seksual aja?! Apa gak ada nama samaran yang lain? Tapi saya akan menjawab: Ah, suka-suka saya yang nulis dong, mau saya kasih nama Mawar atau Bunga, itu kan terserah saya. Suatu masa, Mawar kemudian ditawari oleh kawannya yang aktif dalam kelompok pengajian untuk dioperasi bibirnya agar tak sumbing lagi.

Singkat cerita, akhirnya operasi itu pun berjalan lancar sehingga bibir Mawar tak lagi sumbing, persahabatan mereka pun berjalan semakin baik. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Tahun apa yang paling enak? Hayo tebak!

Jawabnya: tahun Sumedang (lho, itu kan, tahu Sumedang?) Alah, masa bodo! Kalo saya mau nyebutnya tahun Sumedang, kalian mau apa? Sekarang, tahun apa yang paling gede? Jawabnya: tahun isi Sumedang. Kenapa? Iya dong, lha wong kota Sumedangnya aja se-gede itu, apalagi kalo ada tahun yang isinya Sumedang, pasti gede sekali.

Wajan apa yang paling gede? Jawabnya: wajan yang dipake buat ngegoreng tahun isi Sumedang tadi, pasti gede banget! Warung siapa yang paling gede? Nah… kalian pasti udah mulai bisa nebak. Ya, benar, jawabannya adalah: warungnya Mak Erot. Kenapa? Karena cuma warung Mak Erot yang bikin dan jualan tahun isi Sumedang.

Tebak-tebakannya udah dulu, mari kita lanjutkan ceritanya. Waktu pun terus berjalan, entah terkena apa, pemahaman keislaman Mawar menjadi kacau. Layaknya seorang orientalis yang membenci Islam, Mawar pun berani mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kontroversial, berlawanan dengan Islam.

Mawar sangat bersemangat mengkritisi Islam, tapi di sisi lain, Mawar sangat gigih sekali dalam memperjuangkan (baca: menjajakan) ide-ide yang berasal dari ideologi kapitalis yang memang sangat bertentangan dengan Islam. Melihat tindak-tanduk Mawar yang semakin mengkhawatirkan, kawan Mawar yang dulu pernah mengoperasi bibir Mawar pun mendatangi Mawar.

Seakan ingin menagih balas jasa, kawan Mawar meminta agar Mawar tidak meneruskan dan menyebarkan penyimpangannya. Kawan Mawar sepertinya merasa berhak untuk diikuti sarannya karena dulu dialah yang mengoperasi bibir Mawar sehingga tidak sumbing lagi. Namun, Mawar tidak mau mengikuti saran kawannya tersebut, mawar tetap menyebarkan pemahaman yang sebetulnya mengancam aqidah kaum muslimin.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita dari kawan sahabat saya tadi, paling tidak kita bisa mengambil pelajaran dari cerita tadi. Apa pelajarannya? Bahwa Mak Erot jualan tahun isi Sumedang? Bukan. Bukan itu pelajarannya. Tanpa saya beri tahu (hayo, tahu apa yang paling gede?), kalian tentu sudah sangat memahami bahwa ummat saat ini tengah menghadapi problematika yang kompleks; Hubungan sosial masyarakat tidak diatur dengan aturan yang semestinya, sehingga terjadi pelecehan seksual sampai pemerkosaan –mungkin hampir-- setiap hari (lihat aja di acara liputan kriminalitas yang disiarkan di televisi).

Sistem pendidikan juga tidak berpihak kepada rakyat miskin karena memang tidak menggunakan sistem yang semestinya. Sistem perekonomian juga tidak beres sehingga negara terjerat hutang rente dan terjadi penjarahan kekayaan alam yang semestinya dikelola demi kesejahteraan rakyat.

Sistem pemerintahan yang sudah dijalankan sekian lama di negeri ini juga tidak menjanjikan perubahan yang berarti kecuali hanya perbaikan pelipur lara di kala sengsara namun tidak mengentaskan kesengsaraan itu sendiri. Negeri yang kita cintai ini pun masih saja didikte oleh negara adidaya pengusung kapitalis.

Semua permasalahan di atas, termasuk juga masalah Mawar yang sudah keranjingan racun kapitalis (sebetulnya, sudah banyak yang seperti Mawar), menuntut kita untuk bergerak melakukan upaya perubahan agar semua itu sirna dan kita kembali hidup dengan tuntunan yang lurus dalam bermasyarakat dan bernegara, yaitu Islam.

O iya, pelajaran dari cerita kawan sahabat saya di atas adalah: kita tidak bisa mengubah keyakinan seseorang maupun masyarakat hanya dengan memberikan jasa tertentu (misal: pengobatan gratis atau bagi-bagi mie instant). Kalaupun ada perubahan, maka perubahan tersebut bukanlah perubahan yang hakiki, melainkan hanya ikut-ikutan saja tanpa didasari oleh pemahaman yang kuat.

Perubahan seperti itu tidak akan kuat sehingga dengan mudah bisa berubah lagi ke arah yang berbeda. Pelajarannya adalah: jika kita ingin melakukan perubahan masyarakat, maka yang harus kita lakukan terlebih dahulu adalah mengubah pemahaman masyarakat tersebut.

Karena, orang yang memperjuangkan ide-ide kapitalis maupun sosialis --insya Allah-- tidak akan melanjutkan perjuangannya jika dia memahami bahwa ide-ide kapitalis maupun sosialis adalah ide-ide usang, ide-ide busuk yang malah akan membuat kerusakan di muka bumi.

Di samping itu, dia pun diberikan pemahaman bahwa islam adalah sebuah ideologi yang bila diterapkan maka akan menjadi rahmat, bukan hanya untuk kaum muslimin, tapi bagi seluruh alam. Bila dia sudah faham kebusukan ide-ide kapitalis dan sosialis juga faham bahwa islam adalah tuntunan hidup yang benar namun dia masih juga tidak mau mencampakkan kapitalis dan sosialis, maka kemungkinan besar hal itu disebabkan karena dia lebih memilih untuk memperturutkan hawa nafsunya daripada mengikuti kebenaran.

Pelajarannya adalah: jika kita masih menggunakan cara-cara seperti pemberian pengobatan gratis, bagi-bagi mie instan atau sembako gratis untuk merubah masyarakat, maka apa bedanya kita dengan orang-orang di luar islam yang juga menawarkan pengobatan gratis, bagi-bagi mie instan atau sembako gratis untuk mengajak saudara-saudara kita untuk keluar dari islam?

Bahkan, mereka tidak hanya menawarkan pengobatan gratis, tapi juga pendidikan gratis. Mereka tidak hanya memberikan se-kardus mie instan atau se-kantong sembako, tapi juga mau memberikan sapi perah, memberikan kebutuhan pokok untuk berbulan-bulan tanpa harus kerja, asal saudara-saudara kita bersedia keluar dari islam.

Saya sama sekali tidak hendak menyatakan bahwa berbuat baik kepada saudara-saudara kita itu tidak boleh, hal itu adalah amal yang mulia di sisi Allah. Saya hanya ingin berbagi pendapat, bahwa menurut saya, sebaiknya jangan lakukan hal itu untuk mendapat simpati masyarakat agar mengikuti kita.

Atau, bagi kawan-kawan aktivis partai politik, jangan lakukan itu agar masyarakat mau mencoblos partai kawan-kawan dalam pemilu yang akan dihadapi. Kenapa? Karena menurut saya, maaf, hal itu adalah upaya pembodohan masyarakat. Masyarakat diarahkan, maaf, seperti binatang-binatang sirkus yang mau melakukan atraksi sesuai permintaan pawangnya demi mendapatkan makanan.

Pelajaran berikutnya adalah: perlu pemahaman yang jernih tentang metode perubahan masyarakat yang benar sehingga kita tidak melakukan sesuatu yang justru malah tidak ada kaitannya dengan perubahan itu sendiri. Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini kita disuguhi bermacam-macam metode perubahan, sehingga diperlukan standar yang benar dalam memilih metode perubahan yang benar.

Saya jadi teringat dengan kejadian waktu saya masih muda dulu (emang sekarang umur berapa? Rahasia, ah! Yang jelas, belum se-tua Mak Erot penjual tahun isi Sumedang). Dalam sebuah kajian, saya mengusulkan sebuah metode perubahan masyarakat yang saya fahami.

Tapi, sang pembicara malah bilang, “Sekarang, kita lihat saja metode perubahan siapa yang paling banyak pengikutnya. Jika ternyata metode perubahan yang anda tawarkan itu paling banyak pengikutnya atau lebih banyak pengikutnya dibandingkan dengan metode perubahan yang saya gunakan sekarang, maka saya akan mengikuti metode perubahan yang anda gunakan”.

Ketika itu, sebetulnya saya gregetan dan sangat ingin sekali menanyakan, “Jika memang Bapak konsisten dengan standar Bapak, yaitu: benar tidaknya metode perubahan itu tergantung dari banyak tidaknya pengikut, maka apakah Bapak pun akan mengikuti metode perubahan Karl Marx jika metode perubahan Karl Marx lebih banyak pengikutnya daripada metode yang Bapak gunakan?

Padahal, bukankah Bapak adalah seorang muslim yang anti sosialis karena sosialis anti Tuhan? Tapi, saya urung menanyakan pertanyaan itu karena waktunya sangat terbatas, saya juga tidak mau membuat keributan, saya lebih memilih kesempatan lain untuk menyampaikannya agar pertanyaan saya bisa diterima dengan kejernihan berpikir.

Sahabat saya pun pernah cerita, bahwa dia pernah berdiskusi dengan seorang kawan senior tentang metode perubahan. Tapi kawan seniornya malah menantang dan mengatakan, “Coba, lebih terkenal mana, ulama yang metode perubahannya kamu ikuti atau ulama yang metode perubahannya saya ikuti? Sepertinya, ulama yang metode perubahannya kamu ikuti itu tidak seterkenal ulama yang metode perubahannya saya ikuti.”

Kalau saja saya ada ketika itu, mungkin saya pun ingin bertanya, “Mas, jika memang ke-terkenalan itu merupakan standar kebenaran dan Mas mau konsisten dengan pendapat tersebut, maka saya mau nanya: lebih terkenal mana, ulama yang metode perubahannya Mas ikuti atau Madonna? Sepertinya, Madonna lebih terkenal daripada Ulama tadi. Jika memang demikian, apakah Mas mau mengikuti Madonna, nyanyi sembari telanjang di muka umum, hanya gara-gara Madonna lebih terkenal? Saya yakin, tidak. Bukan karena tidak akan ada yang mau nonton kalau mas nyanyi sembari telanjang, tapi karena mas faham bahwa telanjang di muka umum adalah terlarang di dalam Islam. Karena Mas sadar, bahwa telanjangnya Madonna di muka umum adalah buah dari sistem kapitalis. Menurut pemahaman saya, standar kebenaran adalah kesesuaian dengan tuntunan Allah yang dicontohkan oleh Rasulullah, Muhammad saw.”

Berbicara masalah metode perubahan, layaknya seperti hendak membuat sebuah makanan. Jika kita ingin membuat tahun isi Sumedang, maka kita harus berguru dan mengikuti cara-cara Mak Erot dalam membuat tahun isi Sumedang. Kenapa? Karena Mak Erot lah yang telah berhasil membuat tahun isi Sumedang.

Begitu pula ketika kita hendak melakukan perubahan masyarakat menuju kebangkitan. Maka kita harus mengikuti orang-orang yang telah berhasil melakukan perubahan yang hakiki menuju kebangkitan yang hakiki pula. Jika demikian, bagi kita kaum muslimin dan bagi manusia seluruh alam, maka tidak ada contoh lain yang lebih baik selain Rasullulah, Muhammad saw., dan para shahabat yang telah berhasil mengubah masyarakat jahiliyah yang penuh kerusakan di setiap sendi kehidupannya menjadi masyarakat yang khas yang menjadikan islam sebagai panduan di setiap sendi kehidupannya.

Ketika kita menelaah kembali catatan sejarah Rasulullah yang telah diyakini kebenarannya tanpa distorsi, maka kita akan menemukan ada beberapa tahapan yang dilalui Rasulullah dan para shahabat dalam upaya mewujudkan perubahan masyarakat:

Sebelum menerima wahyu, rasulullah telah melihat adanya kerusakan yang amat parah dalam tatanan kehidupan ummat manusia yang disaksikannya, kerusakan yang tidak boleh berlangsung lebih lama lagi sehingga harus diubah. Setelah menerima wahyu dari Allah, Rasulullah menyampaikan wahyu tersebut kepada orang-orang terdekatnya terlebih dahulu.

Di antara mereka ada yang menerima dakwah Rasulullah, ada juga yang menolak. Mereka yang menerima dakwah Rasulullah kemudian dibina dengan pemahaman islam menjadi manusia-manusia berkepribadian khas (baca: islam). Manusia-manusia berkepribadian khas ini adalah manusia-manusia yang telah lepas dari racun-racun aqidah selain islam, pemikirannya telah tersucikan dari ideologi-ideologi selain islam.

Manusia-manusia berkepribadian khas ini tidak lah diam melainkan terus bergerak menawarkan keyakinannya (baca: islam) hingga keluarganya dan orang-orang di sekitarnya pun mulai ada yang tertarik dan ingin mengikuti mereka. Lalu, mereka yang tertarik ini pun dibina menjadi manusia-manusia berkepribadian khas pula sehingga terbentuklah satu kelompok orang-orang yang berkepribadian khas.

Kelompok yang memiliki perasaan dan pemikiran yang sama, yaitu perasaan dan pemikiran yang sesuai dengan islam. Mereka rido dengan apa yang diridoi Allah dan mereka benci dengan apa yang dibenci oleh Allah. Mereka selalu mendasarkan pemikirannya pada islam dan menjadikan islam sebagai pemandu mereka dalam berfikir sehingga mereka tidak menjadi pemikir liar seperti kasus Mawar di atas.

Tidak berhenti sampai di situ, kelompok yang dibina oleh Rasulullah ini tidaklah menjadi kelompok yang eksklusif yang menutup diri dari orang lain. Pemahaman mereka tentang islam membuat mereka tidak mau tinggal diam menyaksikan kerusakan di setiap sendi kehidupan.

Mereka pun menyebar dan berinteraksi dengan masyarakat luas untuk menjelaskan segala bentuk kerusakan yang tengah mereka hadapi sekaligus juga menawarkan solusi agar kerusakan tersebut segera terangkat dan sirna dari kehidupan mereka. Sebagai langkah perubahan, mereka tidak menawarkan pengobatan gratis bagi mereka yang sakit fisik, melainkan mereka menawarkan pemahaman islam sebagai obat bagi wabah kemusyrikan (yaitu menyembah selain Allah dan berhukum kepada selain hukum Allah).

Mereka tidak menawarkan mie instan agar gerakan mereka diikuti, melainkan menawarkan pemahaman islam sehingga kemudian masyarakat faham dan bergerak bersama mereka menuju perubahan yang hakiki. Kelompok ini tidak hanya bergerak di masyarakat lapisan bawah, melainkan juga bergerak di semua lapisan masyarakat.

Mereka bergerak tidak dengan kekerasan melainkan dengan kejernihan dan kejelasan pemahaman islam, sehingga masyarakat dari berbagai lapisan itu pun menerima kemurnian islam dan merindukan agar kehidupan mereka dalam bermasyarakat dan bernegara dituntun oleh tuntunan hidup yang benar, yaitu islam.

Setelah islam menyatu dengan kehidupan mereka, menuntun setiap sendi kehidupan mereka, maka mereka pun menjadi ummat yang bangkit, berwibawa, bersih dari kotoran ide-ide sesat seperti yang dijajakan oleh Mawar dan kawan-kawannya, dan ummat ini pun menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Dengan metode perubahan seperti ini, insya Allah kita bisa membentengi masyarakat sehingga tidak teracuni ide-ide kapitalis dan sosialis. Dengan mengikuti metode perubahan Rasulullah ini kita bergerak bersama masyarakat menuju kebangkitan yang hakiki. Nah, sekarang, siapa yang mau bareng-bareng saya belajar bikin tahun isi Sumedang ke Mak Erot? (al.)

Rabu, 26 Januari 2011

Kebangkitan Islam


Oleh Adian Husaini

PADA 22 Desember 2010 lalu, saya diminta menjadi pembahas dalam sebuah seminar tentang peradaban Islam di Jakarta Islamic Centre. Diantara pembicara ada Prof. Dr. Azyumardi Azra, mantan rektor UIN Jakarta.

Dalam uraiannya, Prof Azyumardi menyatakan, bahwa peluang kebangkitan Islam lebih besar akan terjadi di Asia Tenggara ketimbang di Timur Tengah. Berbagai alasan dikemukakannya.


Pada sesi pembahasan saya menyampaikan bahwa soal kebangkitan Islam sebenarnya sudah banyak dipaparkan dalam al-Quran. Misalnya, dalam al-Quran Surat Al-Maidah ayat 54. Disitu disebutkan ciri-ciri satu kaum yang dijanjikan Allah yang akan meraih kemenangan: mereka dicintai Allah dan mereka mencintai Allah; mereka saling mengasihi sesama mukmin; mereka memiliki sikap ‘izzah terhadap orang-orang kafir; mereka berjihad di jalan Allah; dan mereka tidak takut dengan celaan orang-orang yang memang suka mencela.

Kaum seperti inilah yang harus mampu dibentuk oleh umat Islam, khususnya lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Hanya saja, saat bicara tentang kebangkitan Islam, maka yang perlu didefinisikan terlebih dahulu adalah apa yang sebenarnya disebut dengan “bangkit”. Sebab, jangan-jangan, makna kata “bangkit” itu sendiri sudah kabur di benak banyak kaum Muslimin.

Seperti kaburnya makna kata “kemajuan”, “pembangunan”, “kebebasan”, dan sebagainya.
Misalnya, negara-negara Barat membuat definsi yang materialistis terhadap makna “kemajuan”. Mereka membagi negara-negara di dunia menjadi negara maju, negara sedang berkembang dan negara terbelakang.

Tentu saja, ukuran-ukuran yang digunakan adalah ukuran kemajuan materi. Faktor akhlak tidak masuk dalam definisi “kemajuan” atau “pembangunan” tersebut. Jadi, jika dikatakan suatu negara sudah maju, maka yang dimaksudkan adalah kemajuan materi, khususnya dalam ekonomi, sains dan teknologi.

Padahal, secara akhlak, negara itu sebenarnya hancur-hancuran.
Kita, kaum Muslimin, yang masih memiliki keimanan dan menjaga akhlak mulia, sudah selayaknya tidak merasa hina dan rendah martabat saat berhadapan dengan dunia Barat yang serba gemerlap dalam dunia materi. Kita sungguh kasihan kepada sebagian pejabat kita yang rela begadang, bersorak-sorai, menghambur-hamburkan uang hanya untuk menyambut pergantian Tahun Baru dalam tradisi Barat.

Mestinya, jika mereka Muslim, mereka mengajak rakyatnya untuk beribadah, mensyukuri setiap tambahan nikmat umur yang mereka terima dari Allah SWT.
Jika kita memiliki kebanggaan akan nilai-nilai dan akhlak kita, maka kita justru akan bersikap sebaliknya. Kita kasihan pada orang-orang sekular – di mana pun -- yang tidak tahu lagi kemana hidup mereka harus diarahkan.

Hidup mereka hanya ditujukan untuk memuaskan syahwat, tidak beda jauh dengan peri hidup binatang. Mereka tidak ingat lagi perjanjian azali dengan Allah, saat berada di alam arwah, bahwa mereka pernah mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, dan mereka adalah hamba Allah. (QS 7:172).


Maka, ketika negara kita diminta mengejar kemajuan, kita melihat, yang lebih difokuskan adalah kemajuan materi, bukan kemajuan akhlak. Padahal, dalam UU Sisdiknas disebutkan, tujuan pendidikan nasional juga mencakup persoalan akhlak. Juga, sesuai lagu “Indonesia Raya”, kita harus membangun jiwa, baru membangun badan/raga.

“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya!” begitu katanya. Tapi, apakah setiap tahun, ada laporan pemerintah kita tentang keberhasilan atau kegagalan membangun jiwa?
Bagi kita, umat Muslim, jika ingin membangun atau membangkitkan sebuah peradaban, maka yang seharusnya dibangun adalah manusia-manusia yang beradab.

Membangun peradaban bukan sekedar bercita-cita merebut kekuasaan. Sebab, untuk sekedar berkuasa yang diperlukan adalah kekuatan, dan tidak harus selalu berbasis pada keilmuan. Bangsa Mongol pernah berhasil merebut kekuasaan di Baghdad, 1215, meskipun mereka sangat rendah ingkat peradabannya.

Pasukan Salib pernah menaklukkan kaum Muslimin yang jauh lebih tinggi tingkat peradabannya.
Sekarang pun, kita menyaksikan, banyak orang di dunia bisa merebut kekuasaan, dengan mengandalkan modal kecantikan, popularitas, dan banyaknya anak buah, meskipun tingkat keilmuan dan akhlaknya sangat rendah.

Jika seorang atau satu kelompok berperadaban rendah tetapi kuat secara fisik dan materi berhasil merebut kekuasaan, maka bisa menimbulkan kerusakan.
Jadi, sekali lagi, dalam merumuskan kebangkitan Islam, yang perlu digariskan adalah makna kebangkitan itu sendiri! Bangkit dalam hal apa?

Barulah setelah itu dirumuskan, bagaimana cara bangkitnya! Sejarah Islam menunjukkan, bahwa kebangkitan umat Islam sebagai sebuah peradaban terjadi saat umat berhasil menghidupkan tradisi ilmu dan menanamkan jiwa cinta pengorbanan. Dua aspek ini pun sebenarnya bukan khas Islam.

Peradaban lain juga harus menempuh jalan yang sama untuk bisa bangkit, yakni membangun tradisi ilmu dan menanamkan semangat pengorbanan.
Kita bisa menyimak kisah-kisah hebat berikut ini, seputar semangat pengorbanan: Alkisah, Imam at-Thabari menceritakan, usai penaklukan kota Madain, datanglah seorang laki-laki kepada para petugas pengumpul harta rampasan perang.

Ia membawa sejumlah harta yang mencengangkan. Petugas bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengambil sebagian untukmu?” Laki-laki itu menjawab, “Tidak, demi Allah!” Jika bukan karena Allah, pastilah harta ini sudah aku gelapkan untukku.” Penasaran dengan jawaban itu, para petugas bertanya lagi, “Siapa nama kamu?”

Dijawab si laki-laki, “Tidak, kalian tidak perlu tahu namaku agar kalian dan orang-orang lain tak memujiku. Aku sudah cukup bersyukur kepada Allah dan puas dengan ganjaran-Nya itu.” Setelah diselidiki, diketahuilah, laki-laki itu bernama Amir bin Abdi Qais.
Sebelum terjadi perang Qadisiah, Panglima Perang Sa’ad bin Abi Waqash mengirimkan utusan bernama Rabi’ bin Amir untuk menemui Jenderal Rustum, panglima Perang Persia.

Rabi’ masuk ke tenda Rustum yang bergelimang kemewahan dengan tetap memegang tombak dan menuntun kudanya. Ketika Rustum bertanya, “Apa tujuan kalian?” Dengan tegas Rabi’ menjawab, “Allah telah mengutus kami untuk membebaskan orang-orang yang dikehendaki-Nya dari penyembahan sesama manusia menuju penyembahan Allah semata, dan membebaskan manusia dari kesempitan menuju kelapangan hidup di dunia, dan dari penindasan berbagai agama yang sesat menuju agama Islam yang menuh keadilan.”


Kita ingat sebuah cerita terkenal, ketika Ja’far bin Abdul Muthalib dan kawan-kawan sedang berada di Habsyah, sejumlah pemuka Quraish juga mengejar mereka. Raja Najasyi diprovokasi untuk mengusir kaum Muslim itu. Kepada Najasyi dan para pendeta Kristen, Amr bin Ash dan Amarah menyatakan, bahwa orang-orang Islam tidak akan mau bersujud kepada Raja.

Ketika kaum Muslim dipanggil menghadap Raja, mereka diperintahkan, “Bersujudlah kalian kepada Raja!”. Dengan tegas Ja’far menjawab, “Kami tidak bersujud kecuali kepada Allah semata.”
Sejumlah cerita tentang kezuhudan dan kegigihan generasi-generasi awal Islam itu diungkap oleh Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi dalam bukunya, “Maa Dzaa Khasiral ‘Aalam bi-inkhithaathil Muslimin." (Terjemah versi Indonesia oleh M. Ruslan Shiddieq, Islam Membangun Peradaban Dunia, Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1988).

Melalui bukunya, Ali an-Nadwi memang ingin menggugah kaum Muslim, bahwa kebangkitan dan kemenangan kaum Muslim hanya akan bisa diraih jika umat Islam memiliki keimanan yang kokoh, dan tidak goyah dengan berbagai godaan dunia.
Dalam risalahnya yang terkenal, Limaadza Taakkharal Muslimun wa-Limaadza Taqaddama Ghairuhum, Syekh Amir Syakib Arsalan juga mengungkap sejumlah perbandingan, mengapa kaum Muslimin bisa dikalahkan oleh bangsa-bangsa Barat di berbagai lini kehidupan.

Salah satu sikap yang menonjol adalah rendahnya sikap rela berkorban kaum Muslim dalam perjuangan. Sebagai contoh, ia mengungkapkan kesetiaan bangsa Inggris terhadap barang-barang produksinya dan toko-tokonya sendiri, walaupun harganya lebih mahal. “Aku pernah mendengar bahwa bangsa Inggris yang ada di daerah jajahannya, mereka tidak suka membeli barang-barang yang diperlukan terutama barang-barang yang berharga, melainkan mereka mesti membeli (pesan) dari negara mereka sendiri…”.


Lebih jauh tentang sebab-sebab kemunduran umat Islam di awal abad ke-20, diuraikan dengan sangat tajam oleh Amir Syakib Arsalan dalam risalah yang ditulisnya menjawab pertanyaan Syekh Muhammad Basyuni Imran, Imam Kerajaan Sambas, dengan perantaraan Muhammad Rasyid Ridha.

Moenawwar Chalil menerjemahkan buku ini tahun 1954 dengan judul Mengapa Kaum Muslim Mundur. (Jakarta: Bulan Bintang, 1954).
Hilangnya semangat berkorban – jiwa, raga, harta, dan sebagainya – di tengah umat Islam bersamaan dengan munculnya sikap cinta dunia (hubbud-dunya).

Sikap ini muncul karena ilmu yang salah, yang melihat dunia sebagai sesuatu yang lebih penting ketimbang kehidupan akhirat. Kapan saja sikap ini muncul, maka umat Islam tidak akan pernah mengenyam kejayaan. Rasulullah saw sudah mengingatkan, umat Islam akan menjadi sampah (buih), ketika sudah terjangkit penyakit “al-wahnu” (hubbud-dunya dan takut mati) dalam diri mereka.


Kecintaan akan pengorbanan tidak mungkin muncul dalam diri seseorang atau masyarakat, jika tidak didahului dengan tumbuhnya tradisi ilmu yang benar di tengah masyarakat. Bisa dikatakan, tidak ada satu peradaban yang bangkit tanpa didahului oleh bangkitnya tradisi ilmu. Tanpa kecuali, peradaban Islam.

Rasulullah saw telah memberikan teladan yang luar biasa dalam hal ini. Di tengah masyarakat jahiliah gurun pasir, Rasulullah saw berhasil mewujudkan sebuah masyarakat yang sangat tinggi tradisi ilmunya. Para sahabat Nabi saw dikenal sebagai orang-orang yang “gila ilmu”.
Bukan hanya itu, tradisi ilmu Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad saw telah melahirkan manusia-manusia unggulan dalam satu ”generasi shahaby” yang belum mampu dicapai oleh peradaban manapun, hingga kini.

Rasulullah saw berhasil mengubah ”masyarakat ummiy” yang hidup dalam tradisi lisan menjadi masyarakat yang cinta ilmu dan tradisi tulis. Tradisi ilmu Islam saat itu pun mampu mengubah masyarakat yang gila minuman keras menjadi masyarakat yang bersih dari ”tradisi teler” hanya dalam tempo beberapa tahun saja.


Memang, peradaban yang dibangun oleh Islam adalah peradaban tauhid, yang menyatukan unsur dunia dan akhirat, aspek jiwa dan raga. Islam bukan agama yang menganjurkan manusia untuk lari dari dunia demi tujuan mendekat kepada Tuhan. Nabi memerintahkan umatnya bekerja keras untuk menaklukkan dunia dan meletakkan dunia dalam genggamannya, bukan dalam hatinya.

Nabi melarang keras sahabatnya yang berniat menjauhi wanita dan tidak menikah selamanya, agar bisa fokus kepada ibadah.
Berbeda dengan jalan pikiran banyak tokoh agama pada zaman itu, Nabi Muhammad saw justru mendeklarasikan: ”Nikah adalah sunnahku, dan siapa yang benci pada sunnahku, maka dia tidak termasuk golonganku.”

Meskipun begitu, Rasulullah saw juga memperingatkan dengan keras: ”Jika umatku sudah mengagungkan dunia, maka akan dicabut kehebatan Islam dari mereka.”
Inilah peradaban Islam: bukan peradaban yang memuja materi, tetapi bukan pula peradaban yang meninggalkan materi. Pada titik inilah, tradisi ilmu dalam Islam berbeda dengan tradisi ilmu dalam masyarakat Barat yang berusaha membuang agama dalam kehidupan mereka.

Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmuwan yang zalim dan jahat harus dikeluarkan dari daftar ulama. Dia masuk kategori fasik dan ucapannya pantas diragukan kebenarannya. Ilmu harus menyatu dengan amal. Inilah yang ditunjukkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, (radhiyallahu ’anhum), Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, dan sebagainya.

Imam Abu Hanifah, misalnya, lebih memilih dicambuk setiap hari, ketimbang menerima jabatan Qadhi negara.
Tradisi ilmu yang tinggi disertai dengan tertatanamnya kecintaan akan pengorbanan untuk meraih cita-cita luhur itulah yang harus diwujudkan di tengah umat Islam, jika umat Islam ingin meraih satu kebangkitan sebagai sebuah peradaban. [Depok, Januari 2011/hidayatullah.com]

Jalan Menuju Allah


Apabila kita melihat kepada segala sesuatu yang bersifat terbatas, akan kita simpulkan bahwa semuanya tidak azali. Jika bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir), tentu tidak mempunyai keterbatasan. Dengan demikian segala yang terbatas pasti diciptakan oleh “sesuatu yang lain”.

Kita telah membuktikan bahwa keberadaan Tuhan itu ialah suatu kepastian. Nah, sekarang, siapakah Sang Pencipta yang tak terbatas tersebut? Bagaimana wujudnya? Apa yang membuatnya ridha dan apa yang membuatnya murka?

Kendati wajib atas manusia menggunakan akalnya dalam mencapai iman kepada Tuhan, namun tidak mungkin ia menjangkau apa yang di luar batas kemampuan indera dan akalnya. Sebab akal manusia terbatas. Terbatas pula kekuatannya sekalipun meningkat dan bertambah sampai batas yang tidak dapat dilampauinya, terbatas pula jangkauannya.

Melihat kenyataan ini, maka perlu diingat bahwa akal tidak mampu memahami zat Tuhan dan hakekat-Nya. Sebab, Tuhan berada di luar alam semesta, manusia, dan kehidupan. Sedangkan akal manusia tidak mampu memahami apa yang ada di luar jangkauannya (alam semesta, manusia, dan kehidupan).

Tetapi bukan berarti dapat dikatakan “bagaimana mungkin orang dapat beriman kepada Tuhan sedang akalnya sendiri tidak mampu memahami zat Tuhan?” Tentu kita tidak mengatakan demikian, karena pada hakekatnya iman itu ialah percaya pada keberadaan Tuhan.

Sedangkan keberadaan-Nya dapat diketahui melalui ciptaan-ciptaan-Nya, yaitu alam semesta, manusia, dan kehidupan. 3 unsur ini berada dalam batas jangkauan akal. Usaha manusia untuk memahami hakekat Tuhan merupakan perkara yang mustahil untuk dicapai.

Sebab, zat Tuhan berada di luar unsur alam semesta, manusia, dan kehidupan. Dengan kata lain berada di luar jangkauan kemampuan akal. Akal tidak mungkin memahami hakekat yang ada di luar batas kemampuannya, karena perannya amat terbatas.

Memang benar, iman kepada adanya Pencipta Yang Maha Pengatur merupakan hal yang fitri pada setiap manusia. Hanya saja, iman yang fitri ini muncul dari perasaan yang berasal dari hati nurani belaka. Cara seperti ini bila dibiarkan begitu saja, tanpa dikaitkan dengan akal, sangtalah riskan akibatnya serta tidak dapat dipertahankan lama.

Dalam kenyataannya, perasaan tersebut sering menambah-nambah apa yang diimani, dengan sesuatu yang tidak ada hakikatnya. Bahkan ada yang mengkhayalkannya dengan sifat-sifat tertentu yang dianggap lumrah terhadap apa yang diimaninya.

Tanpa sadar, cara tersebut justru menjerumuskannya ke arah peribadatan-peribadatan yang tidak jelas asal-usul argumennya dan tidak logis karena tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Entah dengan menyembah benda-benda tertentu, berkeyakinan ini, itu. Mengkhayalkan wujud Tuhan, dan sebagainya.

Oleh karena itu dibutuhkan suatu instrumen yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas tadi. Karena akal kita terbatas, dan Tuhan tidak terbatas, maka jawaban pertanyaan tadi hanya dapat dijawab oleh Tuhan. Sehingga kita hanya bersandar pada jawaban Tuhan.

Kita mengetahui, di kalangan umat bergama ada istilah ‘wahyu’ yang sering diartikan sebagai kabar dari Tuhan. Berhubung acuan wahyu untuk tiap agam berbeda-beda, kita coba cek ke salah satu agama, yaitu Islam (jika membahas ke seluruh agama akan terlalu panjang).

Dalam agama Islam, sumber wahyu yang diyakini ialah al Qur’an. Al Qur’an diyakini oleh orang yang beragama Islam ialah kumpulan wahyu Tuhan yang tetap terjaga dan belum pernah mengalami perubahan sejak pertama kali diturunkan pada Nabi Muhammad.

Sekarang, mari kita buktikan apakah al Qur’an betul-betul wahyu Tuhan. Ada 3 pilihan yang mungkin sebagai sumber al Qur’an. 1) Dari Tuhan, sebagaimana disampaikan oleh Nabi Muhammad; 2) Nabi Muhammad sendiri; 3) Orang arab selain Nabi Muhammad, berhubung al Qur’an yang kita temukan adalah berbahasa arab sejak awalnya.

Nah, kemungkinan nomor 3, dibuktikan salah karena banyak orang arab yang hidup di masa Nabi muhammad tidak mampu membuat hal yang serupa dengan al Qur’an. Kemungkinan nomor 2, juga salah karena nabi Muhammad mengaku tidak membuatnya. Jika dilihat juga gaya bahasa nabi Muhammad dalam ribuan hadis, tidak satupun yang mirip dengan gaya bahasa al Qur’an.

Nah, kemungkinan nomor 1 dibuktikan benar karena kemungkinan 2 dan 3 salah, dan ditambah lagi beberapa pembuktian-pembuktian (ilmiah) yang tidak bisa dibuktikan pada zaman nabi Muhammad, dan baru bisa dibuktikan pada zaman modern. Menunujukkan bahwa isi al Qur’an memang berasal dari suatu zat Maha Tahu dan Maha Kuasa.

Sebagai konsekuensi fitrah kita yang mencari Tuhan, maka setelah membuktikan bahwa al Qur’an adalah jawaban tuhan dari pertanyaan kita, maka kita harus memnuhi segala isi al Qur’an untuk meraih ridha dan menghindarkan dari murka Tuhan kita, Allah azza wa jalla.


Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa

(QS. Al Ikhlash ayat 1)

Minggu, 26 Desember 2010

Jalan Mencari Tuhan


-Apabila kita melihat kepada segala sesuatu yang bersifat terbatas, akan kita simpulkan bahwa semuanya berawal dan berakhir-

Melihat fenomena di muka bumi kita akan mendapati bahwa, seseorang apabila menganut satu agama, maka itulah yang dianggap normal, entah agama apa yang ia anut. Sementara,sebagian orang, mekipun tidak begitu banyak terdata (setidaknya di Indonesia) tidak mengakui adanya agama, yang isinya ritual-seremoni.

Satu pertanyaan, yang biasanya cukup membingungkan bagi yang ditanya. “mengapa anda beragama?”, atau “mengapa anda beragama X?”. Pertanyaan-pertanyaan tadi kebanyakan dijawab dengan tidak tegas, atau jawaban yang paling banyak muncul ialah, “yaa, karena bapak ibu saya juga beragama X”, dan jawaban sejenis.

Jika kita pikir secara mendalam, untuk apa kita beragama (bagi yang beragama), dan kenapa pula ada yang tidak beragama? Dalam tulisan ini penulis hendak membeberkan garis-garis besar tahapan menuju jawaban pertanyaan yang barusan.

Naluri Manusia

Pertama saya akan mengajak Anda berpikir mulai dari level manusia. Kita adalah manusia. Kita sering mendengar istilah “fitrah manusia”. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan “fitrah” itu? Saya sependapat dengan orang yang mengatakan bahwa fitrah ialah potensi yang telah ada pada diri setiap manusia sejak ia lahir.

Di antara fitrah manusia ialah naluri. Naluri manusia salah yang menyebabkan manusia bisa tetap hidup. Berkembang biak itu pun naluri. Makan-minum juga naluri. Berolahraga, mempelajari sesuatu yang baru, bersosialisasi, berkasih sayang, juga naluri.

Nah, lebih detail tentang naluri, salah satu naluri manusia ialah naluri untuk bertuhan, atau naluri untuk mengakui sesuatu yang lebih hebat di antara semuanya.

Ada seorang mahasiswa yang dengan bangganya mengakui bahwa dia adalah seorang ateis. Pada suatu hari, sehabis ujian, dia ditanya oleh salah seorang temannya, “gimana ujian tadi?”. Ia menjawab, “yah, semoga hasilnya bagus”. Tiba-tiba temannya langsung menimpali, “lha, tadi memohon ‘semoga’ sama siapa?”. Si ateis terdiam. Dari sini kita bisa lihat bahwa orang yang mengaku ateis-pun tetap mengakui bahwa ada kekuatan yang maha super yang bisa mengabulkan segala permintaan.

Bukti Ilmiah

Salah satu hal yang menjadi pembenar atas argumen bahwa tuhan itu ada,ialah didasarkan dari adanya hukum-hukum alam. Kita lihat contoh air. Air jika dipanaskan akan mendidih. Pada suhu berapa? Pada tekanan 1 atm akan mendidih pada 373 kelvin.

Kita juga tahu ada yang disebut diagram fasa air, yang menunjukkan fasa air pada suhu dan tekanan tertentu. Sehingga, apabila kita menginginkan fasa air dalam bentuk cair pada suhu 380 kelvin, maka kita tinggal menyesuaikan tekanannya.

Sebenarnya siapa yang membuat diagram fasa tersebut? Yang membuatnya manusia. Dan siapa yang membuat diagram fasa tersebut tetap, tak berubah-ubah? Tentu manusia tidak bisa. Manusia hanya bisa memanfaatkan sifat tersebut.

Sains ada karena manusia. Karena manusia yang mencatat kejadian-kejadian di alam ini, dan manusia merumuskannya sehingga mudah untuk dipahami.

Sekitar bulan September 2010, Stephen Hawking, ilmuwan fisika asal Inggris, merilis buku barunya yang berjudul The Grand Design. Ia mengatakan bahwa,

Alam semesta tercipta tanpa campur tangan Tuhan. Ia menulis Teori M yang dapat menjelaskan penciptaan alam semesta karena adanya hukum gravitasi.

Karena adanya hukum gravitasi, alam semesta bisa dan akan tercipta dengan sendirinya. Penciptaan yang spontan itu adalah alasan mengapa sesuatu itu ada, mengapa alam semesta itu ada, mengapa kita ada.”

Saya hanya mengetahui kabar ini dari teman dan dari berita-berita yang beredar di internet. Sejauh ini yang saya pahami dari pernyataan Hawking ialah, ia menyimpulkan bahwa alam semesta ada karena adanya hukum gravitasi. Padahal gravitasi itu hanyalah hukum alam. Dan ia pun tidak dapat memutuskan siapa/sebenarnya yang merancang hukum alam tesebut.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa eksistensi Tuhan tidak terbantahkan dari sudut pandang ilmiah.

Umat Islam Tidak Toleran?


Oleh Adian Husaini

Pada 1 Juli 2009, Dr. Marwa El-Sherbini, seorang Muslimah yang sedang hamil tiga bulan dibunuh oleh seorang non-Muslim di Pengadilan Dresden Jerman. Dr. Marwa dibunuh dengan sangat biadab. Ia dihujani tusukan pisau sebanyak 18 kali, dan meninggal di ruang sidang.

Dr. Marwa hadir di sidang pengadilan, mengadukan seorang
pemuda Jerman bernama Alex W yang menjulukinya sebagai “teroris” karena ia mengenakan jilbab. Pada suatu kesempatan, Alex juga pernah berusaha melepas jilbab Marwa, Muslimah asal Mesir. Di persidangan itulah, Alex justru membunuh Dr. Marwa dengan biadab. Suami Marwa yang berusaha membela istrinya justru terkena tembakan petugas.

Mungkin karena korbannya Muslim, dan pelakunya warga asli non-Muslim, peristiwa besar itu tidak menjadi isu nasional, apalagi internasional. Tampaknya, kasus itu bukan komoditas berita yang menarik dan laku dijual!

Bandingkan dengan kasus terlukanya seorang pendeta Kristen HKBP di Ciketing Bekasi, akibat bentrokan dengan massa Muslim. Meskipun terjadi di pelosok kampung, dunia ribut luar biasa. Menlu AS Hilary Clinton sampai ikut berkomentar. Situs berita Kristen www.reformata.com, pada 20 September 2010, menurunkan berita: “Menlu AS Prihatin soal HKBP Ciketing”.

Menyusul kasus Ciketing tersebut, International Crisis Group (ICG), dalam situsnya, (www.crisisgroup.org) juga membuat gambaran buruk terhadap kondisi toleransi beragama di Indonesia: “Religious tolerance in Indonesia has come under increasing strain in recent years, particularly where hardline Islamists and Christian evangelicals compete for the same ground.”

Banyak orang Muslim terbengong-bengong dengan fenomena ketidakdilan informasi yang menimpa mereka. Saat menemani Presiden Barack Obama melihat-lihat Masjid Istiqlal, Prof. KH Ali Musthafa Ya’qub menyampaikan titipan kaum Muslim Washington yang sudah tujuh tahun menunggu izin pendirian Masjid. Padahal, tanah sudah tersedia. Izin sudah diajukan dan belum kunjung keluar.

Masalahnya, yang jadi korban Muslim! Mungkin, oleh berbagai pihak, kasus yang menimpa kaum Muslim dianggap bukan komoditas berita yang menarik dan layak jual.

Kasus-kasus penyerangan tempat ibadah dan orang-orang Muslim di dunia Barat sangat melimpah datanya. Kebencian terhadap Muslim meningkat setelah peristiwa 11 September 2001. Berbagai laporan menunjukkan terjadinya vandalisme di banyak masjid dan kuburan Muslim hampir di seluruh Eropa. Pelecehan terhadap Islam seperti dilakukan oleh politisi Belanda Geert Wilders, juga tidak menjadi isu internasional tentang pelecehan Islam.

Pada 12 Februari 2010, Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) menyebarluaskan data perusakan gereja di Indonesia. Kata mereka, hingga awal tahun 2010 telah ada hampir sekitar 1200 buah gereja yang dirusak dan ditutup. Berita ini tersebar ke seluruh dunia.

Fantastis! Ada 1200 gereja dirusak di Indonesia, sebuah negeri Muslim terbesar di dunia! Wajar jika dari ekspose angka itu akan muncul persepsi negatif terhadap Indonesia dan kaum Muslim. Setidaknya, bisa muncul opini, betapa biadab dan tidak tolerannya orang Muslim di Indonesia! Jika kasus satu gereja di Ciketing Bekasi saja sampai ke telinga Hillary Clinton, bagaimana dengan kasus 1.200 perusakan gereja!

Sayang, tidak ada analisis komprehensif dan jujur mengapa dan jenis kerusakan apa yang dialami gereja-gereja itu. Data Badan Litbang Kementerian Agama menunjukkan, pertumbuhan gereja Protestan di Indonesia pada periode 1977-2004, menunjukkkan angka yang fantastis, yakni 131,38 persen. Gereja Katolik lebih fantastis, 152 persen. Sedangkan pertumbuhan rumah ibadah umat Islam meningkat 64,22 persen pada periode yang sama.

Angka pertumbuhan gereja di Indonesia yang fantastis itu mestinya juga diekspose oleh lembaga-lembaga Kristen ke dunia internasional, agar laporan mereka lebih berimbang dan fair terhadap kondisi keberagamaan di Indonesia! Itu jika ada keinginan untuk membangun Indonesia sebagai rumah bersama, agar lebih adil, makmur, dan sejahtera.

Dalam soal toleransi beragama, antara opini dan fakta memang bisa jauh berbeda. Umat Islam sudah kenyang dengan rekayasa semacam itu. Dunia Barat bepuluh tahun tertipu oleh opini yang diciptakan kaum Zionis, bahwa negeri Palestina adalah tanah kosong, tanpa penduduk. Bertahun-tahun banyak orang Barat percaya, bahwa Israel adalah “David” sedangkan negara-negara Arab adalah “Goliath”. Kini, banyak yang sudah terbuka matanya, apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam beberapa kali mengikuti perjalanan jurnalistik ke luar negeri, antara tahun 1996-1997, saya melihat bagaimana masalah Islamisasi di Timtim itu kadangkala diangkat oleh wartawan Barat dalam acara jumpa pers dengan pejabat-pejabat pemerintah RI. Mereka termakan oleh kampanye Uskup Belo selama bertahun-tahun bahwa telah terjadi Islamisasi di Timtim yang antara lain difasilitasi oleh ABRI.

Padahal, fakta bicara lain. Yang terjadi di masa integrasi Timtim dengan Indonesia adalah Katolikisasi! Bukan Islamisasi! Hasil penelitian Prof. Bilver Singh dari Singapore National University, menunjukkan, pada 1972, orang Katolik Timtim hanya berjumlah 187.540 dari jumlah penduduk 674.550 jiwa (27,8 persen). Tahun 1994, jumlah orang Katolik menjadi 722.789 dari 783.086 jumlah penduduk (92,3 persen). Tahun 1994, umat Islam di Timtim hanya 3,1 persen. Jadi dalam tempo 22 tahun di bawah Indonesia, jumlah orang Katolik Timtim meningkat 356,3%. Padahal, Portugis saja, selama 450 tahun menjajah Timtim hanya mampu mengkatolikkan 27,8% orang Timtim.

Melihat pertambahan penduduk Katolik yang sangat fantastis itu, Thomas Michel, Sekretaris Eksekutif Federasi Konferensi para Uskup Asia yang berpusat di Bangkok, menyatakan, “Gereja Katolik di Timtim berkembang lebih cepat dibanding wilayah lain mana pun di dunia.” (Lihat, Bilveer Singh, Timor Timur, Indonesia dan Dunia, Mitos dan Kenyataan (Jakarta: IPS, 1998).

Itu fakta. Tapi, opini di dunia internasional berbeda. Sejumlah kasus Islamisasi di Timtim diangkat dan dibesar-besarkan sehingga menenggelamkan gambar besar kondisi keagamaan di Timtim saat itu.

Ini kepiawaian mencipta opini! Perlu diacungi jempol. Tokoh agama menjalankan fungsinya sebagai juru kampanye, bahwa umatnya tertindas, terancam, dan perlu pertolongan dunia internasional. Dan, kampanye itu menuai hasil yang mengagumkan! Dunia diminta percaya bahwa kaum Kristen terancam dan tertindas di Indonesia; bahwa tidak ada toleransi, tidak ada kebebasan beragama di negeri Muslim ini. Berbagai LSM di Indonesia sibuk mengumumkan hasil penelitian bahwa kondisi kebebasan beragama di Indonesia sangat buruk.

Cara eksploitasi kasus di luar batas proporsinya ini sangat merugikan citra bangsa. Padahal, lihatlah fakta besarnya! Muslim Indonesia sudah terbiasa dengan keberagaman dalam kehidupan beragama. Umat Muslim terbiasa menerima pejabat-pejebat non-Muslim duduk di posisi-posisi penting kenegaraan. Umat Muslim sangat biasa melihat tayangan-tayangan acara agama lain di stasiun televisi nasional. Hari libur keagamaan pun dibagi secara proporsional.

Tengoklah, berapa gelintir orang Muslim yang diberi kesempatan untuk menjadi pejabat tinggi di negara-negara Barat, sampai saat ini. Tengoklah, apakah kaum Muslim di sana bebas mengumandangkan azan, sebagaimana kaum Kristen di Indonesia bebas membunyikan lonceng gereja. Apa ada hari libur untuk kaum Muslim saat berhari raya, sebagaimana kaum Kristen menikmati libur Natal dan Paskah?

Tengoklah pusat-pusat pembelanjaan dan televisi-televisi Indonesia saat perayaan Natal! Apakah kaum Kristen dihalang-halangi untuk merayakan Natal dan hari besar lainnya? Justru yang terjadi sebaliknya. Di Indonesia, sebuah negeri Muslim, suasana Natal begitu bebas merambah seluruh aspek media massa.

Dalam kondisi maraknya ritual Kristen dan Kristenisasi di Indonesia, sungguh suatu “kecerdikan yang luar biasa” dalam bidang teknik pencitraan, bahwa Indonesia dicitrakan sebagai sebuah negeri yang tidak memberikan toleransi beragama kepada minoritas Kristen. Seolah-olah mereka adalah umat yang tertindas dan teraniaya. Adanya kasus-kasus tertentu diangkat dan dieksploitasi begitu dahsyat sehingga Indonesia dicitrakan sebagai negeri yang tidak ada kebebasan beragama.

Tentu, adilnya, jika ingin menikmati kecantikan wajah seorang gadis, lihatlah seluruh wajahnya! Jika hanya satu dua jerawat yang diteropong dan dipelototi habis-habisan, maka wajah cantik itu akan hilang dari pandangan mata!

Kaum Muslim pasti sangat mencintai negeri ini. Muslim pasti mencintai toleransi, kerukunan, dan perdamaian. Hanya saja, tokoh Islam Indonesia M. Natsir, pernah memohon: “…kalaulah ada suatu harta yang kami cintai dari segala-galanya itu ialah agama dan keimanan kami. Itulah yang hendak kami wariskan kepada anak cucu dan keturunan kami. Jangan tuan-tuan coba pula memotong tali warisan ini!”

Kaum Muslim perlu terus mengambil hikmah dan pelajaran dari berbagai kasus yang menimpa mereka. Juga, kaum Muslim, terutama para aktivis dakwah, perlu terus meningkatkan kualitas dan kemampuan dakwahnya, agar mereka tidak mudah dikelabui dan diperdayakan. Toleransi umat Islam di negeri ini tidak dihargai, justru umat Islam dicitrakan sebagai umat yang tidak toleran, padahal secara umum, mereka sudah berbuat begitu baik kepada kalangan non-Muslim dalam berbagai bidang kehidupan. (17 Desember 2010***)

Sabtu, 09 Oktober 2010

Yang Namanya Seni


Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Manusia menciptakan ilmu seni untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memang sangat mencintai keindahan dan keelokan.

Namun, akhirnya manusia menemukan tujuan yang lebih fungsional dari diciptakannya seni, yaitu untuk mempermudah manusia dalam melakukan segala aktivitasnya, sehingga lahirlah apa yang dikenal dengan ilmu desain, yaitu ilmu yang digunakan untuk mendesain suatu barang agar lebih berguna dan lebih elok untuk dipandang.


Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Sehingga seni tidak melulu berhubungan dengan barang-barang karya seni, tapi juga dalam bentuk koreografi dan sajak kata-kata.

Dengan itu, seni pun menjadi alat untuk berekspresi dan mengungkapkan sesuatu dengan cara yang berbeda, ya seperti dengan koreografi ataupun syair. Artinya, seni menjadi bagian dari cara hidup manusia, karena semakin modern, seni menjadi alat untuk berekspresi dan semakin sulit untuk memisahkan kehidupan manusia dengan seni.

Makanya tidak heran kita mengetahui ada semacam motto, " tanpa seni hidup tak akan bermakna".
Seiring dengan semakin modernnya kehidupan, tentunya peradaban dan keberadaban manusia pun harus meningkat, meninggalkan segala jenis ketidakberadaban yang pernah manusia lakukan pada masa sebelum sekarang.

Namun, kenyataan yang sering terlihat sekarang, begitu banyak hal-hal yg justru dalam acuan norma kesopanan dan kesusilaan tergolong tidak baik begitu sering ditampilkan dan diapresiasi dengan sangat baik.
Tidak terhitung entah berapa banyak karya-karya seni yang mengandung unsur pornografi sejenis patung-patung yang dibuat tidak berbusana begitu mudah untuk dibanggakan dan tanpa penentangan dari orang-orang sekitar dipajang untuk menjadi pemandangan umum.

Dengan hanya bermodalkan argumentasi bahwa itu adalah karya seni yang seharusnya diapresiasi. Juga dengan alasan bahwa dunia seni adalah dunia yang tanpa garis yang jelas, semua karya seni adalah benar, tergantung cara pandang.
Jika kita kembali kepada awalnya, bahwa seni juga digunakan untuk berekspresi dan menuangkan gagasan, berarti karya seni yang diproduksi merupakan ekspresi dari gagasan yang ingin disampaikan oleh seorang seniman.

Berarti pula, apabila ada karya seni yang mengandung unsur pornografi, maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa si seniman memang berpikiran jorok. Atau kalo misalkan karya seni itu kita konversi menjadi bentuk kata-kata, maka si seniman sedang mengeluarkan kata-kata jorok.

Bah, di mana keberadaban manusia yang konon katanya adalah makhluk yang bijak?
Belum lagi dengan bermacam-macam kasus tentang tarian erotis di panggung hiburan dan media massa, nyanyian-nyanyian dengan kata-kata vulgar tanpa malu-malu, dan foto model dengan serba aurat terbuka, dengan hanya berargumentasi, "itu karya seni".

Saya tidak mau berpanjang lebar lagi. Yang ingin saya ungkapkan adalah, Seni itu hanyalah ilmu alat/pelengkap untuk memudahkan kehidupan dan berekspresi. Sekadar alat, dan bukan menjadi tujuan hidup manusia. Maka jangan sekali-kali menjadikan seni sebagai tuhan yang bisa membenarkan apapun demi seni itu sendiri. Karena kita telah punya Tuhan Yang Maha Esa.