Minggu, 29 Agustus 2010

Sains Modern


Oleh: Syamsuddin Arif

Kehidupan di muka bumi ini bermula sekitar 3½ miliar tahun yang lalu. Sejak itu pelbagai organisme bersaing satu sama lain untuk bertahan hidup, dengan begitu ber‘evolusi’ menghasilkan aneka ragam spesies baru yang semakin lama semakin canggih. Sampai kemudian muncul spesies baru bernama manusia yang dengan akalnya mulai mencari asal-usul kehidupan. Ribuan bahkan jutaan tahun berlalu tak seorangpun konon berhasil memberi jawaban memuaskan. Baru pada tahun 1735 Carolus Linnaeus dari Swedia menjadi ‘manusia pertama’ yang membuat klasifikasi berdasarkan kemiripan dan memberikan ‘nama saintifik’ bagi tiap-tiap spesies. Dan baru pada tahun 1859 teka-teki biologi tersebut berhasil dipecahkan oleh saintis Inggris bernama Charles Darwin. Manusia, sebagaimana spesies lain, ‘muncul’ (evolved) dengan sendirinya dari proses seleksi alam.

Jika dipikirkan kembali, dongeng evolusi ini tidak hanya sarat dengan khayalan tetapi juga berunsur penghinaan. Pertama, kendati berangkat dari kajian empiris selama pelayarannya di Amerika Selatan, penyimpulan Darwin lebih bersifat dugaan (conjecture) ketimbang kepastian. Dalam konstruk epistemologi Islam, pengetahuan semacam ini disebut zhann atau sangkaan. Validitasnya hanya sedikit lebih tinggi dari keragu-raguan dan kira-kira (wahm). Pengetahuan yang dibangun diatas teori serupa ini tidak sampai derajat yakin. “Mereka sekadar mengikuti sangka belaka, padahal sangkaan itu tidak bisa menggantikan kebenaran,” firman Allah dalam al-Qur’an (53:28). Kedua, cerita evolusi itu juga mengesankan seolah-olah bangsa kulit putih sajalah yang paling hebat. Tak salah jika banyak yang menyebutnya ‘heroisme kolonial’.

Anehnya, khayalan Darwin itu menjelma jadi dogma. “Susah, pak, menolak teori evolusi kalau ingin menjadi ahli biologi sekarang ini,” ujar sahabat saya dari Unibraw, Malang. Ia ibarat rukun iman bagi biolog modern. Tapi justru di sinilah letak persoalannya. Ilmu-ilmu alam (natural sciences) yang kita pelajari dan kita ajarkan kepada siswa dan mahasiswa adalah ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh bangsa-bangsa Eropa sejak 500 tahun terakhir. Mulai dari ilmu-ilmu alam hingga ilmu-ilmu sosial atau humaniora. Tak mungkin dipungkiri, ilmu-ilmu tersebut jelas diwarnai oleh akidah alias Weltanschauung ilmuwan bersangkutan. Secara sadar ataupun tidak, pelbagai disiplin ilmu yang kita konsumsi sekarang ini mengandung unsur-unsur halus naturalisme, materialisme, dan sebagainya.

Tak jauh beda khayalan ilmiah mengenai alam semesta. Konon, kata para saintis, alam semesta ini ‘muncul’ akibat ledakan mahadahsyat (Big Bang) yang terjadi sekitar 13.700 juta tahun silam. Kalau tidak percaya silakan hitung sendiri, kata seorang teman setengah berguyon. Ledakan tersebut melontarkan materi dalam jumlah sangat besar ke segala penjuru. Materi-materi itulah yang mengisi alam semesta ini, yang kemudian dinamakan bintang, planet, debu kosmis, asteroid, meteor, energi, dan sebagainnya. Maka dikhayalkan bahwa alam semesta ini terbentuk dengan sendirinya dan akan terus menerus ada. Gambaran ini jelas memantulkan pandangan materialistis yang menafikan kewujudan Tuhan.

Namun sayang sekali kebanyakan ilmuwan kita seperti tidak berkutik di hadapan sains modern. Jauh dilubuk hati mengakui Allah sebagai pencipta dan berkuasa atas segala sesuatu dari partikel terkecil hingga galaksi dan jagat raya. Tetapi dalam pikiran bertahta saintisme beserta hulu-balangnya. Disaat kaum Muslim berlomba-lomba mengejar mantan penjajah mereka dalam bidang sains dan teknologi, seruan ‘islamisasi’ memang terdengar aneh. Apakah kaum Muslim harus menolak sains modern? Oh, bukan itu maksudnya.

Islamisasi bermula dari kerangka berpikir, ‘worldview’ yang terdiri dari gugusan konsep-konsep Islami berkenaan dengan Tuhan, Wahyu, Nabi, Ilmu dan seterusnya. Ia berfungsi sebagai filter penyaring dan penepis elemen-elemen yang tidak sesuai atau bertolak-belakang dengan konsep-konsep Islami tersebut. Ini karena sesungguhnya cara kerja pikiran kita tak ubahnya bagaikan sistem metabolisme badan. Meminjam ucapan Seyyed Hossein Nasr, penulis buku Science and Civilization in Islam: “Tidak pernah ada sains yang diserap ke dalam sebuah peradaban tanpa penolakan sedikit pun. Mirip dengan tubuh kita. Kalau kita cuma makan saja, tetapi badan kita tidak mengeluarkan sesuatu, maka dalam beberapa hari saja, kita akan mati. Sebagian makanan perlu diserap, sebagian lagi harus dibuang (No science has ever been integrated into any civilization without some of it also being rejected. It’s like the body. If we only ate and the body did not reject anything we would die in a few days. Some of the food has to be absorbed, some of the food has to be rejected).” Artinya, kita hanya perlu bersikap lebih kritis dan selektif terhadap sains modern.

Selasa, 27 Juli 2010

Puisi Taufik Ismail tentang Merokok

Puisi Taufik Ismail

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat menunjuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fakta
mereka ulama ahli hisap
haasaba yuhasibu hisaban
Bukan ahli kitab ilmu falak tapi ahli hisap rokok
Diantara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil sembilan senti panjangnya
putih warnanya
ke mana-mana dibawa dengan setia
Satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang
tampak kebanyakan mereka memang memegang rokok dengan tangan kanan,
Cuma sedikit yang memgang dengan tangan kiri
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamin dan yang sedikit golongan ashabul syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-epul diruangan AC penuh itu
Mammuut tadkhiin ya ustadz laa tasyrabud dukhaan ya ustadz
Kiai ini ruangan ber-AC penuh
Hadziihi al ghurfati maliiatun bi mukayyafii al hawai
Kalau tak tahan diluar sajalah merokok
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadliik ya ustadz
25 penyakit ada di dalam khamr. Khamr diharamkan
15 penyakit ada di dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuhariomu alayhimul khabnaaith
Mohon ini direnungkan tenang-tenang
Karena pada zaman rasulullah dahulu
Sudah ada alcohol; suidah ada babi tapi belum ada rokok
Jadi ini PR untuk para ulama
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan


Berhala-berhala itu sangat berkuasa di negeri kita
Jutaan jumlahnya
Bersembunyi di dalam kantung baju dan celana
Dibuingkus dengan kertas berwarni dan berwarna diiklankan dengan indah dan cerdasnya
Tidak perlu wudhu atau tanyamum untuk mensucikan diri
Dtidak perlu rukuk dan sujud untuk taqorrub pada tuhan-tuhan ini
Karena orang akan dengan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap-asap tuhan ini,
Rabbana beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Senin, 26 Juli 2010

“Gott Ist Tot”?


Oleh Muhammad Syauqi


Prolog

Judul tulisan ini mungkin sangat provokatif bagi orang-orang yang sudah banyak mengkaji agama. Yah, ga perlu yang rutin mengkaji agama ajah sih, yang masih punya kesadaran untuk beribadah meski jarang ikut pengajian juga bisa-bisa ngeluarin golok terus saya langsung dipenggal.. -_-

Ungkapan ini memang sering dinyatakan oleh “Sang Pembunuh Tuhan”. Tapi, kebanyakan orang yang telah antipati duluan terhadap filsafat banyak sekali salah kaprah. Akibatnya, hanya berujung pada fitnah dan salah paham.

Di sini saya ingin membahas suatu kajian filsafat yang sangat populer, dan sangat berani, serta memiliki momen penting dalam perjalanan hidup manusia di seluruh dunia. Yah, motivasinya gara-gara ada senior yang masih salah paham dengan kalimat dalam judul tulisan ini sehingga nanya yang bener emang kayak gimana. Tapi selain itu, saya juga memang lagi senang-senangnya dengan filsafat eksistensialisme.

Pembahasan singkat tentang pemikiran dalam kalimat “Gott Ist Tott” ini pernah saya sampaikan ke anak-anak baru HATI pas lanjutan kajian industri selasa malam pekan lalu. Lumayan, ada yang nyambung juga soalnya dengan pengembangan konsep Industri Islam.

Oke kita mulai saja pembahasannya.

Realita Peradaban Awal Manusia

Sejak peradaban manusia paling pertama, bisa dibilang ada sebuah institusi yang selalu mewarnai jalannya peradaban tersebut. Institusi itu adalah institusi AGAMA. Hampir tidak ada kebudayaan yang ditemukan tidak memiliki intitusi agama. Dan, seringkali institusi agama ini memiliki pengaruh yang sangat besar di masyarakat. Mulai dari Kaisar Aztec yang selalu berkonsultasi dengan shaman sukunya untuk mengatasi bencana, Ratu Mesopotamia yang bersama Pendetanya memimpin persetubuhan berjamaah, Archimides yang memberikan persembahan 100 ekor sapi kepada para dewa setelah dia menemukan ide tentang massa jenis, Pemahkotaan Charlemagne oleh Paus, hingga para Khalifah Islam yang memerintah atas mandat hukum langit (syariat).

Institusi agama telah menjadi sandaran hidup kemanusiaan sejak lama. Pandangan hidup yang paling mendasar dari sebuah peradaban berasal dari institusi-institusi agama ini. Peradaban yang gemilang sejak zaman kuno hingga zaman pertengahan selalu memiliki institusi agama yang menjadi keyakinan dan pandangan hidup masyarakatnya. Di Zaman Kuno (para ahli sejarah membagi sejarah peradaban manusia yaitu sebelum kehancuran Romawi Barat sebagai ‘zaman kuno’), acara-acara besar kenegaraan banyak dilakukan untuk hal-hal yang superstitious. Pejabat Pontifex Maximus memimpin dan mengatur pembangunan kuil-kuil besar di Romawi. Raja dan pendeta mesir membangun pramida-piramida raksasa. Sementara di abad pertengahan, perubahan paling penting yang memiliki pengaruh sejarah sangat besar terjadi akibat konsolidasi yang dilakukan institusi Gereja yang menyerukan orang-orang Eropa bersatu dan menyerbu Holy Land dan merebutnya dari kaum Muslim.

Dari sini dapat dipahami bagaimana di abad-abad tersebut manusia hidup dan beraktivitas sehari-hari dengan kesadaran transendental terhadap Tuhan danAgama. Agama telah menjadi panutan setiap anggota masyarakat dan menjawab setiap permasalahan masyarakat. Manusia memaknai hidup mereka dengan kesadaran transendental ini.

Perkembangan Eropa setelah Abad Pertengahan

Perang Salib membawa perkembangan baru di Eropa. Masyarakat Eropa yang selama ini hidup terkungkung dalam komunitas-komunitas feodal mengenal bahwa terdapat dunia yang luas di luar Eropa dengan peradaban dan ide-ide yang gemilang. Akhirnya semakin berkembanglah ide-ide baru di masyarakat Eropa, mulai dari pemikiran model kosmologi, hingga penjelajahan ke dunia baru. Abad ke-13 sampai abad ke-14 ini, disebut sebagai zaman Rennaisance.

Ide-ide yang baru bagi masyarakat Eropa ini tentu saja juga merupakan ide-ide yang baru bagi institusi yang menjadi panutan mereka: Gereja. Namun pada zaman ini pekembangan ide tersebut tidak membawa penentangan terhadap institusi Gereja. Ide-ide baru yang masuk ke masyarakat Eropa sama sekali tidak mengganggu kesadaran transendental mereka terhadap iman Kristen. Sebaliknya, justru semakin mengembangkan agama dan teologi Kristen itu sendiri. Misalnya, Thomas Aquinas seorang pendeta dan filosof di daerah Italia menyerap filsafat-filsafat Avvicenian Logic untuk mengembangkan filsafat dan teologi Kristen, yang merupakan pengembangan Aristotelian logic oleh para ahli kalam Islam.

Pada abad ke-15 sampai ke-16, dimulailah tanda-tanda di mana Gereja kurang siap dalam menerima perkembangan kemanusiaan di Eropa saat itu. Periode ini sering disebut sebagai zaman Reformasi Gereja. Namun, dalam periode ini pun penentangan yang terjadi tetap tidak mengganggu kesadaran transendental masyarakat Eropa terhadap iman Kristen. Kristen tetap menjadi panutan masyarakat Eropa. Hanya saja, banyak pihak-pihak yang berusaha melakukan reformasi terhadap gereja sehingga muncul aliran-aliran kristen yang memisahkan diri dari supremasi Vatikan, seperti yang dilakukan oleh John Calvin dan Martin Luther. Perkembangan ini terjadi dengan pesat di Inggris dan Jerman.

Aufklärung

Abad ke-17 sampai 18 disebut sebagai Age of enlightenment (bahasa Jerman-nya:Aufklärung). Pada masa ini perkembangan ide dalam masyarakat Eropa semakin kuat sehingga menekan Gereja dan Kristen. Zaman Reformasi Gereja yang melahirkan perpecahan di antara penganut Kristen membawa obat buruk bagi masyarakat Eropa. Peperangan dan kejahatan kemanusiaan terjadi karena perselisihan antar aliran-aliran Kristen ini; pembantaian oleh Raja Luois IV terhadap para penganut Protestan di Perancis, pengusiran orang-orang Katolik dari Inggris.

Selain itu, muncul juga ide-ide yg bertentangan secara frontal dengan teologi gereja. Misalnya, Materialisme dari para filosof Empirisme seperti David Hume. Dan dalam ranah sosial politik, John Milton di Inggris semakin merongrong Otoritarianisme Gereja dan Parlemen. John Locke dalam A Letter Concerning Toleration-nya mengemukakan ide awal sekularisme, bahwa tidak ada institusi keyakinan transendental yang berhak mencampuri kehidupan sipil.

Bisa dikatakan, pada periode ini Kristen dan Gereja semakin kehilangan pengaruhnya sebagai panutan dan makna hidup masyarakat Eropa. Meskipun begitu, masih banyak para filosof dan pemikir yang begitu “sholeh”. Ide-ide yg mereka kembangkan revolusionis. Namun, seperti pada abad awal Rennaisance, ide-ide tersebut mereka gunakan untuk semakin mengokohkan Kristen dan Gereja.

Filosof seperti Descartes tetap teguh pada keyakinan Katolik-nya, meski penguasa Inggris merongrong untuk menghancurkan setiap penganut selain Protestan. Kemudian Immanuel Kant dalam Critique of Pure Reason-nya mengemukakan sebuah argumen yang mungkin anak-anak rohis SMA sering gunakan sebagai argumen seperti: akal manusia terbatas, sedangkan Tuhan tidak terbatas, sehingga Tuhan-lah yang pasti benar. Kira-kira seperti itu yang ada dalam bukunya Kant, bahwa manusia tidak bisa sepenuhnya mengandalkan Empirisme maupun Rasionalisme untuk mencapai akal budi yang sempurna. Hanya yang transenden-lah yang pasti benar.

Filosof lain seperti Hegel mengemukakan ide lain yang agak “menyimpang”, namun sebenarnya dia menekankan supremasi yg transenden.

Titik Balik: Ideologi Versus Kristen

Setelah mengalami Aufklärung, perkembangan kemanusiaan di Eropa menjadi semakin kompleks. Mulai dari revolusi Industri, perkembangan teori-teori Ekonomi, sampai politik pemerintahan. Permasalahan manusia semakin besar dan menjadi-jadi. Perkembangan strata masyarakat akibat kapitalisme mengakibatkan alienasi dan eksploitasi. Kelas borjuis yang menindas kelas proletar melahirkan pemikiran Marxisme.

Dalam keadaan ini, Gereja dan Kristen benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Tradisi politik kuno dalam masyarakat Eropa zaman dahulu semakin ditinggalkan dan digantikan dengan demokrasi dan parlemen. Begitu juga tradisi ekonomi masyarakat feodal kuno semakin ditinggalkan dan digantikan pemikiran-pemikiran Ekonomi Klasik. Kaum Atheis pun bermunculan dan tidak ragu-ragu lagi menonjolkan diri di publik.

Gereja dan Kristen benar-benar sudah habis. Masyarakat Eropa telah mengalihkan makna hidup mereka dari keyakinan transenden kepada Sekularisme, Liberalisme, dan Marxisme. Gereja tidak mampu menjawab permasalah manusia yang semakin berkembang saat itu.

Søren Aabye Kierkegaard yang mungkin merupakan filosof “sholeh” terakhir di masaAufklärung mengungkapkan keadaan ini dengan pernyataan berikut:

I ask: what does it mean when we continue to behave as though all were as it should be, calling ourselves Christians according to the New Testament, when the ideals of the New Testament have gone out of life? The tremendous disproportion which this state of affairs represents has, moreover, been perceived by many. They like to give it this turn: the human race has outgrown Christianity.

Terjemahnya: “Aku bertanya: apa artinya ketika kita terus bersikap seolah-olah semua itu sebagaimana mestinya, menyebut diri kita Kristen berdasarkan Perjanjian Baru, ketika cita-cita Perjanjian Baru telah hilang dari kehidupan? Suatu ketimpangan luar biasa di mana situasi dan peristiwa saat ini telah menunjukkan, yang apalagi, telah banyak dipersepsikan. Mereka ingin menunjukkan perubahan ini: manusia telah melampaui Kristen.

Pengejawantahan Nietzsche

Okeh, kita mulai ke masalah pokoknya.. (udah panjang lebar gini malah baru mau masuk masalah pokoknya.. -_- )

Friedrich Wilhelm Nietzsche adalah seorang eksistensialis seperti Kierkegaard, sehingga fokus filsafatnya adalah eksistensi manusia. Perkembangan Eropa terakhir masa Aufklarung dan ditinggalkannya keyakinan transendental sangat mengganggu batin Nietzsche. Permasalahannya adalah manusia-manusia Eropa yang baru, mereka menyandarkan makna hidupnya pada pemikiran-pemikiran yang berbasiskan materialisme dan tidak ada ruang transenden sedikitpun.

Maka jika demikian, dengan menggunakan pemikiran Kant sebelumnya, dapatkah manusia mendapatkan pemecahan masalah kehidupan dengan sempurna? Dapatkah manusia mencapai akal budi yang paripurna? Bukannya malah yang akan terjadi dalam kehidupan fana ini hanyalah benturan-benturan kepentingan materi yang tidak ada habisnya?

Nietzsche takut dengan menyandarkannya manusia dalam kehidupan fana, masihkah ia menyisakan makna atas hidup manusia? Yang akan terjadi justru manusia akan jatuh kedalam jurang Nihilisme.

Untuk catatan, Nihilisme adalah pemikiran filsafat yang menegasikan setiap makna hidup manusia. Contoh pemikiran Nihilisme: “Buat apa hidup? kalo mati cuman jadi tanah!?” (mungkin ada rekan2 yg pernah mendengar kalimat ini.. -_- )

Oleh karena itu, Nietzsche akhirnya menyimpulkan bahwa mau tidak mau manusia harus memiliki pemecahan kehidupan yang menyelamatkan manusia dari Nihilisme.

Gott Ist Tot

Gott Ist Tot adalah kalimat dalam bahasa Jerman yg jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris artinya adalah “God Is Dead” dan dalam bahasa Indonesia artinya adalah “Tuhan telah Mati”. Seperti yang saya singgung di prolog, kalimat ini terlalu vulgar. Bisa-bisa orang yang mengucapkannya langsung dipenggal oleh orang-orang religius anti-filsafat. -_-

Namun, kesalahan besar jika memahami ungkapan Nietzsche secara harfiah. Dalam usaha menyelamatkan manusia dari Nihilisme, Nietzsche melihat penghalang utama untuk mencapai hal tersebut; yaitu, Kristen itu sendiri. Meski telah ditinggalkan, Kristen tetap menjadi pengejawantahan yang lazim atas keyakinan transendental. Sementara itu, Humanity has outgrown Christianity, Kemanusiaan telah melampaui Kristen. Kristen, meskipun sebuah pengejawantahan keyakinan transendental, tidak bisa lagi mengurus kehidupan manusia. Oleh karena itu, untuk mencapai ranah transendental baru yang bisa menyelamatkan manusia dari Nihilisme, semua teleologi dan teologi kristen harus disingkirkan.

Di sinilah Nietzsche menggunakan ungkapannya untuk mencapai maksud tersebut: Gott Ist Tott. Bahwasannya Tuhan tidak lagi dapat menjadi sumber moral dan teleologi kemanusiaan. Manusia harus menyelamatkan diri dari ke-”fana”-an, dan memulainya dengan menghancurkan Iman kepada Tuhan sebagai konsep Kristen, untuk mencapai ranah transenden yang baru; dan menjadi Übermensch, seorang manusia paripurna yang telah selamat dari Nihilisme.

Jadi, Gott Ist Tott adalah ungkapan Nietzsche yang digunakan untuk menggambarkan kehidupan masyarakat Eropa yang telah meninggalkan keyakinan transendental dalam memaknai hidupnya. Juga sebagai senjata untuk mencapai Übermensch.

Paragraf lengkap yang menjelaskan pemikiran Nietzsche tentang ungkapan ini dalam bukunya Gay Science sebagai berikut:

Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darah kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, apa perlu permainan-permainan suci yang kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu [pembunuh Tuhan]?

Dalam paragraf di atas, Nietzsche ingin menggugat kaum atheis atas pemikiran dan pandangan hidup mereka: bahwa mereka meninggalkan keyakinan transendental, namun tidak memiliki pemecahan kehidupan yang keluar dari nihilistik.

Jadi, secara singkat, filsafat eksistensialisme Nietzsche adalah bahwa manusia yang saat itu telah keluar dari agama (keyakinan transendental) dan menyandarkan hidupnya pada ideologi-ideologi yang berbasiskan ke-”fana”-an (materi), akan kehilangan makna hidupnya. Oleh karena itu, manusia harus mencari konsep transendental baru di luar agama, dan menjadi manusia purna-Übermensch.

Perkembangan Setelah Nietzsche

Bagaimanakah perkembangan kemanusiaan setelah Nietzsche? Apakah manusia telah berhasil menjadi Übermensch?

Nampaknya angan-angan Nietzsche hanya menjadi utopia saja. Bukan kemanusiaan yang menjadi paripurna dan keluar dari nihilistik, tetapi konflik-konflik berbasiskan kepentingan fana (materi) semakin menjadi-jadi. Dua Perang Dunia berlangsung sebagai bencana kemanusiaan terdahsyat. Kematian akibat kelaparan dan pembantaian politik terjadi di Afrika dan Asia. Krisis-krisis ekonomi terus berulang tanpa solusi.

Selain itu, manusia-manusia yang kehilangan motivasi hidupnya, mereka bunuh diri, baik yang kebutuhan hidupnya sekarat maupun berlebih. Orang-orang menjadi sakit jiwa setelah mengalami konflik dalam hidupnya. Bisa dikatakan: manusia benar-benar terjebak dalam nihilistik.

Filosof eksistensialis abad ke-20 seperti Sartre mengungkapkan pemikirannya yang malah cenderung menerima ke-”fana”-an: bahwa kehidupan manusia itu tidak mengandung arti, bahkan tidak masuk akal. Tetapi, manusia dapat hidup dengan aturan-aturan, keluhuran budi, dan keberanian; dan dia dapat membentuk masyarakat. Ini adalah sebuah pemikiran yang menggunakan Materialisme untuk mengatasi Nihilisme itu sendiri, padahal Nietzsche sebelumnya beranggapan bahwa Materialisme hanya mengantarkan kepada Nihilisme.

Ide-ide Nietzsche masih sering diapresiasi khalayak di abad ke-20 ini. Misalnya, majalah Time dalam salah satu sampulnya “Is God Dead?“. Kemuidan, syair lagu dari The Dandy Warhols yg berbunyi, “Aku menginginkan Tuhan yang tetap mati.. bukan yang pura-pura mati..”

Namun, meskipun begitu, kapankah Übermensch dapat diraih? Sehingga manusia terlepas dari ke-”fana”-an?

Penutup

Nietszche telah menjadi guru besar di Basel pada umur 25 tahun. Sepuluh tahun berikutnya dia diberhentikan karena sakit parah. Kemudian, 10 tahun berikutnya ia habiskan dengan menggelandang keliling Italia dan Perancis. Dan 10 tahun berikutnya, dia mengalami sakit jiwa hingga meninggal dunia.

Terlepas dari akhir hidupnya yang cukup memperihatinkan, perkembangan seorang Nietzsche adalah suatu kewajaran dalam kekonyolan. Bagaimana tidak, ketika perkembangan hidup manusia begitu pesat, mulai dari revolusi Industri yang mengubah tatanan sosio-kultur masyarakat, revolusi Politik yang mengubah tatanan kekuasaan di masyarakat, dan revolusi Ekonomi yang mengubah pengelolaan kebutuhan hidup masyarakat, sehingga memunculkan permasalahan-permasalahan kemanusiaan yang begitu pelik dan kompleks. Dan pada keadaan seperti ini, agama Kristen sebagai suatu ranah ilahiyah – yang divine — yang berasal dari Tuhan yang omnipotent, tidak mampu memberikan solusi atas permasalahan manusia yang mortal dan terbatas?

Maka cukup wajar bagi Nietzsche untuk menyingkirkan “Tuhan” yang tidak berguna seperti itu.

Manusia pada akhirnya beralih kepada ideologi-ideologi hasil pemikiran mortal mereka. Dan dengan ideologi-ideologi tersebut, mereka menjalankan dan memaknai kehidupan mereka dalam ke-”fana”-an, yang akhirnya menjebak mereka dalam konflik-konflik materi yang tidak ada habisnya, yang menggulirkan masalah-masalah baru yang tidak pernah bisa diselesaikan. Meskipun begitu, kehidupan manusia yang telah melepaskan dirinya dari ikatan transendental (ilahiyah) ini telah dianggap sebagai kehidupan yang maju dan modern.

Itulah perkembangan kemanusiaan yang berpusat pada perkembangan masyarakat Eropa.

Lantas bagaimana dengan Umat Islam? Sayangnya, ketika agama Kristen semakin kehilangan supremasinya, umat islam malah semakin menjauh dari agama mereka sendiri. Mereka tidak lagi mencari penyelesaian masalah mereka dari sumber-sumber agama mereka, dikarenakan kebodohan mereka sendiri. Umat Islam pun secara resmi meninggalkan ikatan transendental-nya dengan keruntuhan khilafah.

Sehingga, pada akhirnya terjadilah anggapan umum di masyarakat yg men-generalisasi ketidakberdayaan “Tuhan”. Seringkali kita mendengar bahwa menerapkan syari’at maka kembali ke zaman batu. Padahal, apakah benar demikian adanya?

Kita lihat lagi krisis finansial global tahun 2009. Ketika pemikiran-pemikiran ekonomi manusia tidak mampu menyelesaikan permasalahan mereka sendiri, lalu surat kabar Vatikan L'Osservatore Romano merekomendasikan dunia untuk mengadopsi sistem keuangan Islam. Terlihat dari institusi-institusi keuangan syariah yang tidak terpengaruh oleh krisis tersebut.

Dari fakta tersebut, apakah memang Islam tidak mampu memberikan solusi atas kemanusiaan? APAKAH AJARAN ALLAH DAN RASULNYA SAW. TELAH USANG??

Orang-orang boleh mengatakan Humanity has outgrown Christianity, TAPI JANGAN BAWA-BAWA ISLAM! HUMANITY HAS NOT OUTGROWN ISLAM!! [baca sambil teriak2 orasi.. ^.^ ]

Tidak satupun orientalis yang telah berhasil men-desakralisasi-kan Al-Qur’anKalamullah. Tidak satupun karya-karya manusia yang menyerupai barisan ayat-ayat Al-Qur’an. Maka, BAGAIMANA MUNGKIN KEMANUSIAAN TELAH MELAMPAUI ISLAM?! [orasi lagi.. ^^ ]

Oleh karena itu, di sinilah tugas teman-teman HATI (khususnya, -red.) untuk meluruskan anggapan masyarakat: bahwa salah besar jika agama tidak memiliki ide atas perkembangan kemanusiaan yang modern. ISLAM-LAH YANG AKAN MENYELAMATKAN KEMANUSIAAN! [orasi lagi..]

Orang-orang mungkin akan merasa aneh jika mendengar “Sistem Industri Islam”; “Hah, ada gituh? Macam apa pula itu??,” seperti itu mungkin gumam mereka. Tapi, kita perlu menunjukkan kepada orang-orang bahwa anggapan mereka itu salah besa. Dengan izin Allah, kita akan mengembalikan kemanusiaan dari ideologi-ideologi kufur yang menafikkan ranah transendental, kepada petunjuk dan ajaran dari Allah dan Rasul-Nya Saw.

SELAMAT BERJUANG!

(Sumber: milis HATI ITB)

Sabtu, 24 Juli 2010

Suara Rakyat = Suara Tuhan atau Suara Setan?

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al A'raaf: 96)

“VOX POPULI VOX DEI”. Ungkapan dari bahasa latin yang berarti “Suara rakyat adalah suara Tuhan” ini sering muncul ketika masa-masa menjelang dan sesudah pemilihan umum.

Ungkapan tersebut sring digunakan untuk menjustifikasi hasil pemilihan umum, agar siapapu yang terpilih melalui mekanisme pemilihan umum haruslah diterima dengan lapang dada, karena dia dipilih oleh rakyat, sedangkan pilihan rakyat adalah pilihan Tuhan.

Bagi para pendukung fanatik demokrasi, ungkapan itu dianggap benar seratus persen, meski mereka tak pernah tahu ‘nabi’ mana yang mengeluarkan sabda demikian.

Bagi kita ummat Islam, tidak ada keharusan sama sekali utnuk membenarkan dan mempercayai ungkapan itu. Sebab kalimat itu tidak datang dari Allah dan Rasulullah. Tetapi juga tidak ada keharusan untuk menolaknya. Karena kalimat itu bisa benar dan bisa salah, tergantung bagaimana performa rakyat yang memberikan suara itu.

Jika rakyat negeri ini adalah rakyat yang melek politik, serta sungguh-sungguh beriman dan bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seperti yang Allah gambarkan dalam ayat al Quran tersebut di atas, tentu Allah tidak segan-segan utnuk menuntun mereka memilih pemimpin yang terbaik. Mereka tidak mempan ditipu dan disuap oleh politisi busuk. Jika kondisi rakyat kita seperti itu, bolehlah kalau dikatakan suara rakyat senada dengan suara Tuhan.

Masalahnya, negeri ini juga dihuni oleh rakyat yang jahiliyah dan buta politik. Di dalam kelompok ini ada koruptor, penipu, pencoleng, perampok, pezina, pemabuk, penindas, pemeras, dan sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang selama ini melupakan Tuhan dalam hidupnya. Mereka adalah pengikut-penikut setan dan hamba politisi busuk. Mana sudi Allah ‘menitipkan’ suaranya pada rakyat yang jahiliyah seperti itu? Justru suara setanlah yang sesungguhnya berada di balik suara mereka.

Karena itu, jika rakyat Indonesia masih mempercayai sistem demokrasi, maka menjadi agenda penting bagi kita untuk terus berusaha mencerdaskan rakyat serta meningkatkan keimanan dan ketakwaannya. Karena hanya dengan begitu suara rakyat bisa merepresentasikan suara Tuhan, bukan suara setan.

Jumat, 23 Juli 2010

Pembahasan Mengenai Gunung dalam Al quran

Secara eksplisit, kitab suci al Quran menyebut kata gunung, baik jamak ataupun tunggal sebanyak 39 kali. Dan secara jelas diartikan sebagai stabilisator lapisan kulit bumi sebanyak dalam 10 pernyataan lainnya. Ada ayat-ayat yang secara metaforis menekankan pada massa gunung, ketinggian, dan sifat pasif dan padatnya. Seperti berikut:

Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah balasan makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu amat besar sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya. (QS. Ibrahim: 46)

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. (QS. Al Israa': 37)

hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, (QS. Maryam: 90)

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. Al Ahzab: 72)

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (QS. Al Hasyr: 21)

Dari beberapa kutipan ayat di atas, kita melihat bahwa gunung banyak kali dijadikan sebagai obyek perumpamaan untuk menjelaskan wahyu Allah azza wa jalla kepada manusia. Maka, hendaklah bagi umat manusia yang mempelajari gunung, tidak hanya memahami hakikat fisik dari gunung itu sendiri, tapi juga memahami hikmah dari aspek spiritual dari diciptakannya gunung.

Ilmu geologi mempelajari bagian padat bumi, mulai dari permukaan sampai sekitar beberapa kilometer ke bawah. Gunung, dalam pandangan ilmu geologi dianggap sebagai obyek yang paling komplet utnuk mempelajari berbagi macam proses alamiah bumi dalam satu tempat. Dari gunung, utamanya gunung api, seorang yang belajar geologi dapat menemukan konsep geologi mulai dari aspek mineralogi (di gunung api-lah batuan beku banyak ditemukan), tektonik lempeng (gunung api terbentuk di batas-batas lempeng tektonik), sejarah bumi (punggungan dasar samudera merekam bukti pembalikan medan magnet bumi), dan prinsip kestabilan kulit bumi (prinsip isostasi).

Menurut Zaghlul Raghib Muhammad al Najjar, dalam 12 pernyataan berbeda, kitab suci al Qur’an (yang pada dasarnya merupakan buku petunjuk) menguraikan konsep geologi dasar gunung sebagai berikut:

1. bahwa gunung tidak saja merupakan peninggian yang terlihat pada permukaan bumi, tetapi perpanjangannya ke bawah di dalam lapisan kulit bumi (dalam bentuk tiang pancang atau pasak) sangatlah ditekankan.

Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?, (QS. An Naba': 6-7)

2. dalam 10 ayat lainnya kitab suci al Quran menekankan peranan gunung sebagai stabilsator permukaan luar bumi (atau lapisan kulit).

Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. (QS. Al Hijr: 19)

Dan dalam ayat-ayat lain (13:3; 16:15; 21:31; 27:61; 31:10; 41:10; 50:7; 77:25-27; 79:30-33)

Untuk menegaskan fungsi gunung sebagai stabilisator bumi, Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda:

“Ketika Allah menciptakan bumi, permukaannya mulai bergerak dan bergoyang, kemudian Allah menstabilkannya dengan gunung-gunung.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad/124)

3. pada ayat ke-12 dari kelompok ini, kitab suci al Quran menyuruh manusia agar merenungkan seluruh fenomena yang Allah ciptakan, termasuk bagaimana gunung disusun. Pemikiran tersebut telah mengantarkan pada konsep isostasi yang menjelaskan gunung dapat berdiri di permukaan bumi.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (QS. Al Ghaasyiyah: 17-20)

4. dalam pernyataan lain, al Quran melukiskan gunung terdiri dari garis-garis putih dan merah yang beraneka ragam dan ada pula yang hitam pekat.

Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada pula yang hitam pekat. Dan demikian pula di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya dan jenisnya. Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Faathir: 27-28)

Ini barangkali merujuk pada gunung api kontinental, yang sebagian besar terdiri dari batuan granit dan andesit yang dominan bercorak merah dan putih abu-abu. Maupun gunung api di punggungan dasar samudera yang dominan tersusun oleh batuan basltik yang berwarna gelap. Masing-masing jenis gunung ini memiliki kekhasan dalam susunan mineraloginya, demikian pula asal usul spesifiknya.

5. dalam kelompok terakhir ayat ini, al Quran menggarisbawahi, bahwa gunung bukan suatu tubuh yang diam, tapi juga ikut bergerak mengikuti dinamika bumi yang dikendalikan oleh mekanisme tektonik lempeng.

Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. An Naml: 88).

Rabu, 14 Juli 2010

Penggaris Visi


Kadang-kadang saya merasa ada ganjalan dalam hati kalau sedang tidak dalam kondisi yang prima untuk menjalani hidup. Perasaan yang muncul biasanya berupa rasa malas, lesu, loyo, tanpa motivasi sama sekali untuk bekerja, mengerjakan apapun yang baik. Selalu ingin lari dari kondisi sepeti ini, tapi sangat sulit. sulit sekali.

Hingga akhirnya saya teringat dengan satu statemen sesorang dalam sebuah wawancara, kurang lebih:
"...Bom ‘syahid’ itu belum bisa masuk dalam kerangka berpikir saya, tapi saya mendoakan mujahid yang benar-benar berjihad karena mencintai Allah dan sesalah-salahnya mereka saya tetap kagum karena mereka lebih mencintai kematian ketimbang kehidupan (asal bukan untuk melarikan diri dari hidup, ya)..."

Ya, saya menemukan sesuatu yang sangat mahal dalam statemen itu. Jauh lebih mahal daripada HP yang termahal di dunia yang mahalnya melebihi mobil BMW seri 3. Saya yakin.. Semua yang manusia lakukan dalam hidupnya haruslah hanya menhgarap ridonya Allah. Tidak ada yang lain. Persetan dengan apa kata orang lain. Persetan dengan apa kata makhluk Allah yang jelas-jelas lemah tak berdaya. Karena semua hanya untuk Allah. Untuk Allah!! Tiada yang lain.

La Ilaaha Illallah...

Sebab manusia memang diciptakan pada dasarnya hanya untuk menjadi hamba yang benar-benar menghamba pada Allah..

Ya Allah luruskanlah hati ini untuk melakukan segala sesuatu hanya untuk mencari ridomu
Aaamiin

Minggu, 07 Maret 2010

Allah Mengajak Manusia Untuk Berpikir Bahwa Seluruh Alam Semesta Telah Diciptakan Untuk Manusia


"Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Al-Jaatsiyah, 45: 13)

"Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl, 16: 11-17)

"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya)." (Qs. An-Nahl, 16: 12)

"Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (meningat Allah)." (QS. Qaaf, 50: 6-8)


Sumber: Buku Bagaimana Seorang Muslim Berfikir. Tulisan Harun Yahya (Adnan Oktar)

Allah Mengajak Manusia Untuk Memikirkan Nikmat-Nikmat Yang Mereka Miliki


"Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir." (QS. Ar-Ra‘d, 13: 3-4)


Sumber: Buku Bagaimana Seorang Muslim Berfikir. Tulisan Harun Yahya (Adnan Oktar)

Allah Mengajak Manusia Untuk Memikirkan Sifat Kehidupan Dunia Yang Sementara


"Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, diantaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya adzab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir." (QS. Yuunus, 10: 24)

"Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya." (QS. Al-Baqarah, 2: 266)


Sumber: Buku Bagaimana Seorang Muslim Berfikir. Tulisan Harun Yahya (Adnan Oktar)

Allah Mengajak Manusia Untuk Memikirkan Tentang Penciptaan Alam Semesta


"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. Al-Baqarah, 2: 164)


Sumber: Buku Bagaimana Seorang Muslim Berfikir. Tulisan Harun Yahya (Adnan Oktar)

Ketika Dalam Perjalanan…


Setelah bangun tidur dan bersiap-siap di pagi hari, orang-orang kemudian berangkat ke kantor, sekolah atau melakukan pekerjaan mereka di luar rumah. Bagi orang yang beriman, keberangkatan ini adalah awal dari melakukan amal kebaikan yang mendatangkan ridha Allah. Ketika meninggalkan rumah dan bepergian ke luar, seseorang akan menjumpai banyak hal yang dapat ia pikirkan, misalnya ribuan manusia, kendaraan, pohon, besar dan kecil, dan beragam hal yang terdapat di banyak tempat. Dalam hal ini, pandangan orang yang beriman sudah jelas, yakni bahwa ia berusaha untuk mendapatkan sebanyak mungkin manfaat dari yang ia jumpai di sekelilingnya. Ia memikirkan tentang sebab-sebab dari peristiwa-peristiwa yang ada. Karena apa yang sedang ia saksikan terjadi dengan pengetahuan dan kehendak Allah, maka pasti ada sebuah makna di balik peristiwa atau pemandanga itu. Karena Allah lah yang memampukannya untuk pergi ke luar rumah serta meletakkan semua pemandangan ini di depan matanya, maka sudah pasti dari pemandangan-pemandangan tersebut ada yang mesti dilihat dan dipikirkan. Sejak bangun tidur, ia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya umur satu hari lagi di dunia yang dapat digunakannya sebagai modal untuk mendapatkan pahala dari Allah. Kini, ia tengah memulai perjalanan yang dapat mendatangkan pahala baginya. Menyadari hal ini, ia teringat akan firman Allah: "Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan", (QS. An-Naba’, 78 :11). Berpedomankan ayat tersebut, ia membuat rencana tentang bagaimana menghabiskan waktunya di siang hari dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak hanya bermanfaat untuk orang lain akan tetapi juga mendatangkan ridha Allah.

Ketika berada dalam mobilnya atau di atas kendaraan apapun dengan pola pikir yang demikian, ia pun kembali bersyukur kepada Allah. Tidak menjadi masalah, betapapun jauhnya jarak perjalanan yang harus ia tempuh, ia masih memiliki sarana untuk pergi ke sana. Untuk memudahkan manusia, Allah telah menciptakan beragam sarana transportasi untuk membantu manusia dalam melakukan perjalanan. Bahkan kemajuan teknologi saat sekarang telah menyediakan sarana transportasi baru berupa mobil, kereta api, pesawat terbang, kapal laut, helikopter, bus…Ketika merenungkan hal ini, seseorang akan kembali teringat: Allah lah yang telah menciptakan teknologi untuk membantu manusia.

Setiap hari, para ilmuwan membuat penemuan-penemuan dan inovasi-inovasi baru yang dapat memudahkan hidup kita. Mereka menghasilkan ini semua melalui sarana yang diciptakan Allah di bumi. Seseorang yang memikirkan tentang masalah tersebut akan menikmati perjalanannya sambil bersyukur kepada Allah atas kemudahan yang diberikan kepadanya.

Dalam perjalanan menuju tempat tujuan, ia menyaksikan tumpukan sampah dengan bau yang tak sedap, tempat-tempat kumuh di sepanjang jalan. Hal ini menimbulkan beragam pikiran dalam benaknya:

Ketika masih berada di dunia, Allah telah memberikan informasi kepada kita yang membantu kita memperoleh gambaran tentang surga dan neraka; atau mengira-ngira keadaan kedua tempat ini dengan menggunakan perbandingan. Tumpukan sampah, bau yang tidak sedap dan daerah-daerah kumuh dapat menimbulkan stres atau tekanan dalam jiwa seseorang. Tak seorangpun ingin tinggal di tempat tersebut. Keadaan ini mengingatkan seseorang tentang neraka dan ayat-ayat yang mengisahkan neraka. Di banyak ayat-ayat Al-Qur'an Allah telah menceritakan segala sesuatu yang tidak menyenangkan, gelap serta menjijikkan tentang neraka:

Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu?

Dalam (siksaan) angin yang amat panas, dan air panas yang mendidih,

dan dalam naungan asap yang hitam.

Tidak sejuk dan tidak menyenangkan. (QS. Al-Waaqi’ah, 56:41-44)

"Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan. (Akan dikatakan kepada mereka): "Jangan kamu sekalian mengharapkan satu kebinasaan, melainkan harapkanlah kebinasaan yang banyak" (QS. Al-Furqaan, 25:13-14)

Dengan memikirkan ayat-ayat di atas, orang tersebut berdoa agar Allah menjauhkannya dari siksa neraka dan mengampuni segala kesalahannya.

Sebaliknya, seseorang yang tidak menggunakan cara berpikir yang demikian akan menghabiskan waktunya dengan menggerutu, kesal dan selalu mencari kambing hitam dari setiap permasalahan. Ia marah sekali kepada orang-orang yang menumpuk sampah tersebut dan pihak pemerintahan daerah setempat yang terlambat untuk mengumpulkan dan membuangnya. Sepanjang hari pikirannya disibukkan dengan hal-hal seperti: jalan raya yang penuh dengan lubang; orang-orang yang menyebabkan lalu lintas macet; badannya yang basah kuyup kehujanan akibat ulah badan meteorologi yang salah dalam memperkirakan cuaca; cemoohan kasar dari bossnya, dan lain sebagainya. Namun, pikiran yang sia-sia ini tidaklah bermanfaat dalam kehidupan akhiratnya nanti. Seseorang mungkin berhenti sejenak kemudian berpikir apakah ia seharusnya menghiraukan banyak hal. Sungguh, banyak orang mengatakan bahwa alasan utama yang mencegah mereka dari berpikir adalah segala kesibukan yang mengharuskan mereka bekerja keras terus-menerus di dunia. Mereka berdalih bahwa mereka tidak mampu berpikir karena sibuk dengan masalah pangan, perumahan dan kesehatan. Akan tetapi ini hanyalah sekedar alasan untuk mengelak. Tanggung jawab dan kondisi tersebut tidak ada hubungannya dengan berpikir sebagaimana yang dikehendaki di sini. Seseorang yang berusaha untuk berpikir dalam rangka mencari ridha Allah akan mendapatkan pertolongan dari Allah. Ia akan melihat bahwa, seiring dengan bergantinya hari, beragam persoalan yang biasanya menjadi masalah baginya satu demi satu terselesaikan; hingga ia dapat meluangkan waktu untuk berpikir dan berpikir lagi. Hanya orang-orang yang beriman sajalah yang sadar, paham dan mengalami hal yang demikian.


Sumber: Buku Bagaimana Seorang Muslim Berfikir. tulisan Harun Yahya (Adnan Oktar)

Seseorang Dapat Berpikir Kapanpun Dan Di Manapun


Berpikir tidaklah memerlukan waktu, tempat ataupun kondisi khusus. Seseorang dapat berpikir sambil berjalan di jalan raya, ketika pergi ke kantor, mengemudi mobil, bekerja di depan komputer, menghadiri pertemuan dengan rekan-rekan, melihat TV ataupun ketika sedang makan siang.

Misalnya: di saat sedang mengemudi mobil, seseorang melihat ratusan orang berada di luar. Ketika menyaksikan mereka, ia terdorong untuk berpikir tentang berbagai macam hal. Dalam benaknya tergambar penampilan fisik dari ratusan orang yang sedang disaksikannya yang sama sekali berbeda satu sama lain. Tak satupun diantara mereka yang mirip dengan yang lain. Sungguh menakjubkan: kendatipun orang-orang ini memiliki anggota tubuh yang sama, misalnya sama-sama mempunyai mata, alis, bulu mata, tangan, lengan, kaki, mulut dan hidung; tetapi mereka terlihat sangat berbeda satu sama lain. Ketika berpikir sedikit mendalam, ia akan teringat bahwa:

Allah telah menciptakan bilyunan manusia selama ribuan tahun, semuanya berbeda satu dengan yang lain. Ini adalah bukti nyata tentang ke Maha Perkasaan dan ke Maha Besaran Allah.

Menyaksikan manusia yang sedang lalu lalang dan bergegas menuju tempat tujuan mereka masing-masing, dapat memunculkan beragam pikiran di benak seseorang. Ketika pertama kali memandang, muncul di pikirannya: manusia yang jumlahnya banyak ini terdiri atas individu-individu yang khas dan unik. Tiap individu memiliki dunia, keinginan, rencana, cara hidup, hal-hal yang membuatnya bahagia atau sedih, serta perasaannya sendiri. Secara umum, setiap manusia dilahirkan, tumbuh besar dan dewasa, mendapatkan pendidikan, mencari pekerjaan, bekerja, menikah, mempunyai anak, menyekolahkan dan menikahkan anak-anaknya, menjadi tua, menjadi nenek atau kakek dan pada akhirnya meninggal dunia. Dilihat dari sudut pandang ini, ternyata perjalanan hidup semua manusia tidaklah jauh berbeda; tidak terlalu penting apakah ia hidup di perkampungan di kota Istanbul atau di kota besar seperti Mexico, tidak ada bedanya sedikitpun. Semua orang suatu saat pasti akan mati, seratus tahun lagi mungkin tak satupun dari orang-orang tersebut yang akan masih hidup. Menyadari kenyataan ini, seseorang akan berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri: "Jika kita semua suatu hari akan mati, lalu apakah gerangan yang menyebabkan manusia bertingkah laku seakan-akan mereka tak akan pernah meninggalkan dunia ini? Seseorang yang akan mati sudah sepatutnya beramal secara sungguh-sungguh untuk kehidupannya setelah mati; tetapi mengapa hampir semua manusia berkelakuan seolah-olah hidup mereka di dunia tak akan pernah berakhir?"

Orang yang memikirkan hal-hal semacam ini lah yang dinamakan orang yang berpikir dan mencapai kesimpulan yang sangat bermakna dari apa yang ia pikirkan.

Sebagian besar manusia tidak berpikir tentang masalah kematian dan apa yang terjadi setelahnya. Ketika mendadak ditanya,"Apakah yang sedang anda pikirkan saat ini?", maka akan terlihat bahwa mereka sedang memikirkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak perlu untuk dipikirkan, sehingga tidak akan banyak manfaatnya bagi mereka. Namun, seseorang bisa juga "berpikir" hal-hal yang "bermakna", "penuh hikmah" dan "penting" setiap saat semenjak bangun tidur hingga kembali ke tempat tidur, dan mengambil pelajaran ataupun kesimpulan dari apa yang dipikirkannya.

Dalam Al-Qur'an, Allah menyatakan bahwa orang-orang yang beriman memikirkan dan merenungkan secara mendalam segala kejadian yang ada dan mengambil pelajaran yang berguna dari apa yang mereka pikirkan.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Aali ‘Imraan, 3: 190-191).

Ayat di atas menyatakan bahwa oleh karena orang-orang yang beriman adalah mereka yang berpikir, maka mereka mampu melihat hal-hal yang menakjubkan dari ciptaan Allah dan mengagungkan Kebesaran, Ilmu serta Kebijaksanaan Allah.


Sumber: Buku Bagaimana Seorang Muslim Berfikir. Tulisan Harun Yahya (Adnan Oktar)